Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Sandy, Korban Praktik Mafia Pendidikan | Tuan Guru

Sandy baru saja lulus pada salah satu SD di Makassar. Sejak kelas satu, anak pertama dari 3 bersaudara ini selalu masuk peringkat 5 besar. Orang tuanya sangat bangga, karena walau berasal dari keluarga kurang mampu, namun anaknya dapat menunjukkan prestasi yang tinggi. Bahkan pada ujian akhir Sandy menduduki peringkat 2. Selain piagam penghargaan, pihak sekolah juga memberi hadiah berupa buku dan kelengkapan alat tulis lainnya.

Berbekal rapor bagus dan nilai SKHUN (Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional) yang tinggi, orang tuanya pun mendaftarkan Sandy pada SMP favorit yang kebetulan terletak tidak jauh dari rumahnya. Pertimbangannya agar bisa jalan kaki ke sekolah, biar mengirit biaya. Sebagai antisipasi Sandy juga didaftarkan di SMP lain yang lokasinya masih terjangkau. Kebetulan tes seleksi masuknya tidak bersamaan. Mudah-mudahan Sandy dapat diterima di salah satunya, demikian harapan orang tuanya. Guru SDnya juga optimis, Sandy pasti lulus karena pintar.

Ketika berlangsung tes seleksi, orang tua Sandy ditanya oleh seorang guru di sekolah itu, “Siapa yang mengurus anak Ibu?” Ibu Sandy hanya menjawab singkat, “Tidak ada, Pak.” Setelah memperhatikan sejenak penampilan orang tua Sandy yang amat bersahaja dan terkesan tidak punya banyak uang, bapak itu pun berlalu. Dalam hati Ibu Sandy berpikir, kalau semua pendaftar harus pakai pengurus baru bisa gol, sudah pasti anakku tidak akan diterima. Jangankan untuk membayar “jasa” pengurus, untuk makan sehari-hari saja susah. Dan benar, ketika diumumkan hasil seleksi keesokan harinya, Sandy tidak lulus. Demikian juga yang terjadi pada SMP satunya lagi.

Anak kecil berusia 12 tahun itu pulang menangis dengan sedih, membayangkan teman-temannya sudah pada sekolah di SMP, sedangkan dia harus nganggur. Anak kecil yang masih polos itu tidak paham praktek-praktek keserakahan oknum pendidik dan tenaga kependidikan di kotanya. Dia hanya sedih dan tak habis pikir, kenapa pada saat tes, anak-anak di sekitarnya diberi kunci jawaban? Mengapa Mirna, temannya yang rangking terakhir bisa lulus tes dan diterima, kenapa dia yang rangking 2 tidak?

Orang tua Sandy stres. Apalagi setelah mendengar cerita dari tetangganya bahwa penerimaan siswa baru di sekolah tersebut memakai sistem jatah. Kepala sekolah, guru, dan pegawainya punya jatah yang jumlahnya bergantung jabatan masing-masing. Nah, jatah itulah yang harus dibeli dengan menyiapkan uang 2 – 3 juta atau bergantung negosiasi dengan si pemilik jatah. Anak-anak yang masuk “lewat jendela” harus bayar 5 – 7 juta. Hah, dimana dapat uang sebanyak itu? Bapak Sandy kan kerjanya cuma tukang pijat, pikir Ibu Sandy sedih. Padahal mereka berharap Sandy dapat tamat hingga SMA dan kelak bisa mencari pekerjaan untuk meringankan beban orang tua.

Sandy dan jutaan anak Indonesia lainnya menjadi korban akibat “praktek kotor” penerimaan siswa baru. Mereka tidak dapat melanjutkan pendidikan karena harus membayar hak pendidikannya (yang dijamin Undang-Undang) dengan menyerahkan sejumlah uang pada mafia-mafia pendidikan yang berkedok sebagai pendidik bangsa.

——- Tuan Guru ——-