Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Sepak Terjang Polisi Jujur Bibit Samad Rianto | Tuan Guru

Pada tulisan sebelumnya telah diceriterakan tentang bagaimana Bibit Samad Rianto ketika jadi Kapolda Kaltim tangkapi semua pelaku ilegal logging, usir oknum TNI dari HPH dan sikat para mafia. Akibatnya income Polda yang sebelumnya besar termasuk untuk bantuan operasional Polda, menjadi NOL. Polda Kaltim tidak bisa operasi 100%. Tidak ada duit.

Ada cerita lucu terkait penangkapan para pengusaha HPH pelaku ilegal logging. Sebelum jadi Kapolda Kaltim, Bibit adalah Wakapolda Jatim. Dia ketemu temannya yang dirjen di Dephut. Mau diskusi soal ilegal logging. Ketika ketemu, si Dirjen malah banyak cerita soal setoran suap.

“Wah, euanaaak Mas..kalau sampeyan tugas di Polda Kaltim, minimal sampeyan terima bersih 3-5 juta/bulan/HPH. Itu kalau lagi apes !

“Maksudnya apes iku opo mas?” tanya Bibit. “Lha itu, kalau ‘lagi musim kemarau’ ..Lagi sedikit permintaan log / kayu dari industri”

“Lagi apes itu pun lumayan kok Mas..bisa 500 juta sebulan”. Lanjut teman Bibit Samad itu. Bibit hanya bisa melongo sambil angguk-angguk kepala

Beberapa saat setelah menjabat Kapolda, Bibit telp temannya yang Dirjen di Dephut itu ” Mas, kamu ternya bohong !” temannya tanya “bohong apa?”

“ya itu..setoran HPH itu. Kosong. Ga ada. Bohong kamu ! Kata Bibit. Dirjen itu jawab “Ha? Yang bener? Masak? Ga mungkinlah. Kok bisa?”

“Bener. Ga ada setoran itu. Wong tak cekeli kabeh !” jawab Bibit sambil ngakak ketawa lepas ha ha ha ha.

Ada lagi cerita lucu tentang Bibit Rianto ini…saat itu Bibit sdh ditarik jadi Korsahli Kapolri…dia dipanggil Kapolri. Ditanya mau apa.

Samad jawab : ” Kalau Pak Kapolri izinkan ..saya mau tangkap Asrena… Adang Dorodjatun !” Kapolri sontak bengong..lalu tertawa terbahak-bahak.

“Lha kenapa, kok Asrena mau kamu tangkap?” Kapolri penasaran… “Lha iya Pak. Harus. Kalau mau bersihkan Polri ya dimulai dari Arsena”

“Lalu, setelah asrena kamu tangkap, Polri masih gini jg gimana? Tanya Kapolri makin penasaran. Matanya menatap tajam Bibit Samad Rianto.

Sambil balas menatap mata Kapolri, : ” ya..mau gimana lagi ya Pak..terpaksa saya izin Pak, mau nangkap Kapolri” jawab BSR dengan entengnya.

Kapolri mau tertawa terbahak2. Ga tahan geli dengar ucapan BSR. Tapi dia tahan tawanya..dia lihat mimik wajah BSR serius..ga bercanda.

Kapolri sontak berfikir…BSR ga main-main. Ga bercanda ucapkan kalimat tersebut. Tapi Kapolri ga marah. Dia tahu persis siapa BSR. Maklumi. Di kalangan Polri, BSR memang terkenal sebagai Polisi Jujur. Hidupnya sangat sederhana, tutur bahasanya halus tapi nyelekit..tajam.

Ketika dicopot dari jabatan Kapolda Kaltim, BSR kembali ke Jakarta hanya bawa 2 Harta Pusaka: sebuah pedang samurai panjang dan ..sebuah meja marmer. Keduanya hadiah dari pemuka adat dan suku Kalimantan. Dia ga bawa deposito atau rekening puluhan M. Ga punya. Ketika pensiun dari Polri. BSR hanya punya satu unit mobil Timor tua dan rumah sederhana, type 36 yang sudah direvonasi sedikit di Tangerang.

Apakah BSR hnya saat Kapolda saja terkenal jujur, berani, tegas dan pandang bulu? Tidak, 31 tahun karirnya di Polri ditulis dengan tinta emas.

Saat jabat Kapolres Jakarta Utara, BSR sikat habis penyelundupan dan mafia pelabuhan. Preman2 Priok pun takut dengar namanya. Hormat. Kepada bos-bos preman di Jakut, BSR hanya pesan. “monggo jadi preman, tapi kalau sakiti warga dan buat ribut sampeyan semua ta’ dor !”

BSR pernah jadi Kapolres Jakpus, lalu jadi Wakil Asisten Perencanaan Polri (waasrena). Pos waasrena itu, luar biasa basah, kalau mau. Namun, saat jabat waasrena Polri, BSR tak pernah mau terima suap. “jangankan uang mas..rekanan-rekanan Polri saja tidak berani lewat ruanganku”.

Kemudian BSR dipromosi jadi Wakapolda Jatim. Dan setelah itu jadi Kapolda Kaltim sebagaimana yang sudah dibahas sebelumnya. BSR kemudian menjabat Rektor Ubhara. Dia satu-satunya Rektor yang selalu ngajar. Langsung beri kuliah kepada mahasiswa-mahasiswanya.

Ketika dia ditelpon temannya perihal tawaran Presiden Gus Dur untuk jadi Kapolri, jawabnya: “Aku ga punya uang mas. Yang lain saja Mas”

BSR batal karena ga punya uang. Reformasi Polri gagal total. Hasilnya yang Polri yang kita saksikan hari ini. Reformasi Indonesia pun ikut gagal. Reformasi &demokratisasi indonesia, hanya bisa terwujud dengan pengawalan supremasi hukum. Penegakan hukum yang tegas, keras, adil, profesional. Supremasi hukum & penegakan hukum yang benar hanya bisa terjadi jika Polri sebagai ujung tombak penegakan hukum, sudah benar. Sudah direformasi total. Kegagalan BSR jadi Kapolri adalah kegagalan bangsa ini dalam mewujudkan cita-cita reformasi 98. Sejarah akan ditulis ulang jika BSR jadi Kapolri.

Sumber: http://chirpstory.com/li/78901