Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu
snouck_hurgronje

Peranan Snouck Hurgronje dalam Perang Aceh | Tuan Guru

Snouck Hurgronje lahir di Tholen, provinsi Oosterhout, 8 Februari 1857. Sebagaimana ayah dan kakeknya yang menjadi pendeta Protestan, Snouck melanjutkan pendidikan dalam bidang teologi. Namun sejak awal ia tertarik mempelajari Islam. Tamat sekolah menengah, ia pergi ke Universitas Leiden untuk menuntut ilmu teologi dan sastra Arab pada 1875. Lima tahun kemudian ia lulus dengan predikat cum laude dengan disertasi berjudul Het Mekkaansche Feest (Perayaan di Mekah). Pada tahun 1884, Snouck yang fasih berbahasa Arab dan memahami seluk-beluk agama Islam berangkat ke Mekah untuk mendalami bahasa dan sastra Arab. Ia berhasil masuk dan diterima oleh komunitas ulama dan penguasa di kota suci yang berada di bawah perlindungan Kesultanan Turki Usmaniyah. Untuk merebut hati ulama Mekah, Snouck memeluk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Gaffar.

snouck_hurgronje
Snouck Hurgronje (http://id.wikipedia.org)

Di Mekah pula Snouck Hurgronje untuk pertama kali mendengar cerita tentang Hindia Belanda. Ia bertemu dengan Habib Abdurrahman Az-Zahir, seorang Arab yang pernah dipercaya sebagai wakil pemerintahan oleh Sultan Aceh. Tergiur oleh iming-iming imbalan pembayaran pensiun seumur hidup yang ditawarkan Belanda, Az-Zahir lalu menawarkan informasi tentang Aceh kepada Snouck dan Konsul Belanda di Jeddah, J.A. Kruyt. Saat itu pemerintah kolonial Hindia Belanda sedang kebingungan mencari cara memadamkan perlawanan rakyat Aceh. Fenomena ini menarik Snouck untuk meneliti masyarakat Nusantara, khususnya suku-suku yang taat dalam menganut Islam. Dia mulai mempelajari politik kolonial dan upaya untuk memenangi pertempuran di Aceh. Sayang, saran-saran Habib Zahir tak ditanggapi Gubernur Belanda di Nusantara. Karena kecewa, semua naskah penelitian itu Zahir serahkan pada Snouck yang saat itu, 1886, telah menjadi dosen di Leiden. Snouck pun menghubungi menteri jajahan Belanda dan menawarkan diri untuk dikirim ke Hindia Belanda melakukan penelitian terhadap Islam.

Pada 1889, dia menginjakkan kaki di Pulau Jawa, dan mulai meneliti pranata Islam di masyarakat pribumi Hindia-Belanda, khususnya Aceh. Setelah Aceh dikuasai Belanda dalam tahun 1905, Snouck mendapat penghargaan yang luar biasa. Setahun kemudian dia kembali ke Leiden, dan sampai wafatnya pada 26 Juni 1936, dia tetap menjadi penasihat utama Belanda untuk urusan penaklukan pribumi di Nusantara.

Snouck Hurgronje baru pergi ke Aceh pada 1891. Selama tujuh bulan ia tinggal di Peukan Aceh, kawasan Aceh Besar, dan diterima dengan baik oleh masyarakat setempat. Pada 23 Mei 1892, Snouck mengajukan Atjeh Verslag, laporannya kepada pemerintah Belanda tentang pendahuluan budaya dan keagamaan, dalam lingkup nasihat strategi kemiliteran Snouck. Sebagian besar Atjeh Verslag kemudian diterbitkan dalam buku berjudul De Atjehers (Orang-orang Aceh). Buku ini mejadi acuan dasar dari setiap kebijakan Belanda untuk menghadapi gejolak di tanah jajahannya.

Selain tugas memata-matai Aceh, Snouck Hurgronje juga terlibat sebagai peletak dasar segala kebijakan kolonial Belanda menyangkut kepentingan umat Islam. Atas sarannya, Belanda mencoba memikat ulama untuk tak menentang dengan melibatkan massa. Tak heran, setelah Aceh, Snouck pun memberi masukan bagaimana menguasai beberapa bagian Jawa dengan memanjakan ulama.

Nasehat Snouck Hurgronje mematahkan perlawanan para ulama, karena awalnya Snouck sudah melemparkan isu bahwa yang berhak memimpin Aceh bukanlah uleebalang, tapi ulama yang dekat dengan rakyat kecil. Komponen paling menentukan sudah pecah, rakyat berdiri di belakang ulama, lalu Belanda melakukan tindakan keras terhadap ulama dengan harapan rakyat yang mendukung menjadi takut. Untuk waktu yang singkat, metode yang dipakai berhasil.

Van Heutsz dengan pasukan marsose-nya tentu saja ingin menerapkan nasihat pertama Snouck Hurgronje; mematahkan perlawanan secara keras. Tapi Snouck beranggapan bahwa pelumpuhan perlawanan dengan kekerasan hanya akan menimbulkan implikasi yang tambah sulit diredam. Akhirnya taktik militer Snouck memang diubah. Memang pada 1903, kesultanan Aceh takluk. Tapi persoalan Aceh tetap tak selesai. Snouck terpaksa mengubah taktik dengan mengusulkan agar di Aceh diterapkan kebijakan praktis yang dapat mendorong hilangnya rasa benci masyarakat Aceh karena tindakan penaklukkan secara bersenjata. Inilah yang menyebabkan sejarah panjang ambivalensi dialami dalam menyelesaikan Aceh. Snouck pula yang menyatakan bahwa takluknya kesultanan Aceh, bukan berarti seluruh Aceh takluk.

Sumber:
Aning S, Floriberta. 2005. 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia; Biografi Singkat Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah Indonesia di Abad 20. Yogyakarta: Narasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Christiaan_Snouck_Hurgronje

Artikel Terkait dengan Sejarah
•  Biografi Singkat Tan Malaka
•  Aktivitas Politik Tan Malaka Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
•  Biografi Singkat Sukarni (Pejuang Kemerdekaan)
•  Biografi Singkat Supriyadi (Pemimpin Pemberontakan PETA di Blitar)
•  Biografi Singkat Soepomo
•  Biografi Singkat Abdul Haris Nasution
•  Biografi Singkat Jenderal Soedirman
•  Perlawanan Islam terhadap Kolonialisme Belanda
•  Karakteristik Perjuangan Islam Melawan Imperialisme Barat
•  Korte Verklaring (Perjanjian Pendek)
•  Dampak Positif dan Negatif Pendudukan Jepang di Indonesia
•  Proses Terbentuknya PPKI
•  Faktor Ekstern Timbulnya Pergerakan Nasional Indonesia
•  Faktor Intern Timbulnya Pergerakan Nasional Indonesia
•  Renaissance dalam Islam
•  Lahirnya Demokrasi Terpimpin
•  Nasakom dan Nasakomisasi
•  Dewan Jenderal vs Dewan Revolusi
•  Peristiwa “Malari”
•  Politik Mercusuar