Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

UN Jujur vs Jiwa Corsa | Tuan Guru

Masih segar dalam ingatan kita kasus yang melanda Muhammad Abrary Pulungan yang melaporkan kecurangan Ujian Nasional (UN) di sekolahnya, SD Negeri 06 Petang, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, dua tahun lalu atau tepatnya Mei 2011. Ia dan beberapa temannya disuruh oleh salah satu gurunya membuat kesepakatan saling membantu memberikan jawaban soal saat ujian. Dalam kesepakatan tertulis itu, para siswa dilarang memberi tahu siapa pun, termasuk orangtua. Akibat tindakannya, Abrar dimarahi dan dimusuhi teman-teman di sekolah.

Kasus yang sama juga dialami Alif, siswa SD Negeri Gadel 2, Tandes, Surabaya yang melaporkan kecurangan UN di sekolahnya. Alif juga diminta guru memberikan jawaban soal UN kepada temannya yang tidak tahu. Ketika kasus ini merebak, keluarga Alif diusir warga dari rumahnya karena tidak suka dengan kejujuran Alif. Alif dan keluarganya pun dituding sok jujur oleh guru, orang tua siswa lain, hingga masyarakat sekitar tempat tinggalnya.

Upaya orang tua Abrar dan Alif mencari kebenaran dan keadilan tak membuahkan hasil hingga hari ini. Meski pemerintah daerah melalui dinas pendidikan telah membentuk tim investigasi, hasilnya tetap nihil. Mereka telah mengadu ke berbagai lembaga bantuan hukum dan berbagai organisasi pejuang hak anak untuk meminta perlindungan, namun sampai detik ini tidak ada kabar.

Perjuangan Abrar dan Alif menjadi contoh perjuangan segelintir orang jujur yang kandas dilibas oleh suatu kekuatan maha besar. Kekuatan tersebut terdiri dari orang-orang yang terusik karena kejujuran Abrar dan Alif. Kekuatan tersebut memiliki jiwa corsa yang tinggi, yaitu semangat kebersamaan untuk meluluskan seluruh siswa dalam UN meski melalui praktek kecurangan.

Jiwa corsa lulus 100% tumbuh berkembang sejak ditetapkannya UN sebagai penentu kelulusan siswa. Di kalangan siswa, jiwa corsa mulai ditanamkan sejak dini. Melalui pembelajaran coperative learning, rasa kebersamaan dibangun melalui kerja kelompok. Keberhasilan dinilai ketika semua anggota kelompok mendapat nilai lulus. Oleh karena itu tidak ada siswa yang ingin melihat temannya gagal dalam UN.

Jiwa corsa sekolah dengan orang tua siswa dipupuk saat sosialisasi menjelang UN. Sementara di kalangan pengawas ruang, jiwa corsa dikembangkan pada rapat koordinasi antar kelompok penyelenggara UN. Kesemuanya menghasilkan satu tekad bersama yakni membantu siswa agar lulus UN. Dukungan Dinas Pendidikan Kab/Kota dan pemerintah daerah yang melihat kelulusan UN sebagai prestasi politis juga turut memperbesar jiwa corsa.

Dengan demikian kebocoran dan kecurangan UN akan selalu terjadi meski pemerintah membuat 20 paket soal atau 100 paket sekalipun. Kecurangan tetap berlangsung dengan aman, lancar dan terkendali. UN jujur hanya isapan jempol belaka. Suara-suara kritis agar melaksanakan UN jujur seperti suara sumbang dalam tim koor yang kompak.

Bangsa ini berharap akan lahir lebih banyak Abrar dan Alif baru. Ayo, laporkan kecurangan UN, hantam jiwa corsa!

——- Tuan Guru ——-

Artikel Terkait
  Nak, Belajarlah dari TNI, bukan pada Politisi !
  Guru Profesional adalah Guru yang Pintar Sulap
  Penerapan Sistem Barcode Tingkatkan Kemunafikan Siswa
  Mendidik Anak Mengenal Ilmu Gaib
  Haruskah Siswa Lulus 100% dalam UN?
  Sulitnya Guru Punya Rumah Idaman
  Evaluasi Bukan untuk Menghakimi Siswa
  Masih Perlukah Diadakan Rapat Kenaikan Kelas?
  Kapan Guru Menjadi “Guru Dewasa”?
  Gaji Guru di Ambang Kredit