Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu
dezevenprovincien

Pemberontakan Anak Buah Kapal “de Zeven Provincien” (1933) | Tuan Guru

Kronologi pemberontakan awak kapal perang de Zeven Provincien dimulai dari aksi pemogokan para pelaut Belanda di Surabaya pada 30 Januari 1933. Pemogokan itu diikuti oleh para pelaut Indonesia pada 3 Februari 1933. Pada masa-masa tersebut serikat pekerja pegawai bawahan angkatan laut di Surabaya menyelenggarakan rapat-rapat dan protes terhadap penurunan gaji sebesar 17%.

Pada permulaan Januari 1933 kapal de Zeven Provincien mendapat tugas berlayar dari Surabaya untuk mengelilingi pulau Sumatera. Kapal perang tersebut telah berpengalaman cukup banyak dalam pelayaran di Indonesia sejak tahun 1910 dan pernah mengelilingi dunia tahun 1918. Awak kapal de Zeven Provincien berkebangsaan Indonesia di bawah pimpinan Paradja, Rumambi, dengan bantuan seorang kelasi Indonesia, Kawilarang, memutuskan mengambil alih kapal perang tersebut dari tangan awak kapal perang Belanda sebagai aksi protes terhadap kebijakan pemerintah menurunkan gaji sebesar 17%. Di samping itu aksi protes itu juga menuntut pembebasan para pelaut Indonesia yang ditangkap dan ditahan oleh pemerintah, karena terlibat aksi protes serikat sekerja pegawai bawahan Angkatan Laut.

Rencana pemberontakan itu sebenarnya telah diketahui desas-desusnya oleh para kelasi berkebangsaan Belanda, namun mereka justru mendukung rencana rekan-rekannya yang berkebangsaan Indonesia. Tanggal 4 Februari 1933 adalah hari yang dipilih para pemberontak untuk memulai aksi protesnya. Alasannya, antara lain hari Sabtu tanggal 4 Februari 1933 itu, sebagian besar para Perwira dan Bantara akan mendarat di pebuhan Olele. Dengan alasan ini maka para pemberontak telah bersepakat bahwa aksi protes baru akan dihentikan apabila tuntutan mereka disetujui oleh pemerintah.

Meskipun rencana pengambilalihan kapal perang itu dirahasiakan para pemberontak, beberapa perwira Belanda yang masih bertugas di dalam kapal telah mencium rencana tersebut. Namun komandan de Zeven Provincien, Letkol. Eikendoom, yang sedang menghadiri resepsi yang diselengggarakan Gubernur Militer wilayah Aceh, tidak cukup percaya laporan para perwira Belanda. Resepsi militer di Olele tanggal 4 Februari 1933 adalah suatu pertemuan antara angkatan darat dengan pasukan Marine Belanda yang sedang bertugas dalam pelayaran di kapal perang de Zeven Provincien tersebut.

Seperti diketahui, untuk kepentingan pertahanan di Indonesia, pemerintahan Nederland mengeluarkan dasar-dasar pertahanan pada tahun 1927. Berdasarkan aturan tersebut, kapal perang de Zeven Provincien termasuk pendukung utama kekuatan maritim Belanda di Indonesia, yang juga dipersiapkan menghadapi perang Pasifik menghadapi Jepang. Kapal perang de Zeven Provincien dibangun tahun 1908 di Amsterdam dan memulai tugasnya pada tahun 1910 ke Hindia Belanda. Ukuran panjang 107, 50 m dan bobotnya 6.525 ton dengan lebar 17,50 m. Anak buah kapal ini sebanyak 141 orang Belanda, termasuk 22 orang tamtama, 30 perwira, 256 orang Bumiputera. Kapal ini dipersenjatai dengan beberapa pucuk senjata meriam.

