Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Sifat dan Strategi Perjuangan Organisasi Pergerakan Nasional pada Periode Bertahan | Tuan Guru

Home » Sejarah » Sifat dan Strategi Perjuangan Organisasi Pergerakan Nasional pada Periode Bertahan

Terjadinya krisis ekonomi dunia (malaise) yang dibarengi dengan penangkapan dan pembuangan tokoh-tokoh pergerakan radikal menyebabkan berakhirnya suatu periode keras dalam sejarah pergerakan kebangsaan nasional Indonesia.

Kerasnya tindakan pemerintah kolonial tersebut memengaruhi situasi politik pergerakan di Indonesia. Para pemimpin organisasi yang tersisa memikirkan cara baru yang lebih lunak untuk tetap mempertahankan dan melanjutkan cita-cita perjuangan sebelumnya. Mereka melihat kenyataan bahwa tidak ada alternatif lain kecuali mengubah haluan politik, yaitu dari non kooperasi menjadi kooperasi. Hal ini dilakukan karena hanya organisasi kooperatif dan bersedia mengirimkan wakilnya di volksraad yang bebas dari tindakan keras pemerintah dan tetap dapat melanjutkan kegiatan politiknya.

Situasi politik di atas akhirnya melahirkan suatu bentuk perjuangan baru yang demokratis. Dalam pembabakan sejarah pergerakan nasional, periode ini disebut periode bertahan. Jadi periode bertahan dapat diartikan sebagai suatu kurun waktu yang ditandai dengan perubahan taktik perjuangan dari non kooperasi ke kooperasi demi mempertahankan kelangsungan hidup pergerakan dan menjamin kontinuitas perjuangan.

Pada periode ini pergerakan bersikap lebih lunak dan hati-hati. Di luar volksraad, perjuangan terutama diarahkan dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat dengan mengusahakan perbaikan ekonomi. Sedangkan perjuangan mencapai kemerdekaan terutama berpusat di volksraad. Mengenai sifat pergerakan pada masa itu dilukiskan oleh Onghokham sebagai berikut:

… sifat pergerakan masa akhir Hindia Belanda itu tidak spektakuler, tidak “turun ke emosi rakyat” dan bersifat non agitasi ataupun “tidak opruierij”. Sifat kepemimpinannya berubah, tidak ada lagi demagogen rakyat atau tokoh-tokoh yang dapat berpidato di depan rakyat seperti Tjokroaminoto dan Sukarno dalam tahun-tahun yang lalu. Sebaliknya pemimpin-pemimpinnya adalah tokoh-tokoh seperti Dr. Sutomo yang mendirikan “perkembangan melalui ekonomi, usaha-usaha dagang, sekolahan, dan lain-lain” dari masyarakatnya atau Thamrin, Yamin, dan lain-lain di Volksraad …1)

Volksraad yang didirikan oleh pemerintah Belanda tahun 1918 sebagai wadah untuk mengontrol dan mengarahkan aktivitras kaum pergerakan, digunakan oleh pemimpin pergerakan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia. Jadi duduknya wakil-wakil rakyat di volksraad tidak hanya dipandang dari segi kooperatifnya, akan tetapi juga sebagai taktik perjuangan, sebagaimana dikemukakan oleh Otto Iskandar Dinata, bahwa: “kalau kita tidak ikut dalam dewan rakyat maka suara kita kurang didengar. Dan nasib rakyat makin dibiarkan oleh pemerintah Hindia Belanda”.2)

Seperti Otto Iskandar Dinata, pemimpin-pemimpin politik masa antara tahun 1935-1942 yakin bahwa akan dicapai sesuatu dengan cara-cara moderat. Muhammad Husni Thamrin, pemimpin golongan nasionalis dalam volksraad percaya dapat dilakukan sesuatu yang berharga di dewan perwakilan itu. Sementara dr. Sutomo nampaknya tidak begitu tertarik dengan kegiatan politik yang sifatnya langsung. Ia lebih mengutamakan usaha untuk mendorong kesatuan organisasi di kalangan kaum nasionalis dan melibatkan golongan elit dalam pembangunan negara. Ia dikabarkan pernah mengatakan:

