Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Pergeseran kekuasaan dari Majapahit ke Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa pada Abad ke-16 | Tuan Guru

Home » Sejarah » Pergeseran kekuasaan dari Majapahit ke Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa pada Abad ke-16

Proses pertumbuhan Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa
Untuk menguraikan pertumbuhan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, maka Islamisasi dan perdagangan adalah dua hal mengawali pertumbuhan tersebut. Umumnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia berada di pesisir pantai yang merupakan jalur pelayaran dan perdagangan para pedagang muslim.

Islamisasi di Jawa oleh beberapa sumber agak berbeda. Schrieke menerangkan bahwa Islam mula pertama masuk ke Jawa pada tahun 1416, karena telah ditemukan pedagang-pedagang muslim yang berdagang di pesisir pantai pulau Jawa.1) Juga banyak punggawa dan pejabat Majapahit yang memeluk agama Islam.

Sementara Sayid Alwi Al Haddad dalam bukunya Sejarah Perkembangan Islam di Timur Jauh menyebutkan tentang kedatangan dua orang muballig bernama Mahdum Isfaq dan pamannya bernama Maulana Malik Ibrahim yang kuburannya didapatkan di Gresik (1419).2)

Pada sumber yang lain disebutkan bahwa islamisasi di Jawa kemungkinan dilakukan dari Malaka, karena Malaka pada abad ke-15 merupakan pusat pelayaran dan perdagangan muslim di Asia.

Penyebaran Islam lewat perdagangan dari Malaka, juga dapat masuk akal, karena Malaka berkumpul pedagang-pedagang muslim yang di samping berdagang juga menyebarkan Islam. Disebutkan pula bahwa Islam di Jawa datang dari Sumatera, tepatnya dari Samudera Pasai. Hubungan yang berkembang dalam perdagangan diiringi oleh proses islamiasi, akhirnya melahirkan kelompok masyarakat muslim di sekitar pesisir pantai Jawa.

Pada abad ke-14 dan 15 kegiatan pelayaran dan perdagangan meningkat yang dilakukan oleh orang-orang Islam. Mereka mengunjungi pelabuhan-pelabuhan yang ada di kepulauan nusantara. Mereka tiba di pelabuhan Jawa, terutama yang terletak di pesisir utara pulau Jawa, seperti Gresik, Tuban dan Jepara.

“Saudagar-saudagar Islam kemudian ada yang menetap di daerah-daerah pelabuhan itu dan tentu saja atas izin penguasa kerajaan hingga kemudian hidup di tengah-tengah penduduk kafir (belum Islam). biasanya orang Islam itu cenderung menyebarkan agamanya terutama di kalangan yang belum Islam.”3)

Penyebaran Islam tersebut melahirkan kelompok masyarakat muslim yang ada di pesisir pantai yang akhirnya menjadi desa-desa, daerah-daerah, dan akhirnya berdirilah kerajaan Islam. Suatu kenyataan pula bila penguasa pesisir pantai Jawa itu memeluk Islam, maka tendensi kekuasaannya bukan hanya sebagai penguasa pesisir pantai atau semacam adipati atau bupati, tapi nampaknya mereka telah memiliki hak yang sifatnya otonom dalam mengatur ekonomi negaranya.

Perkembangan islamisasi dan perdagangan di pesisir pulau Jawa nampak dengan berdirinya kerajaan Demak yang melepaskan diri dari kerajaan Majapahit. Demak didirikan oleh Raden Patah yang menurut sumber masih merupakan keturunan dari Majapahit.

Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa Sebagai Kekuatan Politik
Kerajaan Demak terbentuk dari daerah-daerah pelabuhan yang terletak di pesisir pulau Jawa, seperti Tuban, Jepara dan Gresik dengan pusatnya di Demak. Raden Patah sebagai adipati pesisir yang memeluk Islam melihat kepincangan-kepincangan yang terjadi dalam kekuasaan Majapahit. Kemunduran menuju keruntuhannya telah melanda Majapahit, simbol Hindu-Budha tidak mampu lagi mendukung ikatan kerajaan Majapahit. Raden Patah berusaha mereparasinya dengan tindakan politik yang berlandaskan pada agama Islam.

