Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Renungan; Jika Ingin Sehat, Harus Punya Banyak Uang | Tuan Guru

Masalah kesehatan di Indonesia masih menduduki peringkat tertinggi. Berbagai faktor yang melatarbelakangi hal tersebut, antara lain masih banyaknya masyarakat yang tidak menjalani pola hidup sehat, rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya tingkat ekonomi sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan untuk hidup sehat, dan lain-lain sebagainya.

Persoalannya kemudian adalah rasio jumlah penderita (pasien) dengan jumlah rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap dan tingkat layanan yang ideal belum sinkron. Hal ini terlihat pada RS di ibukota propinsi, ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat) masih dipenuhi pasien yang berhari-hari harus tinggal di ruang tersebut karena kamar perawatan pasien sudah penuh. Ini terjadi lantaran banyaknya pasien rujukan dari RS kabupaten/kota. Sebagian dirujuk ke RS di ibukota propinsi karena masuk kategori gawat dan tidak mampu ditangani oleh dokter di kabupaten yang fasilitasnya belum memadai, atau “keluar paksa” karena pasien merasa tidak mendapat layanan yang ideal.

Membludaknya pasien di ruang IGD ini menimbulkan masalah baru karena ruang perawatan tidak cukup untuk menampung pasien yang sedemikian banyak. Akhirnya pasien dan keluarganya harus tinggal berhari-hari di ruang IGD tanpa ada kepastian kapan mendapatkan kamar perawatan. Layanan para dokter yang sigap, intensif dan familiar, membuat mereka sedikit terhibur, terutama yang masuk kategori “rujuk paksa”, tapi tetap menimbulkan kekhawatiran karena di IGD berjubel pasien dengan berbagai latar belakang penyakit yang mungkin saja jenis penyakit menular.

Jika harus memilih, maka umumnya pasien lebih senang dirawat di RS di tempat asalnya. Selain faktor psikologis juga lebih ekonomis. Sehingga ke depan, harapan kita bahwa RS di kabupaten/kota dapat dilengkapi fasilitas yang memadai. Pemerintah sudah perlu mengambil kebijakan bahwa dokter yang bertugas di RS bukanlah doker yang juga buka praktek di rumah agar perhatian terhadap layanan kesehatan masyarakat lebih fokus. Masyarakat yang tergolong mampu lebih senang mendatangi dokter praktek karena layanan dan obat-obatannya lebih baik dibanding di rumah sakit. Akhirnya lahir kesimpulan yang bernada putus asa; “jika ingin sehat harus punya banyak uang”.

Akhirnya Tuan Guru berpesan bahwa kesehatan adalah suatu amanah yang wajib kita jaga dengan baik. Kita harus belajar menghargai kesehatan. Selama ini kita baru menyadari betapa berharganya kesehatan jika telah jatuh sakit, kita baru merasakan betapa susahnya menjadi pasien ketika kita tidak mendapatkan layanan yang ideal. Menjaga kesehatan tentu dimulai dengan pola hidup sehat. Kita dapat mengambil pelajaran dari masyarakat muslim di jaman Rasulullah saw, ketika pemerintah Mesir mengirimkan tiga orang tabib untuk melayani orang-orang yang sakit di Madinah. Selama tiga tahun betugas, para tabib tersebut tidak pernah menerima pasien seorang pun. Mereka lalu melapor ke Rasulullah, apakah orang-orang Madinah tidak suka atau takut berobat pada tabib. Rasulullah menjelaskan bahwa demikianlah keadaan umat muslim, mereka semua dalam keadaan sehat karena menjalankan pola hidup sehat sesuai dengan sunnah Rasulullah.

——- Tuan Guru ——-

Artikel Terkait
  Kisah Gagal Para Calon Anggota Legislatif 2009
  Sejarah Tahun Baru Masehi; Renungan Bagi Umat Islam
  Persoalan Etika Moral dalam Perspektif Islam
  Peran Guru Sebagai Pembangun Insan Cendekia
  Ucapan “Alhamdulillah” yang Menyakitkan Hati
  Profil “Artis Langit”
  Pertanyaan di Hari Kiamat
  Fakir adalah Orang Paling Kaya
  Menyambut Tamu Istimewa di Bulan Ramadhan
  Ramadhan = Ujian Kenaikan Kelas
  Sekolah “Palsu” Pembuat “Ijazah Palsu”
  Aku Dipuji, Aku Tertipu !
  Memahami Konsep “Lukisan” dan “Sang Pelukis”
  Kapan Guru Menjadi “Guru Dewasa”?
  Hai, Orang-orang Yang Beriman, Bunuhlah Dirimu !