Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Ucapan “Alhamdulillah” yang Menyakitkan Hati | Tuan Guru

Dalam kecelakaan maut yang merenggut nyawa puluhan penumpang bus kota, Rifqi, putra bu Sri selamat. Bu Sri sekeluarga melakukan sujud syukur sambil berulang-ulang mengucap, “Alhamdulillah.” Sementara itu Pak Haji Nurhasan mengadakan selamatan sebagai tanda syukur ketika panen sawahnya berhasil, padahal seluruh sawah petani di desanya gagal akibat terserang hama. Di lain tempat, dari 12 orang dari sekolah Pak Amri yang mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dalam rangka sertifikasi guru, hanya dia yang lulus, sedangkan yang lainnya harus menempuh remedi. Ketika membaca pengumuman, Pak Amri pun langsung sujud syukur sambil berucap, “Alhamdulillah.”

Mengucapkan alhamdulillah sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat dan anugrah Tuhan memang dianjurkan agar kita tidak termasuk orang yang kufur. Bahkan setiap saat kita layak bersyukur, karena setiap saat kita mendapat nikmat yang begitu banyak sehingga tidak dapat kita menghitungnya. Namun dalam konteks tertentu, terkadang ucapan tersebut menggelitik nurani kita, seperti pada kejadian di atas. Seakan-akan kita bersyukur di atas musibah orang lain, berpesta di atas penderitaan orang lain, bergembira di atas kesedihan orang lain.

Hal seperti ini pernah dialami oleh Sari al-Suqthi, seorang ulama ahli ilmu tauhid yang sangat wara’. Beliau berkata, “Sudah tiga puluh tahun lamanya aku selalu membaca istighfar, dan baru sekali ini aku membaca alhamdulillah.” Sahabatnya bertanya, “Bagaimana ceritanya?”. “Saat terjadi peristiwa kebakaran di pasar Baghdad, seseorang dengan tergopoh-gopoh datang menemuiku dan memberitahukan bahwa kedaiku selamat. Seketika juga aku berucap ‘Alhamdulillah!’ Tetapi, lantas aku menyesal, karena mensyukuri keberuntunganku sendiri di atas penderitaan orang banyak.”jawabnya.

Tuan Guru ingin menegaskan bahwa dalam menjalankan keberagamaan hendaknya kita senantiasa memerhatikan akhlak. Jangan sampai aktivitas keberagamaan kita justru menyakitkan hati saudara-saudara kita. Marilah kita menjaga silaturrahim dengan saudara-saudara kita dengan memperlihatkan keutamaan akhlak, karena bukankah Rasulullah Saw. diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia? Renungkan, semoga kita semua termasuk orang-orang yang beruntung.

——- Tuan Guru ——-

Artikel Terkait
  Kisah Gagal Para Calon Anggota Legislatif 2009
  Sejarah Tahun Baru Masehi; Renungan Bagi Umat Islam
  Renungan; Jika Ingin Sehat Harus Punya Banyak Uang
  Persoalan Etika Moral dalam Perspektif Islam
  Peran Guru Sebagai Pembangun Insan Cendekia
  Profil “Artis Langit”
  Pertanyaan di Hari Kiamat
  Fakir adalah Orang Paling Kaya
  Menyambut Tamu Istimewa di Bulan Ramadhan
  Ramadhan = Ujian Kenaikan Kelas
  Masih Perlukah Diadakan Rapat Kenaikan Kelas?
  Aku Dipuji, Aku Tertipu !
  Memahami Konsep “Lukisan” dan “Sang Pelukis”
  Pilih Tunjangan Sertifikasi atau Sehat?
  Hai, Orang-orang Yang Beriman, Bunuhlah Dirimu !