Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu
gib-1

Peran Guru; Belajar dari Kepahlawanan Ki Hadjar Dewantara | Tuan Guru

Pendidikan di Indonesia menghadapi dua masalah besar, yaitu masalah kuantitas dan kualitas pendidikan. Kuantitas pendidikan, berkenaan dengan penyediaan fasilitas belajar bagi semua anak usia sekolah, meliputi penyediaan ruang kelas, gedung dan peralatan sekolah, guru dan tenaga kependidikan. Masalah kedua yang dihadapi dunia pendidikan adalah menyangkut kualitas. Kualitas peserta didik dari hasil belajar, dan kualitas pendidik (guru).

Masih teringat kejadian beberapa waktu lalu, ketika dunia pendidikan kita dikejutkan dengan maraknya aksi tawuran yang menelan korban jiwa. Tak ayal, fokus pemikiran solutif semua elemen selain melihat kondisi pendidikan secara umum, juga me-review elektabilitas profesi guru, sosok yang dinobatkan sebagai pahlawan. Keberadaanya tak dapat diganti secara keseluruhan dengan tape, media visual, dan alat elektronik lainnya.

Apa yang salah dari peran guru? Pertanyaan ini mesti dicari jawaban utamanya. Bagi penulis, jawabannya sederhana, namun perlu komitmen individual guru untuk mengaplikasikanya.

Adalah Ki Hadjar Dewantara seorang Pahlawan Nasional yang lahir tanggal 2 Mei 1889, yang kemudian tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional, berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor: 316 tahun 1959. Kedekatannya dengan rakyat dibuktikan dengan tidak memasang gelar Raden Mas (RM), gelar kebangsawanannya sebagai putra kelima dari Soeryaningrat, putra Paku Alam III.

Perjuangan Ki Hadjar Dewantara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang dapat diambil sebagai pelajaran dalam kondisi kekinian, dapat dilihat dari beberapa hal.

Berpijak pada Budaya Bangsa
Dalam mendobrak tatanan pendidikan kolonial yang mendasarkan pada budaya asing dan berdasarkan pada budaya barat, jelas bukan pekerjaan mudah. Pengaruh informasi teknologi selain membawa dampak positif, namun tak dapat dipungkiri menjadi ujian baru terhadap output satuan pendidikan dan peran guru. Ketika perhatian pemerintah terhadap prasarana pendidikan tidak dibatasi dengan paradigma budaya bangsa, justru rawan menjadi salah satu penghambat proses pendidikan.

Sebagai contoh pengalaman penulis; ruang laboratorium multimedia pada saat istirahat, betul dipenuhi oleh peserta didik dengan aktivitas dunia virtual. Namun mayoritas dari mereka hanya mengakses situs jaringan pertemanan, dengan nuansa keluh kesah, curhat terbuka, dll, yang rawan bagi diri mereka sendiri.

Dalam posisi ini, guru sebaiknya belajar dari Ki Hadjar Dewantara memberikan alternatif yang berani, yaitu kembali ke jalan Nasional. Pendidikan untuk rakyat Indonesia harus berdasarkan pada budaya bangsanya sendiri. Memberikan kebebasan yang bukan tanpa batas. Kegiatan mereka harus terkontrol, dan menjadikan kebiasaan mereka sebagai media pendidikan

Konsep Jiwa Bergerak
Reorientasi perjuangan Ki Hadjar Dewantara dikembangkan dari pemikiran Maria Montessori dan Robindranat Tagore. Kedua tokoh tersebut merupakan pendobrak dunia pendidikan lama dan pembangunan dunia baru. Selain itu Ki Hadjar Dewantara juga tertarik pada Freidrich Frobel. Frobel adalah seorang pendidik dari Jerman yang mendirikan perguruan untuk anak-anak bernama Kindergarten (Taman Kanak-kanak).

Metodenya sederhana, peserta didik diajarkan menyanyi, bermain, dan melaksanakan pekerjaan anak-anak. Asumsinya, anak yang sehat badan dan jiwanya selalu bergerak. Penyediaan alat-alat dengan maksud untuk menarik anak-anak kecil bermain dan berfantasi. Berfantasi mengandung arti mendidik angan anak atau mengajari anak-anak berfikir.