“Daerah-daerah pesisir sebelum utara Jawa diperintah oleh penguasa-penguasa setempat merupakan pangeran saudagar. Mereka takluk para raja Majapahit, akan tetapi mempunyai kekuasaan untuk bertindak bebas. Mereka menggunakan Islam sebagai senjata politik dan ekonomi untuk membebaskan diri sepenuhnya dari kekuasaan Majapahit.”4)

Pada tahun 1517-1518 Demak di bawah Raden Patah dengan bantuan para wali melakukan penyerbuan ke Majapahit dan berhasil menguasainya. Dengan demikian berpindahlah kekuasaaan sepenuhnya di tangan Raden Patah. Dia menjadi sultan Demak yang pertama dengan gelar “Sultan Sri Alam Akbar”.5)

Demak berdiri sebagai lambang kemenangan kekuatan baru yang bergelora dan tenaga baru yang segar. Demak kemudian berusaha memperluas wilayahnya dan menguasai Banten, Cirebon, Sunda Kelapa. Penaklukan ini dilakukan untuk membendung pengaruh kekuatan Portusgis yang saat itu telah mengadakan perjanjian dengan kerajaan Sunda dan Pajajaran. Di samping itu upaya penyebaran agama Islam di Jawa Barat. Nampaklah bahwa Demak sebagai kerajaan Islam seakan-akan bukan hanya bertugas membendung pengaruh Portugis yang berarti sebagai kekuatan politik di Jawa, tapi juga berusaha menyebarkan agama Islam di Jawa pada umumnya. Penguasa di Demak berturut-turut Raden Patah, Pati Unus, Sultan Trenggono yang masanya terjadi pertentangan yang mengakibatkan Demak pecah.

Di sebelah barat berdiri pula kerajaan Banten, yang mulanya masih merupakan bagian dari Demak. Di bawah Sultan Hasanuddin, Banten melepaskan diri dari kekuasaan Demak. Menurut Soekmono:

“Sementara itu Hasanuddin di Banten semakin berkuasa dan tidak lagi menghiraukan Demak yang sejak 1550 kacau keadaannya. Dalam tahun 1568 ia bahkan memutuskan sama sekali keadaannya, dan menjadi raja pertama di Banten. Ia memperluas daerahnya sampai di Lampung.”6)

Kemudian Hasanuddin digantikan oleh anaknya yang terkenal dengan nama Panembahan Yusuf. Ia berhasil menguasai Pajajaran. Panembahan Yusuf digantikan oleh Maulana Muhammad yang gugur waktu mengadakan penyerangan ke Palembang. Ia digantikan oleh Abdul Mufakir yang berkuasa hingga Belanda menguasai Banten.

Pecahnya Demak akibat perebutan tahta melahirkan kerajaan Pajang yang pusatnya di pedalaman dengan coraknya yang agraris, sehingga unsur penyiaran agama Islam tidak terlalu diperhatikan, begitu pula pada masa kerajaan Mataram yang berada di pedalaman. Coraknya Islam, namun merupakan sinkretisasi dengan unsur-unsur tradisional, khususnya agama Hindu.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa berkembangnya Islam sebagai kekuatan baru dalam masyarakat di nusantara telah menggantikan kedudukan Majapahit dan menjadi suatu babakan baru dalam perkembangan sejarah bangsa Indonesia dengan corak dan bentuk lain, yakni kerajaan Islam.

Daftar Referensi:
1)  Saifuddin Zuhri, 1981. Sejarah Kebangkita Islam dan Perkembangannya di Indonesia. Bandung:      Al-Maarif, hal. 215 2)  Ibid, hal. 216

3)  Agus Aris Munandar, Peranan Islam dalam Kerajaan-kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa,

     dalam Majalah Analisa Kebudayaan, tahun IV, No. 2, 1983/1984, hal. 117

4)  C.S. Hurgronye, 1972. Islam di Hindia Belanda. Jakarta: Bharatara, hal. 15

5)  Drs. H. Badri Rasyidi, 1987. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Armico, hal. 108
6)  Drs. Soekmono, 1988. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid 3, Yogyakarta: Kanisius,
     hal. 57 Artikel Terkait dengan Sejarah
•  Pengertian Humanisme
•  Pengertian Sejarah
•  Awal Perkembangan Islam di Cina
•  Korte Verklaring (Perjanjian Pendek)
•  Peranan Pemuda dalam Sejarah Perjuangan Bangsa
•  Asas dan Bentuk Perjuangan Organisasi Perhimpunan Indonesia
•  Pengaruh Sumpah Pemuda terhadap Pergerakan Nasional Indonesia
•  Sejarah Singkat Sumpah Pemuda
•  Proses Terbentuknya PPKI
•  Pengertian Renaissance
•  Proses Rasionalisasi dan Reorganisasi Angkatan Perang RI
•  Latar Belakang Rasionalisasi dan Reorganisasi Angkatan Perang RI
•  Als ik eens Nederlander was (Andaikata Aku Seorang Belanda)
•  Dampak Positif dan Negatif Pendudukan Jepang di Indonesia
•  Peranan KTN dalam Penyelesaian Sengketa Indonesia Belanda
•  Alasan RI Menerima Persetujuan Linggarjati
•  Peranan Falatehan dalam Penyebaran Islam di Jawa Barat
•  Perlawanan Islam terhadap Kolonialisme Belanda
•  Karakteristik Perjuangan Islam Melawan Imperialisme Barat
•  Keruntuhan Majapahit