Terlebih dahulu kita harus mengenal kemerdekaan barulah kita dapat dengan tepat menginginkannya. Sebab walaupun kita dapat kebebasan besok sekalipun, kemerdekaan itu tak ada gunanya untuk kita jika kita tidak dapat memanfaatkannya untuk meneruskan kesejahteraan kita.3)

Konstelasi dunia internasional pada dasawarsa tigapuluhan diwarnai dengan munculnya naziisme dan fascisme di Eropa Tengah yang dalam ekspansinya mendesak kedudukan negara-negara demokrasi dan komunis. Baik di negeri Belanda maupun di Indonesia, kaum nasionalis menyadari sepenuhnya bahwa dalam menghadapi fascisme tidak ada alternatif lain, kecuali memihak demokrasi.4) Keyakinan ini mendekatkan golongan nasionalis dengan pemerintah kolonial, yakni kesamaan dalam mempertahankan demokrasi terhadap bahaya fascisme. Ini pula yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pergerakan nasional meninggalkan sikap keradikalannya dan perjuangan melawan kolonialisme tidak lagi dilakukan mutlak bersikap anti, tetapi mengusahakan cara-cara yang lebih moderat.

Beberapa pemimpin dari pihak radikal seperti, Yamin, dr. A.K. Gani, Amir Syarifuddin, dan lain-lain mengubah taktik dan mendirikan partai bersifat kooperatif sejalan dengan arah yang dianut gerakan nasional pada masa itu. Dan volksraad sebagai wadah penyaluran aspirasi rakyat yang dibenarkan oleh pemerintah, menjadi pusat perjuangan dalam mencapai cita-cita Indonesia merdeka.

Dari uraian di atas terlihat bahwa pada periode ini pemimpin pergerakan tidak secara langsung menuntut kemerdekaan dengan segera. Tetapi perjuangan terutama ditujukan untuk menciptakan suatu landasan yang kokoh bagi Indonesia merdeka kelak.

 Daftar Referensi:
1)  Onghokham. 1989. Runtuhnya Hindia Belanda. Jakarta: Gramedia, hal. 81
2)  Sutrisno Kutojo dan Mardanas Safwan. nd. Oto Iskandar Dinata Riwayat Hidup dan 
     Perjuangannya. Jakarta: Bhratara, hal. 22 3)  dr. Susan Abeyesekere, “Koperator dan Non Koperator Kegiatan Politik Nasionalis di Tahun

     1930-an” dalam Colin Wild dan Peter Carey (ed.). 1986. Gelora Api Revolusi. Jakarta:

     Gramedia, hal. 63

4)  Sartono Kartodirdjo. 1990. Sejarah Pergerakan Nasional. Jakarta: Gramedia, hal. 180-181

Artikel Terkait dengan Sejarah
•  Awal Perkembangan Islam di Cina
•  Korte Verklaring (Perjanjian Pendek)
•  Peranan Pemuda dalam Sejarah Perjuangan Bangsa
•  Asas dan Bentuk Perjuangan Organisasi Perhimpunan Indonesia
•  Pengaruh Sumpah Pemuda terhadap Pergerakan Nasional Indonesia
•  Proses Rasionalisasi dan Reorganisasi Angkatan Perang RI
•  Latar Belakang Rasionalisasi dan Reorganisasi Angkatan Perang RI
•  Akibat Praktek Kolonial Daendels dan Raffles
•  Praktek Kolonial Daendels dan Raffles
•  Als ik eens Nederlander was (Andaikata Aku Seorang Belanda)
•  Reinterpretasi Peristiwa Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan
•  Lahirnya Demokrasi Terpimpin
•  Sejarah Singkat Perguruan Taman Siswa
•  Perkembangan Pers di Indonesia Hingga Terbentuknya Pers Nasional
•  Peranan Pers dalam Pergerakan Nasional Indonesia
•  Periode Radikal Pergerakan Nasional Indonesia
•  Faktor Ekstern Timbulnya Pergerakan Nasional Indonesia
•  Faktor Intern Timbulnya Pergerakan Nasional Indonesia
•  Memori Baron Tanaka
•  Politik Luar Negeri Jepang Setelah Kegagalan Ekspansinya ke Cina