Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Persoalan Etika Moral dalam Perspektif Islam | Tuan Guru

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk meraih kesuksesan di dunia dan di akhirat. Oleh sebab itu, ajarannya bukan hanya untuk akhirat, namun justru lebih banyak mengatur kehidupan dunia. Akhirat pada dasarnya merupakan konsekuensi atau hasil dari perbuatan di dunia.

Pada zaman Nabi Muhammad diutus menjadi rasul terjadi kebobrokan akhlak pada masyarakat Arab. Tentu yang dimaksudkan akhlak pada masa ketika Nabi mulai diutus adalah dalam pengertian yang luas, termasuk etika sosial. Jika dicermati, banyak sekali nilai ajaran moral terdapat dalam al-Qur’an dan hadits Nabi, seperti jujur, adil, menolong, benar, amanah, terpuji, respect (menghargai orang lain), dan lain-lain. Semua ini merupakan perilaku moralitas individual terhadap kehidupan sosial.

Perilaku sosial dalam masyarakat yang mayoritas beragama Islam masih memunculkan persoalan besar. Kehebatan ajaran Islam, terutama dalam pembinaan moralitas masyarakat atau etika sosial, memang tidak diragukan, namun banyak nilai-nilai tadi yang tidak terwujud dalam kehidupan sehari-hari atau dalam sistem sosial kita. Terjadi kontradiksi antara ajaran Islam yang diyakini dengan praktek perilaku sehari-hari. Ini sebuah paradoks.

Kesenjangan antara norma atau ajaran agama dengan perilaku keseharian seperti tersebut merupakan indikasi krisis multidimensional-menurut istilah GBHN tahun 1999. Krisis ini berkelanjutan dan selalu berkaitan sampai pada batas yang sulit ditemukan ujung pangkalnya karena selalu berputar dan saling berkait (lingkaran setan). Maka wajarlah kalau kemudian Allah sedang memberi peringatan atau mungkin sudah mendatangkan adzab-Nya kepada bangsa kita sekarang ini. Ayat al-Qur’an yang patut dijadikan renungan:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rum [30]:41)

Jika kita sudah menyadari kondisi ini, lalu dengan cara apa kita memperbaiki bangsa ini? Jawabnya adalah kembali kepada ajaran Islam dan menjadikannya sebagai landasan moralitas atau etika sosial dalam praktek hidup dan kehidupan. Dan yang menjadi prioritas utama adalah membina generasi muda kita dengan sebaik-baik pembinaan, karena mereka adalah generasi penerus bangsa ini.

Islam mengajarkan cara membina generasi muda yaitu; pendidikan aqidah, pendidikan berbakti (ubudiyah); pendidikan kemasyarakatan (sosiologi); pendidikan mental; dan pendidkan akhlak (budi-pekerti). Untuk jangkauan ke depan, kita harus memperbaiki bangsa ini melalui pembinaan pendidikan bagi generasi muda kita, termasuk pendidikan agama. Pelajaran agama dan praktek etika sosial harus mendapatkan perhatian yang serius disetiap sekolah/madrasah dan pondok pesantren, sejak dari kebijakan dan kurikulum, sampai kepada praktek dan evaluasinya agar dapat sampai pada tujuan, yaitu terwujudnya masyarakat yang memiliki moralitas yang tinggi. Pendidik hendaknya menjadi penjaga moral bangsa dan memberi nasihat dan taushiyah, tidak semuanya terjun dalam dunia politik.

Untuk memperbaiki perilaku moral bagi generasi muda, maka lembaga pendidikan memainkan peranan penting. Pendidikan adalah investasi masa depan bangsa, termasuk investasi untuk meningkatkan kualitas perilaku sosial yang beretika. Oleh karena itu, melalui sekolah anak-anak dididik sekaligus dibiasakan untuk berperilaku yang etis dan menjunjung tinggi etika sosial di negara ini. Untuk pembiasaan tersebut lembaga pendidikan itu sendiri harus memberikan contoh sebagai lembaga yang bermoral.

Sebagai insan yang beragama, yang terbaik adalah menjalankan etika moral yang bersumber dari ajaran agama.

Artikel Terkait
  Kisah Gagal Para Calon Anggota Legislatif 2009
  Sejarah Tahun Baru Masehi; Renungan Bagi Umat Islam
  Renungan; Jika Ingin Sehat Harus Punya Banyak Uang
  Peran Guru Sebagai Pembangun Insan Cendekia
  Ucapan “Alhamdulillah” yang Menyakitkan Hati
  Profil “Artis Langit”
  Pertanyaan di Hari Kiamat
  Fakir adalah Orang Paling Kaya
  Menyambut Tamu Istimewa di Bulan Ramadhan
  Ramadhan = Ujian Kenaikan Kelas
  Kapan Guru Menjadi “Guru Dewasa”?
  Aku Dipuji, Aku Tertipu !
  Memahami Konsep “Lukisan” dan “Sang Pelukis”
  Kapan Guru Menjadi “Guru Dewasa”?
  Hai, Orang-orang Yang Beriman, Bunuhlah Dirimu !