Orientasi pendidikan jiwa bergerak tetap mementingkan hidup jasmani peserta didik, kemudian mengarahkannya pada kecerdasan budi. Dari sini kemudian muncul istilah pendidikan budi pekerti. Dasar utamanya, adanya kebebasan dan spontanitas untuk mendapatkan kemerdekaan hidup yang seluas-luasnya. Ini berarti bahwa anak-anak itu sebenarnya dapat mendidik dirinya sendiri menurut lingkungan masing-masing. Kewajiban pendidik hanya mengarahkan.

Konsep Inovatif
Guru sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan, mutlak memiliki konsep inovatif, dan dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada. Ki Hadjar Dewantara sebagai pahlawan telah mengajarkan konsep itu kepada guru sebagai pahlawan.

Konsep “Among” yang berarti asuhan dan pemeliharaan dengan suka cita, dengan memberi kebebasan anak asuh bergerak menurut kemauannya, berkembang menurut kemampuannya. Konsep ini kemudian dirumuskan dalam “Tutwuri Handayani”. Tutwuri Handayani berarti guru berperan sebagai pemimpin mengikuti dari belakang, memberi kebebasan dan keleluasaan bergerak yang dipimpinnya (peserta didik).

Among merupakan metode pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan dilandasi dua dasar, yaitu kodrat alam dan kemerdekaan. Guru sebagai pamong, tidak dibenarkan bersifat otoriter terhadap anak didiknya dan sejatinya bersikap Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tutwuri Handayani.

Pendidkan Budi Pekerti
Kekeliruan memahami hasil belajar sebagai prestasi belajar, umumnya menyebabkan guru lupa akan konsep budi pekerti. Konsep ini oleh Ki Hadjar Dewantara, dibangun dari tiga metode, yaitu: ngerti, ngrasa dan nglakoni.

Ngerti dimaksudkan memberikan pengertian yang sebanyak-banyaknya kepada anak. Di dalam pendidikan budi pekerti anak diberikan pengertian tentang baik dan buruk. Berkaitan dengan budi pekerti ini seorang guru atau pamong ataupun orang tua hendaknya berusaha menanamkan pengetahuan tingkah laku yang baik, sopan santun dan tata krama pada anak didik agar mereka mengerti bahwa tingkah laku yang buruk akan mendatangkan kerugian.

Metode ngrasa maksudnya, yaitu berusaha semaksimal mungkin memahami dan merasakan pengetahuan yang diperolehnya. Dalam hal ini diharapkan anak didik dapat memperhitungkan dan membedakan antara yang benar dan yang salah.

Nglakoni, yaitu mengerjakan setiap tindakan, tanggung jawab telah dipikirkan akibatnya berdasarkan pengetahuan yang telah didapatnya. Jika sudah mantap dengan tindakan yang akan dilakukan hendaknya segera dilaksanakan jangan ditunda-tunda.

Mewujudkan diri sebagai guru sesuai empat poin yang dapat diambil dari sepak terjang Ki Hadjar Dewantara sebagai Pahlawan Pendidikan Nasional, tampaknya masih menjadi pekerjaan rumah yang mau tak mau harus diselesaikan oleh seorang guru. Guru yang ditiru dan digugu, sedikit demi sedikit akan bergeser karena metode ngerti, ngrasa dan nglakoni, juga bergeser.

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Dikatakan demikian, karena dipundaknya beban arah kemajuan bangsa diemban. Dibutuhkan komitmen yang kuat, kesadaran akan tanggungjawab, keikhlasan yang dibarengi paradigma nasionalisme pendidikan. Karena itulah persyaratan seseorang layak dikatakan pahlawan.

gib-1

——- Tuan Guru ——-

Artikel Terkait
•  Multiperan Guru Sebagai Pendidik
•  Guru Sebagai Pembentuk Kepribadian
•  Indonesia Membaca, Membaca Indonesia
•  Sosok Guru Ideal dalam Pandangan Siswa
•  Mengenal Cara Berpikir Siswa
•  Eksistensi “Guru Sufi” di Dunia Pendidikan
•  Merumuskan Aspek EQ dan SQ dalam Tujuan Pembelajaran
•  Potret Gaya Mengajar Guru
•  Malpraktik di Dunia Pendidikan
•  Introspeksi di Hari Pertama Sekolah (Upaya Meningkatkan EQ Siswa)
•  Penerapan Sistem Moving Class (Kelas Berpindah)
•  Pelajar, Spesies yang Hampir Punah
•  Bridging Course Pasca Penerimaan Peserta Didik Baru
•  Pengertian dan Contoh Abstrak
•  Meningkatkan Peranan BK dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa