Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Sekolah sebagai Penanggung Jawab Pendidikan | Tuan Guru

Sejalan dengan kepentingan dan masa depan anak-anak, maka orang tua menyekolahkan anak-anak mereka, dan secara kelembagaan sekolah di sini sebagai penanggung jawab pendidikan.

Ahmad Tafsir berpendapat bahwa pengiriman anak di sekolah dikarenakan kehidupan sekolah sebagai jembatan bagi anak yang menghubungkan kehidupan dalam keluarga dengan kehidupan masyarakat kelak. Indrakusuma selanjutnya menegaskan bahwa pemberian ilmu pengetahuan dan keterampilan merupakan tugas utama dari sekolah. Di sekolah anak-anak di bawah asuhan dan bimbingan guru-guru, anak-anak memperoleh pengajaran dan pendidikan. Anak-anak belajar berbagai macam pengetahuan dan keterampilan yang akan dijadikan bekal untuk kehidupan di masyarakat.

Tanggung jawab sekolah sebagai lembaga pendidikan didasarkan atas tiga faktor, yaitu :

  1. Tanggung jawab formal, yakni secara kelembagaan pendidikan sesuai dengan fungsi, tugas sekolah dan mencapai tujuan pendidikan menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
  2. Tanggung jawab keilmuan, yakni berdasarkan bentuk, isi, dan tujuan serta tingkat pendidikan yang dipercayakan kepada sekolah oleh masyarakat sebagaimana yang tertuang dalam pasal 13, 15, dan 16 Undang-undang sistem pendidikan nasional.
  3. Tanggung jawab fungsional, yakni tanggung jawab yang diterima sebagai pengelola fungsional dalam melaksanakan pendidikan oleh para pendidik yang diserahi kepercayaan dan tanggung jawab berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku sebagai limpahan wewenang dan kepercayaan, serta tanggung jawab yang diberikan oleh orang tua peserta didik.

Dalam upaya mewujudkan tanggung jawab sekolah terhadap pendidikan, maka paling tidak sekolah harus mempunyai perencanaan yang matang dengan melakukan berbagai terobosan-terobosan terutama peningkatan kualitas guru.

Guru sebagai pendidik, bukan hanya bertugas memindahkan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) yang dikuasainya kepada peserta didiknya, melainkan juga berusaha membentuk akhlak dan kepribadian peserta didiknya, sehingga menjadi lebih dewasa dan memiliki kecerdasan (intelektual, emosional dan spiritual) yang lebih matang serta bisa bertanggung jawab. Dalam kaitan ini, H.M Arifin menegaskan bahwa sebagai pendidik, guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai pengarah dan pembina dalam mengembangkan bakat dan kemampuan anak didik ke arah titik maksimal. Selanjutnya, Zakiah Dradjat mengatakan faktor terpenting bagi seorang guru adalah kepribadiannya, dan kepribadian itulah yang menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, atau menjadi perusak dan penghancur bagi hari depan anak didik, terutama bagi anak yang masih kecil (tingkat sekolah dasar), dan mereka mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah).

Sebagai bentuk balasan tanggungjawabnya, maka guru digaji oleh pemerintah. Dengan adanya desentralisasi penyelenggaraan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, maka pendanaan pendidikan, menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah (pusat), pemerintah daerah, dan masyarakat. Dalam undang-undang Sisdiknas pasal 31 ayat (4) dijelaskan bahwa pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah bertanggung jawab menyediakan anggaran pendidikan. Itulah sebabnya, dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya kedinasan, harus dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanjan Negara (APBN) pada sektor pendidikan.

Untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu, maka pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan. Inilah antara lain bentuk tanggung jawab pemerintah terhadap pendidikan.

Kepustakaan:
Arifin, H.M. Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum. Jakarta: Bumi Aksara, 1995
Departemen Agama RI. Memahami Paradigma Baru Pendidikan Nasional dalam Undang-undang Sisdiknas. Jakarta: Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2003
Dradjat, Zakiah. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1996
Ihsan, Fuad.  Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 1995
Indrakusuma, Amir Daien. Pengantar Ilmu Pendidikan. Usaha Nasional, t.th.
Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan Prospektif Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1979