Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Penerapan Metode Drill dalam Pembelajaran | Tuan Guru

Metode drill adalah suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan agar memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari.

Dalam buku Nana Sudjana, metode drill adalah suatu kegiatan melakukan hal yang sama, berulang-ulang secara sungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu keterampilan agar menjadi bersifat permanen. Ciri yang khas dari metode ini adalah kegiatan berupa pengulangan yang berkali-kali dari suatu hal yang sama.

Dengan demikian terbentuklah pengetahuan-siap atau ketrampilan-siap yang setiap saat siap untuk di pergunakan oleh yang bersangkutan.

Bentuk-bentuk metode drill dapat direalisasikan dalam berbagai bentuk teknik, antara lain teknik Inquiry (kerja kelompok), Discovery (penemuan), Micro Teaching, Modul Belajar, dan Belajar Mandiri.

Tujuan penggunaan metode drill adalah agar siswa:

  1. Memiliki kemampuan motoris/gerak, seperti menghafalakan kata-kata, menulis, mempergunakan alat.
  2. Mengembangkan kecakapan intelek, seperti mengalikan, membagi, menjumlahkan.
  3. Memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan dengan yang lain.

Penerapan metode drill dalam pembelajaran hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Sebelum diadakan latihan tertentu, terlebih dahulu siswa harus diberi pengertian yang mendalam.
  2. Latihan untuk pertama kalinya hendaknya bersikap diagnostik:

1)  Pada taraf permulaan jangan diharapkan reproduksi yang sempurna. 2)  Dalam percobaan kembali harus diteliti kesulitan yang timbul. 3)  Respon yang benar harus diperkuat.

4)  Baru kemudian diadakan variasi, perkembangan arti dan kontrol

  1. Masa latihan secara relatif singkat, tetapi harus sering dilakukan.
  2. Pada waktu latihan harus dilakukan proses essensial.
  3. Di dalam latihan yang pertama-tama adalah ketepatan, kecepatan dan pada akhirnya kedua-duanya harus dapat tercapai sebagai kesatuan.
  4. Latihan harus memiliki arti dalam rangka tingkah laku yang lebih luas.

1)  Sebelum melaksanakan, siswa perlu mengetahui terlebih dahulu arti latihan itu. 2)  Ia perlu menyadari bahwa latihan-latihan itu berguna untuk kehidupan selanjutnya.

3)  Ia perlu mempunyai sikap bahwa latihan-latihan itu diperlukan untuk melengkapi belajar.

Kepustakaan:
Nana, Sudjana. 1991. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Muhaimin, Abdul Mujib. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Trigenda Karya Roestiyah, NK. 1989. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara
Winarno, Surakhmad. 1994. Pengantar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung: Tarsito