Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Sekolah “Palsu” Pembuat “Ijazah Palsu” | Tuan Guru

Sejak pertama masuk sekolah, anak-anak telah dididik menyampaikan sapaan-sapaan Palsu, sekedar memenuhi slogan 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun) Palsu. Bapak dan ibu guru pun menjawab sapaan Palsu tersebut dengan sapaan Palsu pula. Ketika terlambat, dengan lihai anak-anak telah menyiapkan alasan-alasan Palsu agar tidak kena sanksi dan bisa ikut belajar. Mereka pun memasuki lingkungan sekolah yang di dalamnya dilengkapi tata tertib Palsu yang tidak bisa ditegakkan karena penuh kebijakan-kebijakan Palsu.

Di dalam kelas siswa belajar dari buku-buku Palsu yang dibeli dari penerbit yang memberikan fee paling besar. Karena belajar dari buku Palsu, proses pembelajaran Palsu, maka hasil belajar pun jelek. Dalam evaluasi anak-anak terpaksa nyontek dan memperoleh nilai Palsu. Karena tidak puas dengan nilai Palsu itu, mereka datang merengek (kadang disertai air mata Palsu) pada bapak dan ibu guru. Lalu diadakanlah remedi Palsu untuk mengganti nilai Palsu tersebut dengan nilai Palsu yang baru.

Sehabis ulangan semester, anak-anak dengan gembira menerima rapor Palsu dan memperlihatkan nilai-nilai Palsu tersebut ke orang tuanya. “Belajar dengan sungguh-sungguh, nak. Sebentar lagi Ujian Nasional”, demikian pesan orang tua kepada anaknya, yang dijawab anak dengan janji Palsu. Mereka mendengar bocoran dari kakak alumninya bahwa guru-guru akan membantu mereka pada saat UN.

Sebagai persiapan ujian nasional, sekolah pun melaksanakan bimbingan Palsu, sekedar menjalankan program Palsu sesuai yang tertera dalam RAPBS Palsu. Ujian nasional yang selama ini menjadi momok melahirkan guru dan kepala sekolah yang berkomitmen Palsu. Melalui konspirasi yang alot dalam kelompok subra Palsu, para pengawas pun diformat menjadi pengawas Palsu, sehingga kunci jawaban UN dengan sangat enteng masuk dan menyebar ke seluruh siswa. Ujian Nasional pun menjadi UN Palsu, kelulusan Palsu, nilai Palsu, dan siswa yang nilai Palsunya tinggi mendapat penghargaan Palsu. Akhirnya setelah tiga tahun menempuh pendidikan Palsu, anak-anak pun memperoleh Ijazah Palsu.

Tulisan ini hanya ingin memberikan pesan moral sederhana, bahwa Sekolah “Palsu” akan menghasilkan “Ijazah Palsu” dan melahirkan generasi-generasi “Palsu”.
Kalau tidak bisa mengubah dengan tanganmu, ubahlah dengan lisanmu!

(Terinspirasi dari “Sajak Palsu” karya Agus R. Sarjono)                           ——- Tuan Guru ——-