Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Pilih Tunjangan Sertifikasi atau Sehat? | Tuan Guru

Hari minggu lalu, saya bertemu dengan teman di sebuah warung coto. Pak Jumadi demikian namanya adalah seorang guru SMP mengajar mata pelajaran IPS. Ada rasa heran melihat kondisi fisiknya yang berubah drastis. Pak Jumadi sekarang lebih kurus dan sepertinya menderita suatu penyakit. Karena kami satu meja, maka mengalirlah perbincangan seputar masalah pendidikan dan keluarga. Terakhir saya tanyakan mengenai perubahan kondisi tubuhnya. Setelah memesan jus jeruk, beliau menceriterakan kisahnya.

Pak Jumadi lulus sertifikasi guru kuota tahun 2010. Beliau termasuk guru yang kreatif, aktif, dan punya komitmen tinggi untuk memajukan kualitas pendidikan. Karena penerima tunjangan sertifikasi wajib memenuhi ketentuan 24 jam tatap muka, Pak Jumadi harus menambah jam pelajaran di sekolah lain. Setelah berusaha kesana kemari ternyata jam IPS di semua sekolah dalam kota sudah cukup, bahkan lebih, akhirnya Pak Jumadi diterima sebagai guru tidak tetap (GTT) pada sekolah baru di luar kota yang kebetulan jam IPSnya masih lowong. Tak masalah, pikirnya, yang penting tunjangan sertifikasi dapat diterima. Jumlah jamnya di SMP induk 16 jam, jadi harus ditambah 8 jam di sekolah lain. Jadwal mengajar diatur 4 hari (Senin – Kamis) di sekolah induk dan 2 hari (Jumat – Sabtu) di sekolah lain.

Sebagai guru yang bertanggung jawab, dia melaksanakan tugas mengajar di dua sekolah dengan penuh semangat. Dengan mengendarai Honda Supra hijau kesayangannya, setiap hari Jumat dan Sabtu dia menempuh jarak 42 km dengan kondisi jalanan yang berlubang. Satu tahun dilewatinya tanpa ada kendala, bahkan beliau diakui sebagai guru paling disiplin karena meski tempat mengajarnya cukup jauh, namun tidak pernah sekali pun terlambat.

Masalah kemudian muncul ketika menginjak tahun kedua. Dia mulai merasakan ada kelainan pada perut. Ah, mungkin cuma sakit perut biasa, pikirnya. Tapi lama kelamaan rasa sakit kian bertambah. Dokter menyarankan istirahat 1 minggu. Kondisinya pun membaik setelah istirahat seminggu. Rasa sakit itu kambuh lagi ketika pulang mengajar hari Jumat. Pak Jumadi menganalisa dan menduga bahwa penyakit yang dideritanya itu kemungkinan disebabkan kecapaian karena harus naik motor jauh dengan jalanan yang jelek. Tak puas, dia pergi chek up ke dokter ahli dalam. Hasilnya, Pak Jumadi mengidap penyakit usus turun dan harus segera dioperasi.

Saya memotong ceritanya dengan pertanyaan, “Jadi sekarang pilih mana, tunjangan sertifikasi atau sehat?” “Itu pertanyaan tidak adil”, sanggahnya. Setelah menghela napas, dia melanjutkan, “Pertanyaannya adalah apakah pemerintah sudah memikirkan dampak seperti ini sebelum mengeluarkan kebijakan?” Saya hanya mengangguk tanda setuju dan setelah menghabiskan minuman, cepat-cepat beranjak ke kasir sekalian membayarkan coto dan jus jeruknya sebagai tanda keprihatinan.

——- Tuan Guru ——-