Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Sulitnya Guru Punya Rumah Idaman | Tuan Guru

Memiliki rumah merupakan kebutuhan primer tiap manusia sebagai tempat bernaung, beristirahat dan membina keluarga bahagia. Namun tidak semua orang beruntung dapat memiliki rumah dalam waktu cepat, butuh perjuangan, kerja keras, berhemat, dan kadang-kadang bantuan dari pihak keluarga. Untuk sementara, keluarga muda meski telah mempunyai anak, harus sabar numpang di ‘pondok mertua indah’ atau kost tidak jauh dari tempat kerja.

Pak Muhammadong, guru Pendidikan Agama Islam di salah satu SMP, tinggal di perumahan sekolah. Lumayan buat mengirit biaya kontrak rumah yang relatif mahal. Sang istri anak seorang uztad tidak banyak menuntut, dia memahami betul kondisi suaminya yang PNS dengan masa kerja 5 tahun belum sanggup membangun rumah.

Masalah kemudian muncul ketika anak pertama mereka, Adi, mulai menggugat. Sepulang ngingap dari rumah sepupunya, Adi bertanya, “Yah, kapan Adi punya kamar sendiri seperti Lina, sepupuku?” Pak Muhammadong hanya termangu mendengar pertanyaan polos anaknya yang baru berusia 3 tahun itu. Dia melirik istrinya yang nampak trenyuh memandang anaknya dengan sedih. Setelah menarik napas dalam-dalam, Pak Muhammadong berkata lirih, “Sabar nak. Insya Allah, ayah akan belikan rumah yang punya banyak kamar. Biar Adi tidur di kamar sendiri”.

Lewat seorang sahabat, Pak Muhammadong ditawari rumah BTN tipe 70 terletak di lokasi cukup strategis seharga 185 juta. DP 100 juta, sisanya dapat diangsur selama 3 tahun. Setelah check and recheck Pak Muhammadong mengiyakan setelah melihat kondisi rumah seperti yang diidamkan selama ini. Namun dia sangat mahfum akan kekuatan dananya, tidak punya tabungan tunai sebanyak itu. Kemana harus pinjam buat bayar DP? Pinjam ke mertua? Segan, soalnya mantunya banyak. Ke sahabat? Yang diharap baru saja beli mobil baru. Sahabat lain dihubungi berkali-kali HPnya tidak pernah connect. Alternatif terakhir melalui kredit bank dengan resiko bayar bunga yang bagaimanapun lunaknya tetap bikin dada sesak. Dalam kegalauan Pak Muhammadong shalat istikharah lalu berdoa, “Ya, Allah, hamba telah berusaha maksimal. Sekiranya Engkau tidak meridhai hamba berurusan dengan pihak bank, maka tolonglah dengan tangan-tangan halus-Mu dari sumber yang Engkau ridhai. Amin”.

Tiga hari lewat tidak ada tanda-tanda datangnya pertolongan, akhirnya Pak Muhammadong pasrah mengumpulkan KTP, Kartu Keluarga, SK CPNS dan SK pangkat terakhirnya dibawa ke bank yang dengan sangat ramah menyanggupi permohonan kreditnya sebesar 100 juta. Dalam hitungan rasio Pak Muhammadong mampu melunasi sisa harga rumah dalam jangka 3 tahun. Masih ada sisa gaji bulanan ditambah honor kegiatan pengembangan diri dan kegiatannya lainnya dari dana BOS, plus insentif sebagai wali kelas dan jam wajib dari dana Pendidikan Gratis. Tunjangan sertifikasi pun bakal diterima tahun depan mengingat berkas sudah masuk tahun ini. Cukup dah, pikirnya.

Tiba saat pencairan dana seperti yang dijanjikan, terjadilah musibah. Malam sebelumnya terjadi kasus perampokan bank tempatnya bermohon, sontak semua transaksi dipending sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Yah, Allah. Betapa sulitnya bagi seorang guru punya rumah idaman, keluhnya dalam hati. Meski dia meyakini bahwa hadis yang mengatakan “sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan” adalah hadis dhaif, namun dalam konteks ini ada benarnya. Para pengusaha begitu mudahnya beli rumah, tidak cukup satu, bahkan kadang sampai tiga atau empat rumah. Sedangkan guru begitu sulit. Pak Muhammadong hanyalah seorang guru dan berusaha menjadi guru yang baik. Dia tidak ingin mengganggu kewajiban mengajarnya dengan bisnis sampingan. Apakah jalan hidup yang dipilihnya sebagai seorang guru menjadikannya sulit punya rumah idaman?

——- Tuan Guru ——-

Artikel Terkait
  Haruskah Siswa Lulus 100% dalam UN?
  Banyak Guru Menderita Penyakit Amnesia
  Guru Harus Menjadi Sutradara yang Baik
  Pilih Tunjangan Sertifikasi atau Sehat?
  Evaluasi Bukan untuk Menghakimi Siswa
  Merubah Paradigma Anak tentang Makna Belajar
  Masih Perlukah Diadakan Rapat Kenaikan Kelas?
  Kapan Guru Menjadi “Guru Dewasa”?
  Tanggapan Guru tentang Uji Kompetensi Guru (UKG)
  Sekolah “Palsu” Pembuat “Ijazah Palsu”
  Malpraktik di Dunia Pendidikan
  Sandy, Korban Praktek Mafia Pendidikan