Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Pandangan Tentang Tipologi Guru | Tuan Guru

Pengertian Tipologi adalah ilmu yang mempelajari tentang watak dan atau kepribadian manusia. Dengan batasan seperti ini, maka pandangan tentang tipologi guru yang dimaksudkan adalah syarat guru, sifat guru, dan tugas guru. Ketiga tipologi ini, sangat terkait dengan watak dan kepribadian guru yang dalam berbagai literatur pendidikan yang penulis telusuri, sering dijelaskan secara bersamaan. Dalam kenyataannya pula bahwa syarat, sifat dan tugas guru sulit dibedakan, sehingga pembedaannya harus ditelusuri dengan cara mencermati ketiga masalah tersebut berdasarkan tipologinya masing-masing.

Syarat-syarat Guru
Berdasar pada rumusan pengertian guru sebagai pendidik, maka seseorang dapat disebut sebagai guru bila ia memenuhi beberapa persyaratan. Dengan demikian, guru sebagai pendidik pada dasarnya bukan orang sembarangan. Seseorang yang diangkat menjadi guru pada suatu lembaga pendidikan tertentu, seharusnya ia tidak boleh diterima begitu saja, tanpa diseleksi berdasarkan ketentuan yang merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh seorang guru.

Syarat menjadi seorang guru harus diperhatikan dan diterapkan secara tegas, terutama dalam penerimaan guru. Sekaitan dengan ini,  Zakiah Daradjat menyatakan bahwa untuk menjadi guru yang baik, ada empat syarat yang harus dipenuhi, yaitu  taqwa kepada Allah, berilmu, sehat jasmani dan berkelakuan baik. Dalam kaitannya dengan hal ini, Ahmad Tafsir juga mengemukakan empat syarat bagi seorang guru dengan merujuk pendapat Soejono yang secara ringkas dapat disebutkan, misalnya harus sudah dewasa, harus sehat jasmani dan rohani, harus ahli atau memiliki kemampuan mengajar, dan harus berkesusilaan dan ber-pendidikan tinggi.

Syarat-syarat menjadi guru tersebut sebagaimana yang disebutkan di atas, kelihatannya saling melengkapi. Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa bahwa syarat-syarat untuk menjadi guru meliputi: taqwa kepada Allah, sudah dewasa, sehat jasmani dan rohani, berilmu, memiliki kemampuan mengajar, berkelakuan baik dalam arti berkesusilaan, dan berdedikasi tinggi. Syarat yang disebut terakhir ini, menyangkut masalah akhlak dan tidak hanya diperlukan dalam mendidik, tetapi juga diperlukan dalam meningkatkan mutu pengajaran.

Jadi, yang terpenting adalah seorang guru harus memiliki dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang terpuji (al-akhlaq al-mahmudah) sekaligus meng-hindari akhlak yang tercela (al-akhlaq al-mazmumah). Seorang guru yang senantiasa menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia dan terpuji, hampir dapat dipastikan seluruh murid yang merupakan anak didiknya akan merasa senang kepadanya dan menghormatinya. Sebaliknya jika seorang guru berakhlak tercela, maka murid-muridnya akan merasa benci kepadanya dan menjauhinya, bahkan mungkin saja menjadi salah satu faktor penyebab timbulnya semacam penyakit kejiwaan (sindrom) di kalangan murid-muridnya yang disebut fobi sekolah. Sekaitan dengan ini, Zakiah Daradjat menyebutkan sejumlah akhlak yang seharusnya dimiliki seorang guru, misalnya; mencintai jabatannya sebagai guru, bersikap adil terhadap semua muridnya, berlaku sabar dan tenang, berwibawa, gembira, bersifat manusiawi, bekerja sama dengan guru-guru lain, dan bekerja sama dengan masyarakat.

Mengenai sikap guru terhadap teman sejawat adalah memelihara hubungan seprofesi, memiliki semangat kekeluargaan, dan mempunyai kesetiakawanaan sosial. Sikap seperti ini, harus pula diwujudkan dalam bersikap terhadap anak didik, yakni berbakti dalam arti membimbing peserta didik sesuai dengan tujuan pokok pendidikan.

Selanjutnya mengenai sikap terhadap tempat kerja, adalah menciptakan suasana kerja yang baik. Sedangkan sikap terhadap pemimpin adalah menciptakan suasana harmonis terhadap kepala sekolah dan sikap terhadap pekerjaan adalah melaksanakan tugas guru dengan penuh kesabaran dan ketelatenan yang tinggi, terutama bila berhubungan dengan peserta didik.

Masih terkait dengan pandangan tentang sikap guru, oleh Kamal Muh. Isa menyatakan bahwa seorang guru dituntut untuk memiliki berbagai sikap, yakni siap memikul amanat, mampu mempersiapkan dirinya sesempurna mungkin, meng-hindari sikap tamak dan bathil, wajib berusaha memerangi kata hatinya, atau suara batinnya yang tidak benar, dan harus memiliki sikap terpuji. Semua sikap guru seperti yang telah disebutkan, merupakan syarat penting untuk ditanamkan dalam diri setiap guru dalam rangka meningkatkan mutu, baik peningkatan mutu guru sebagai pendidik maupun peningkatan mutu siswa sebagai peserta didik.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dikemukakan bahwa standarisasi syarat guru minimal enam syarat, yaitu beriman dan taqwa kepada Allah, sudah dewasa, berilmu pengetahuan yang luas, sehat jasmani dan rohani, berakhlak mulia, dan memiliki kemampuan mendidik dalam arti luas.