Ketika melintasi Padang pada 9 Februari 1933, Belanda sudah khawatir akan kemungkinan tentang penembakan pelabuhan Padang oleh kapal de Zeven Provincien. Demikian pula ketika kapal tersebut memasuki Selat Sunda pada 10 Februari 1933, Belanda telah bersiaga dengan beberapa kapal selamnya mengepung kapal de Zeven Provincien agar pelayarannya terhambat sehingga tidak melintasi Batavia. Untuk menekan agar para pemberontak segera menyerahkan diri, maka pesawat udara Dormier milik angkatan udara Hindia Belanda diterbangkan dari Surabaya ke Selat Sunda. Komandan pesawat Dormier memberikan isyarat-isyarat melalui komunikasi radio kepada para pemberontak agar segera menyerah, dan menghentikan kapalnya. Tetapi permintaan komandan Dormier itu tidak dihiraukan para pemberontak. Mereka tetap melajutkan pelayarannya menuju Surabaya. Tanpa diduga sebelumnnya bahwa pesawat Dormier akan sungguh-sungguh menjatuhkan bom. Peringatan komandan Dormier pada mulanya hanya dianggap sebagai ancaman dan peringatan belaka agar pemberontak menyerah. Ternyata komandan Dormier memerintahkan menjatuhkan bom tepat kena sasaran pada 10 Februari 1933 ketika kapal tersebut akan melintasi Selat Sunda dalam kepungan kapal selam.

Sekitar enam belas awak kapal Indonesia gugur dalam pemboman itu dan puluhan awak lainnya luka berat. Mereka yang meninggal dimakamkan tanpa upacara di pulau kecil dekat pulau Onrust, di teluk Jakarta. Sedangkan para pelaut Belanda yang gugur dimakamkan di pulau Bidadari.

dezevenprovincien

Awak kapal Indonesia yang masih hidup antara lain Kawilarang, seorang kelasi yang mengambil bagian kepemimpinan dalam pemberontakan itu, oleh pengadilan dijatuhi hukuman enam belas tahun. Demikian pula awak kapal Belanda tidak luput dari hukuman. Sedangkan komandan kapal Eikendoom, yang dituduh melalaikan tugasnya sebagai komandan dihukum empat tahun penjara.

Kiranya dapatlah diringkas kembali bahwa depresi ekonomi, kebijakan politik reaksioner dan suasana radikal dari kaum nasionalis telah mendorong terjadinya pemberontakan awal kapal de Zeven Provincien. Akibat peristiwa itu, kebijakan kolonial terhadap organisasi pergerakan makin reaksioner.

Artikel Terkait dengan Sejarah
•  Korte Verklaring (Perjanjian Pendek)
•  Peranan Pemuda dalam Sejarah Perjuangan Bangsa
•  Asas dan Bentuk Perjuangan Organisasi Perhimpunan Indonesia
•  Pengaruh Sumpah Pemuda terhadap Pergerakan Nasional Indonesia
•  Sejarah Singkat Sumpah Pemuda
•  Proses Terbentuknya PPKI
•  Pengertian Renaissance
•  Proses Rasionalisasi dan Reorganisasi Angkatan Perang RI
•  Latar Belakang Rasionalisasi dan Reorganisasi Angkatan Perang RI
•  Akibat Praktek Kolonial Daendels dan Raffles
•  Praktek Kolonial Daendels dan Raffles
•  Als ik eens Nederlander was (Andaikata Aku Seorang Belanda)
•  Dampak Positif dan Negatif Pendudukan Jepang di Indonesia
•  Peranan KTN dalam Penyelesaian Sengketa Indonesia Belanda
•  Alasan RI Menerima Persetujuan Linggarjati
•  Latar Belakang Persetujuan Linggarjati
•  Lahirnya Demokrasi Terpimpin
•  Sejarah Singkat Perguruan Taman Siswa
•  Perkembangan Pers di Indonesia Hingga Terbentuknya Pers Nasional
•  Peranan Pers dalam Pergerakan Nasional Indonesia