Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Ternyata Sistem Barcode Cuma Isapan Jempol Belaka ! | Tuan Guru

Tak terasa Ujian Nasional 2013 SMP/MTs sudah memasuki hari terakhir. Beragam perasaan, tanggapan campur aduk. Sebagian siswa bersikap biasa, UN sistem barcode, siapa takut? Yang penting selama 3 tahun belajar sungguh-sungguh, insya Allah yakin lulus. Yang lainnya stress, galau menunggu nasib. Kalangan guru mengapresiasi upaya Kemendikbud memperbaiki kualitas pelaksanaan UN, meski sempat carut marut. Namun sebagian lainnya tersenyum penuh kemenangan. Dengan sesumbar mengeluarkan statement; “mau pake barkode, mau 100 paket, selalu saja ada celah!”

Para ulama sering memfatwakan bahwa kesempurnaan itu hanya milik Allah, sebagai manusia biasa kita diliputi berbagai kekurangan dan kelemahan. Ya, kita maklum jika kesalahan itu terjadi tanpa unsur kesengajaan. Mencermati pelaksanaan UN tahun ini, agaknya pemerintah belum bersungguh-sungguh ingin melaksanakan UN dengan jujur. Sistem barcode dengan 20 paket soal tiap ruang ternyata cuma isapan jempol belaka. Sebelumnya, para guru sudah membayangkan bahwa soal dalam satu ruang dengan ruang lainnya tidak akan mudah diidentifikasi karena tidak ada kode paket, yang ada hanya barcode. Nyatanya, pas di lipatan soal tertulis kode paket yang terkesan disembunyi-sembunyikan. Ketika dicocokkan, misalnya paket 16 di ruang satu dengan ruang lainnya, soalnya persis sama. Lho, jadi apa gunanya sistem barcode yang selama ini digembar-gemborkan?

Adanya kode paket pada lipatan lembar soal disambut oleh pihak sekolah dengan penuh suka cita. Celah yang mungkin sengaja diciptakan ini memberi peluang terjadinya tindak kecurangan, bahkan santer beredar kunci jawaban via sms. Dengan demikian sulit untuk tidak mengatakan bahwa UN 2013 masih jauh dari harapan, baik dari kualitas maupun integritas. Dana UN sebesar 600 milyar ternyata tidak memperbaiki sistem, bahkan terkesan “proyek akal-akalan” yang sarat dengan unsur korupsi. Penerapan sistem barcode dan 20 paket soal hanya jadi alasan untuk menaikkan anggaran UN. Pesan tersembunyi pada lipatan soal seolah mengatakan, “UN tahun ini sama saja dengan UN tahun lalu. Bedanya, cuma anggarannya yang meningkat”.

——- Tuan Guru ——-

Artikel Terkait
  UN Jujur vs Jiwa Corsa
  Nak, Belajarlah dari TNI, bukan pada Politisi !
  Guru Profesional adalah Guru yang Pintar Sulap
  Penerapan Sistem Barcode Tingkatkan Kemunafikan Siswa
  Mendidik Anak Mengenal Ilmu Gaib
  Haruskah Siswa Lulus 100% dalam UN?
  Sulitnya Guru Punya Rumah Idaman
  Banyak Guru Menderita Penyakit Amnesia
  Guru Harus Menjadi Sutradara yang Baik
  Pilih Tunjangan Sertifikasi atau Sehat?
  Merubah Paradigma Anak tentang Makna Belajar
  Sandy, Korban Praktek Mafia Pendidikan
  Evaluasi Bukan untuk Menghakimi Siswa
  Masih Perlukah Diadakan Rapat Kenaikan Kelas?
  Kapan Guru Menjadi “Guru Dewasa”?