Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Paradigma Baru Pendidikan Nasional | Tuan Guru

A. Latar Belakang Topik utama dalam pendidikan adalah manusia, karena manusia adalah subjek sekaligus objek pendidikan. Manusia sebagai subjek bertanggung jawab untuk membina, memelihara, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan yang ada di dalam masyarakatnya. Tanggung jawab itu tidak mungkin terlaksana dengan baik tanpa dibarengi kualitas dari manusia itu sendiri. Hal ini sejalan dengan UUD 1945 yang di dalamnya dinyatakan tujuan membentuk negara kesatuan RI untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan tersebut dijabarkan dalam sistem pendidikan nasional (Indar, 1994:85).

Globalisasi dan perkembangan IPTEK yang semakin cepat dewasa ini mengharuskan bangsa Indonesia untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan handal untuk menghadapi berbagai tantangan, seperti krisis multidimensi yang melanda bangsa ini. Krisis tersebut telah menyebar ke semua aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, hukum, moral, maupun kebudayaan dan bahkan bidang pendidikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai peran dan konsep pendidikan dalam menghadapi keadaan tersebut.

Konsep-konsep pendidikan pada masa lampau masih memiliki berbagai kelemahan dalam melahirkan manusia-manusia yang berkualitas, karena kebijakan pendidikan masih bertumpu pada kepentingan politik penguasa. Oleh karena itu, pada masa kini diperlukan konsep-konsep baru atau paradigma baru pendidikan untuk menghadapi tantangan-tantangan masa depan yang semakin kompleks.

B. Pengertian Paradigma
Kata ‘Paradigma” dalam bahasa Inggris adalah “paradigm” yang berarti “model” (Echols dan Shadily, 1992:417). Sedangkan Barker menyatakan bahwa kata “paradigma” berasal dari bahasa Yunani yaitu “Paradeigma”, yang juga berarti model, pola, dan contoh. (Barker, 1999:38).

Menurut istilah, Adam Smith mendefinisikan paradigma sebagai cara kita memahami kehidupan, seperti air bagi ikan.

William Harmon menulis bahwa paradigma adalah cara yang mendasar dalam memahami, berfikir, menilai, dan cara mengerjakan sesuatu yang digabungkan dengan visi tentang kehidupan tertentu.

Sedangkan Barker sendiri mendifinisikan paradigma sebagai seperangkat peraturan dan ketentuan (tertulis maupun tidak) yang melakukan dua hal: (1) ia menciptakan atau menentukan batas-batas; dan (2) ia menjelaskan kepada anda cara untuk berperilaku di dalam batas-batas tersebut agar menjadi orang yang berhasil (Barker, 1999: 38-40).

Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, tampaklah bahwa paradigma adalah cara dan pola yang mendasari pemahaman, penilaian, peraturan, dan pedoman dalam mengerjakan sesuatu. Jadi, “paradigma baru” berarti cara atau pola baru dalam melakukan sesuatu.

Dengan demikian, bila dihubungkan dengan paradigma baru pendidikan nasional, maka dapatlah dipahami bahwa haruslah ada cara-cara baru atau pola baru dalam pendidikan nasional. Dengan kata lain bahwa kesalahan-kesalahan konsep pendidikan pada masa lalu perlu diadakan pembaruan. Pembaruan yang dimaksud harus berorientasi pada kemajuan masa depan.

C. Paradigma Baru Pendidikan Nasional
Pembaruan pendidikan tidak mungkin terjadi tanpa adanya pembaruan paradigma. Pembaruan paradigma pendidikan nasional harus dapat mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan internal dan global. Paradigma tersebut haruslah mengarah kepada lahirnya generasi bangsa Indonesia yang bersatu dan demokratis. Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan dan penyusunan kurikulum yang sentralistik harus diubah dan disesuaikan dengan tuntutan pendidikan yang demokratis. Demikian pula dalam menghadapi gelobalisasi, maka proses pendidikan haruslah dapat meningkatkan kemampuan berkompetisi di dalam kerja sama, inovatif, dan meningkatkan kualitas. Oleh sebab itu, paradigma baru pendidikan nasional dapat mengembangkan kebhinekaan menuju satu masyarakat Indonesia yang bersatu dan demokratis.

Dengan demikian, paradigma baru pendidikan nasional haruslah dituangkan dalam bentuk kebijakan pemerintah. Kebijakan tersebut dapat dijabarkan dalam berbagai program pengembangan pendidikan nasional secara bertahap dan berkelanjutan (Tilaar, 2000:19).

Kebijakan dan peran pendidikan yang berorientasi kemajuan ke masa depan itu adalah dapat melahirkan manusia Indonesia yang berkualitas. Manusia yang berkualitas adalah manusia yang memiliki moral yang tinggi dan intelektual yang memadai untuk mengenal atau menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Manusia berkualitas yang hendak dilahirkan melalui pendidikan itu, tidak mungkin terealisasikan jika pendidikan kita masih berorientasi pada nilai akademik saja, tetapi juga berorientasi pada bagaimana seorang peserta didik mampu belajar dari pengalaman lingkungan, dan kehebatan para ilmuwan, sehingga ia bisa mengembangkan potensi intelektualnya. (Sidi, 2001:26).

Orientasi pendidikan tersebut di atas tidak dapat terlaksana  jika pendidikan kita tidak memiliki visi yang jelas. Sidi (2001:25-27) menawarkan empat visi pendidikan yang harus diterapkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas. Pertama, kita hendaknya mengubah paradigma teaching menjadi learning (mengajar menjadi belajar). Dalam paradigma ini, peserta didik tidak lagi disebut siswa, tetapi pebelajar. Jadi peserta didik belajar menyatakan pendapatnya dengan kritis atau bagaimana ia berpikir (learning to think). Kedua, belajar untuk berbuat (learning to do). Jadi target yang ingin dicapai adalah keterampilan peserta didik dalam menyelesaikan suatu masalah (how to solve the problem). Ketiga, belajar hidup bersama (learning to live together). Jadi, pendidikan berorientasi pada pembentukan peserta didik yang mampu menyesuaikan diri dalam masyarakat yang terdiri atas  berbagai latar belakang sosial. Di sinilah peserta didik diarahkan untuk mengenal nilai-nilai seperti, HAM, perdamaian, toleransi, dan pelestarian lingkungan hidup. Keempat, belajar menjadi diri sendiri (learning to be). Visi ini beorientasi pada usaha untuk menghasilkan manusia yang mandiri, memiliki harga diri, dan tidak hanya mengharapkan materi dan kedudukan. Kelima, metode pengajaran harus membentuk suasana yang mengaktifkan potensi emosional, agar otak kanan terbuka sehingga daya pikir intuitif dan holistik dapat terangsang untuk belajar.

D. Penutup
Paradigma baru pendidikan adalah pola atau konsep-konsep baru pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan adalah melahirkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi berbagai tantangan masa depan. Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional haruslah memiliki visi-misi yang jelas, strategi-strategi baru, dan konsep-konsep baru dalam proses dan pengelolaan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan IPTEK dan perubahan sosial yang terjadi.

Kepustakaan:
Barker, Joel Arthur. Paradigma Upaya Menemukan Masa Depan. Batam: Interajsar, 1999.
Echols, M.John. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: Gramedia, 1992.
Indar, Djumberansyah. Filsafat Pendidikan. Surabaya: Karya Abditama, 1994.
Sidi, Indra Djati . Menuju Masyarakat Belajar, Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. Jakarta: Paramadina, 2001.
Tilaar, HAR. Pendidikan Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999.
__________. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta, 2000.