Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Pertumbuhan dan Perkembangan Humanisme | Tuan Guru

Lahirnya humanisme dilatarbelakangi oleh lingkungan hidup manusia Eropa, khususnya Italia pada akhir abad ke-13 yang dipaksakan melalui tekanan kekuasaan dan tekanan kejiwaan dari gereja dan dari pihak penguasa pendukung gereja. Dari lingkungan yang dipaksakan itu lahirlah manusia yang tidak dapat berkembang dalam dunia pikiran yang menyebabkan mereka kehilangan inisiatif, kehilangan daya cipta untuk berkembang dan menentukan hidupnya sendiri. Mereka menjadi makhluk yang statis, kehilangan gairah untuk hidup yang layak, hidup dalam suasana ketakutan berbuat dosa dan kehilangan kepribadian sebagai makhluk sosial yang bebas dan merdeka.

Gerakan pembaharuan di bidang kerohanian, kemasyarakatan dan kegerejaan telah dimulai pada pertengahan abad ke-14 di Italia sebagai suatu gerakan yang berusaha mengembalikan martabat dan harga diri manusia yang telah dirusak jiwanya oleh ajaran agama yang fanatik dan dogmatis. Humanisme bertujuan merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup Kristiani, yang dilaksanakan dengan mengaitkan kebudayaan klasik Yunani dan Romawi Kuno dengan wahyu dan memberi kepastian kepada gereja, bahwa sifat pikiran-pikiran klasik itu tidak dapat binasa. Dengan memanfaatkan kebudayaan dan bahasa klasik itu mereka bermaksud mempersatukan kembali gereja yang telah dipecah-pecah oleh banyak mazhab.

Tulisan-tulisan terpenting zaman Yunani dan Romawi Kuno dicari, diteliti, dan diedit dengan antusias, bukan hanya tulisan-tulisan filsafat, tetapi teks-teks sastra juga diterjemahkan dalam bahasa Italia. Humanisme memiliki wawasan luas dan optimistik yang menolak segala kepicikan dan fanatisme. Adalah cukup menarik bahwa di garis depan antusiasme humanistik itu tidak hanya ditemukan para pangeran dan bangsawan di kota-kota kaya seperti Firense, Venesia, dan Bologna, melainkan juga gereja. Selama 200 tahun para Paus menarik para seniman terbesar ke Roma untuk mempercantik gereja-gereja dan istana-istana kota itu.

Gerakan humanisme muncul hampir bersamaan waktunya dengan Reinassance. Mula-mula muncul di kawasan kota yang menjadi pusat kegiatan perdagangan dan industri. Dalam sistem sosial yang hidup dalam masyarakat kota, sikap manusia relatif mengalami perubahan yang cepat.

Dalam perkembangannya, humanisme tidak lagi sebagai gerakan yang semata-mata bertujuan melepaskan diri dari kekuasaan gereja dan menemukan kembali bahasa Yunani dan bahasa Romawi Kuno, tetapi berkembang menyerang cara berfikir dogmatis yang diterapkan oleh gereja kepada setiap individu serta berusaha menempatkan harkat dan martabat manusia, pada tempat yang layak dalam kehidupan pribadi dan sosial.

Kaum humanis melihat akal budi manusia sebagai kekuatan yang membimbing dalam hidup. Mereka sekuler, ingin membersihkan masyarakat dari kepercayaan-kepercayaan religius yang menurut mereka, menghalangi kemajuan manusia. Humanisme menempatkan manusia sebagai pusat segala peristiwa di dunia sehingga humanisme tidak hanya menemukan dan ingin mencontoh kaidah-kaidah kesenian dan pengetahuan klasik, melainkan juga menghasilkan ciptaan-ciptaan baru yang mengakibatkan suburnya perkembangan bidang kesenian, terutama seni sastra.

Pada abad ke-15, humanisme dan renaissance saling mempengaruhi, dan keduanya tidak lagi bersifat Kristen. Humanisme bercorak keduniawian. Berkembanglah pendapat bahwa orang hidup harus menikmati segala kesenangan yang diberikan oleh dunia ini. Kaum humanis adalah materialis, tidak percaya akan dunia rohani, dan empiristis dalam pendekatan mereka terhadap pengetahuan dengan mempertahankan bahwa pengetahuan datang dari indera.

Humanisme berkembang pesat di Italia, lalu menyebar ke Jerman, Perancis, dan di negara-negara Eropa lainnya, sebab Italia (terutama di Florence) teks-teks filsafat Yunani yang diperoleh dari dunia Arab paling banyak dipelajari, di samping juga sebagai pusat kekuasan gereja. Beberapa tokoh humanis yang terpenting adalah Petrarkha (1304-1374), Erasmus (1466-1536), Rabelais (1490-1553), Thomas More (1478-1535), dan Cervantes (1547-1616).

Kepustakaan:
Hadiwijono, Harun. 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius.
Smith, Linda dan William Raeper. 2000. Ide-ide Filsafat Agama Dulu dan Sekarang. Diterjemahkan oleh P. Hardono Hadi. Yogyakarta: Kanisius.
Hardiman, F. Budi. 2007. Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Artikel Terkait dengan Sejarah
•  Pengertian Sejarah
•  Awal Perkembangan Islam di Cina
•  Korte Verklaring (Perjanjian Pendek)
•  Peranan Pemuda dalam Sejarah Perjuangan Bangsa
•  Asas dan Bentuk Perjuangan Organisasi Perhimpunan Indonesia
•  Pengertian Renaissance
•  Proses Rasionalisasi dan Reorganisasi Angkatan Perang RI
•  Latar Belakang Rasionalisasi dan Reorganisasi Angkatan Perang RI
•  Akibat Praktek Kolonial Daendels dan Raffles
•  Praktek Kolonial Daendels dan Raffles
•  Latar Belakang Persetujuan Linggarjati
•  Serangan Jepang terhadap Pearl Harbour
•  Sikap Kaum Pergerakan Menghadapi Kedatangan Jepang
•  Periode Radikal Pergerakan Nasional Indonesia
•  Teori Masuknya Kebudayaan Hindu-Budha ke Indonesia
•  Code Napoleon
•  Sebab-sebab Revolusi Perancis
•  Lahirnya Demokrasi Terpimpin
•  Sejarah Singkat Perguruan Taman Siswa
•  Peranan Pers dalam Pergerakan Nasional Indonesia
•  Pan Islamisme