Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Pintar Ketika Tertekan | Tuan Guru

Pada ulangan semester yang lalu, saya mengawas di salah satu ruangan. Ulangan hari itu mata pelajaran IPS. Sebagaimana biasanya setiap kali memberi evaluasi saya selalu memeriksa kesiapan siswa dan mengantisipasi tidak terjadi kecurangan.

Sebelumnya saya memberi sedikit nasehat, “Anak-anak, yang lebih penting dari nilai adalah akhlak. Banyak orang yang berhasil bukan karena nilai rapornya tinggi sewaktu sekolah, tapi karena akhlaknya. Maka saya harapkan kalian dapat mengerjakan soal dengan jujur. Bisa dilaksanakan?”

“Insya Allah, pak”, jawab murid-murid serempak.

Sambil membagikan soal, saya menjelaskan aturan main sebagai berikut :

  1. Menyontek, nilai dikurangi 20
  2. Memberi contekan, dikurangi 20
  3. Tidak mengumpulkan tepat waktu, dikurangi 10
  4. Membuka buku atau catatan, pekerjaan langsung dikumpul dan dinyatakan tidak lulus.

Murid-murid pun mengerjakan dengan antusias. Sebagian bekerja dengan lancar, sebagian lagi mengalami kesulitan, tapi tetap bertahan untuk tidak bertanya ataupun membuka catatan. Pada menit ke-80 sebagian besar sudah selesai dan menyetor lembar jawabannya.

“Periksa baik-baik pekerjaannya sebelum disetor, masih ada waktu 10 menit”, saya mengingatkan siswa.

Beberapa siswa mulai resah, di antaranya ada yang memegang kening sambil memejamkan mata, mencoba mengingat materi yang pernah diajaarkan. Bagaimana pun juga mereka tidak ingin mendapat nilai rendah dan diremidi.

“Sisa waktu 1 menit lagi!”, kembali saya mengingatkan siswa.

Keringat dingin bercucuran pada kening dan muka siswa. Dalam kondisi tegang mereka mencoba mengingat sebisanya. Dengan adrenalin yang berpacu tinggi, tiba-tiba saja mereka seakan mendapat ilham dan mengetahui semua jawaban, lalu mulai menulis dan terus menulis dengan lancar. Lembar jawaban mereka kini hampir terisi penuh.

Bahkan ketika saya berteriak: “Kumpul!”, beberapa siswa masih menggerakkan penanya walau tidak menulis lagi. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ada sebagian kecil siswa yang daya kreasi dan imajinasinya muncul ketika kepepet. Luar biasa (di luar kebiasaan) !!!