Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Penerapan Sistem Barcode Tingkatkan Kemunafikan Siswa | Tuan Guru

Ujian Nasional semakin dekat. Berbagai persiapan telah dilakukan baik pihak sekolah maupun siswa. Persiapan tersebut meliputi penguasaan materi dan persiapan mental spiritual. Semua itu dilakukan dengan satu tujuan; LULUS. Sebagian menambahkan tujuannya; LULUS DENGAN NILAI MEMUASKAN.

Persiapan mental amat penting mengingat penerapan sistem barcode dengan 20 paket pada UN 2013 membuat siswa galau. Penerapan barcode pada soal dan LJUN memangkas tindak kecurangan yang dilakukan banyak sekolah dalam UN tahun-tahun sebelumnya. Siswa harus siap menerima kenyataan bahwa pada UN kali ini modus HP tidak lagi dapat diterapkan, bantuan teman seruangan dan pengawas ruang tidak dapat diharapkan lagi. Jalan terakhir adalah memasrahkan diri sepenuhnya pada Yang Maha Kuasa.

Menghadapi UN tahun ini banyak guru lebih menekankan pembinaan mental dan spiritual siswa. Dalam keputusasaan, pendekatan spiritual ini sedikit menenangkan. Ketika kemampuan akademik tidak memadai, maka faktor X menjadi tumpuan harapan satu-satunya. Faktor X sering didefinisikan sebagai faktor nasib, keberuntungan, atau bantuan Tuhan.

Untuk memperoleh anugerah Tuhan tentu mesti disertai dengan usaha. Menjalankan perintah-Nya dengan baik menimbulkan secercah harapan akan turunnya bantuan Ilahi. Bukankah Dia Maha Pengasih dan Penyayang? Maka petuah-petuah guru dan orang tua yang selama 3 tahun ini susah diterima, kini didengar dengan penuh takzim. Mushallah sekolah pun mulai ramai digunakan shalat dhuha, tidak ketinggalan wirid dan zikir. Hampir tiap hari guru pembina kerohanian di-sms, “kapan dilaksanakan shalat tasbih, zikir dan doa bersama?”

Menggembirakan melihat anak-anak yang duduk di tahun terakhir mulai menunjukkan sikap spiritualis. Jika sebelumnya mereka murid Eyang Subur, kini mulai menjadi pengikut Arifin Ilham. Tapi di balik itu tercium bau kemunafikan, tidak berasal dari hati terdalam, terpaksa, instan. Mungkin ikut sikon saja menyaksikan di media elektronik maraknya acara zikir dan doa bersama dalam rangka UN. Bahwa perubahan sikap ini bersifat temporer terbukti ketika pengumuman lulus dirayakan dengan konvoi kendaraan bermotor secara ugal-ugalan di jalan raya. Bahkan ada yang merayakannya dengan miras, nauzubillah min zalik.

Kemunafikan ini bukan saja melanda siswa, tapi juga stake holder sekolah. Siswa diberi motivasi agar belajar sungguh-sungguh, tapi dalam pertemuan antar kelompok (rayon) lebih banyak membicarakan trik menghadapi sistem barcode. Guru mengajarkan kejujuran pada siswa, namun di saat UN justru memberi contoh tidak jujur. Bukankah amat menggelitik jika pada acara pisah tamat dengan lantang diumumkan kelulusan 100% diiringi sorak gembira murid dan tepuk tangan riuh orang tua siswa, namun di lubuk hati ada perasaan bersalah dan tidak bangga atas hasil yang dicapai? Praktek kecurangan UN telah melahirkan pribadi-pribadi munafik.

Ujian Nasional pada akhirnya hanya meningkatkan kemunafikan, mempertontonkan sinetron kepalsuan yang celakanya justru digemari siswa. Lalu buat apa digelar setiap tahun? Akan lebih baik jika dana UN dipakai buat menyukseskan pendidikan karakter agar dapat mencetak generasi yang jujur.

——- Tuan Guru ——-

Artikel Terkait
  Mendidik Anak Mengenal Ilmu Gaib
  Haruskah Siswa Lulus 100% dalam UN?
  Sulitnya Guru Punya Rumah Idaman
  Banyak Guru Menderita Penyakit Amnesia
  Guru Harus Menjadi Sutradara yang Baik
  Pilih Tunjangan Sertifikasi atau Sehat?
  Merubah Paradigma Anak tentang Makna Belajar
  Evaluasi Bukan untuk Menghakimi Siswa
  Masih Perlukah Diadakan Rapat Kenaikan Kelas?
  Kapan Guru Menjadi “Guru Dewasa”?
  Kisah Gagal para Calon Anggota Legislatif 2009
  Profil “Artis Langit”
  Pertanyaan di Hari Kiamat
  Memahami Makna Kisah Para Nabi dalam al-Quran
  Hidup Sebagai Orang Kaya, Dihisab Sebagai Orang Miskin