Sifat Guru
Mohamad Surya dalam pandangannya bahwa sifat utama dari seorang guru adalah kemampuannya dalam mewujudkan kinerja profesional yang sebaik-baiknya dalam mencapai tujuan pendidikan. Menurutnya, sifat-sifat tersebut, mencakup kepribadian guru dan penguasaan keterampilan teknis keguruan. Dengan kata lain, seorang guru menurut Mohamad Surya adalah hendaknya memiliki kompentensi yang mantap. Kompentensi adalah seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya secara profesional, tepat. dan efektif. Kompetensi yang dimaksud berada dalam diri pribadi guru yang bersumber dari kualitas kepribadian, pendidikan, dan pengalamannya. Kompetensi tersebut meliputi kompetensi intelektual, fisik, pribadi, sosial, dan spiritual.

Selanjutnya, dalam pandangan Mohamad Athiyah al-Abrasyi sebagaimana yang dikutip oleh Abuddin Nata, disebutkan bahwa terdapat tujuh sifat yang harus dimiliki oleh guru, yakni; zuhud; jiwa yang bersih; ikhlas; pemaaf; mencintai murid; mengetahui bakat, tabiat, dan watak murid; serta menguasai mata pelajaran. Sementara itu, Asama Hasan Fahmi sebagaimana dikutip oleh Ahmad Tafsir, ia mengajukan beberapa sifat guru, yakni; tenang; tidak bermuka masam; tidak berolok-olok di hadapan anak didik dan sopan santun.

Sejalan dengan uraian di atas, Ahmad Tafsir dalam pandangannya tentang sifat-sifat guru, ia mengemukakan bahwa sifat-sifat guru adalah kasih sayang pada murid, senang memberi nasehat, senang memberi peringatan, senang melarang murid melakukan hal yang tidak baik, bijak dalam memilih bahan pelajaran yang sesuai dengan lingkungan murid, hormat pada pelajaran lain yang bukan pegangannya, bijak dalam memilih bahan pelajaran, mementingkan berfikir dan berijtihad, jujur dalam keilmuan, dan bersifat adil. Selanjutnya, H. Abuddin Nata dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, ketika membahas tentang sifat-sifat pendidik yang baik, ia menjelaskan bahwa seorang guru di samping harus menguasai pengetahuan yang akan diajarkannya kepada murid, juga harus memiliki sifat-sifat tertentu yang dengan sifat-sifat ini diharapkan apa yang diberikan oleh guru kepada para muridnya dapat didengar dan dipatuhi, tingkah lakunya dapat ditiru dan diteladani dengan baik.

Mencermati uraian-uraian yang telah dipaparkan, kelihatan bahwa para pakar pendidikan saling berbeda pandangan dalam merumuskan sifat-sifat guru. Di antara mereka, ada yang merumuskan sifat guru dengan mempersamakan-nya syarat guru. Misalnya, “sopan santun” sebagai sifat guru dalam rumusan Asama Fahmi, esensinya sama dengan “berkelakuan baik” sebagai syarat guru dalam rumusan Zakiyah Daradjat sebagaimana yang telah disebutkan dalam uraian terdahulu.

Sekaitan dengan pandangan-pandangan di atas, maka penulis merumuskan bahwa “syarat” merupakan sifat pokok guru, sedangkan “sifat” merupakan pelengkap syarat tersebut. Dengan rumusan seperti ini, maka jelas bahwa antara syarat dan sifat guru memiliki perbedaan.

Lain halnya dengan rumusan tentang sifat guru yang telah dikemukakan oleh Mohamad Surya, di mana ia berpandangan bahwa sifat guru adalah  “kompetensi guru” sebagaimana yang telah disebutkan dalam uraian terdahulu. Menurutnya, kompetensi guru tersebut meliputi; kompetensi intelektual, yakni perangkat pengetahuan yang ada dalam diri individu yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan tugas sebagai guru; kompetensi fisik, yakni perangkat kemampuan fisik yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan tugas guru dalam berbagai situasi; kompetensi pribadi, yakni perangkat perilaku yang berkaitan dengan kemampuan individu dalam mewujudkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri untuk melakukan transformasi diri, identitas diri, dan pemahaman diri; kompetensi sosial, yakni perangkat perilaku tertentu yang merupakan dasar dari pemahaman diri sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan sosial serta tercapainya interaksi sosial secara efektif; kompentensi spiritual, yakni pemahaman, penghayatan, serta pengamalan kaidah-kaidah keagamaan. Kompetensi-kompetensi guru yang telah disebutkan ini, adalah sifat utama dari seorang guru profesional.

Berdasar dari uraian-uraian di atas, maka dalam pandangan penulis bahwa sifat-sifat guru yang telah dirumuskan oleh pakar-pakar pendidikan semisal Athiyyah al-Absrasy, Asama Hasan Fahmi, dan Ahmad Tafsir, kelihatannya mengacu pada sifat-sifat guru menurut perspektif pendidikan Islam. Sedangkan rumusan Mohamad Surya, adalah mengacu pada sifat-sifat guru menurut perspektif pendidikan umum. Dengan merekonsiliasikan keduanya, akan bermuara pada suatu rumusan bahwa sifat-sifat guru yang ideal adalah harus berdasarkan nilai-nilai moralitas Islam dan harus ditunjang oleh beberapa kompetensi, yakni kompetensi intelektual, kompetensi fisik, kompetensi pribadi, kompetensi sosial, dan kompetensi spiritual.

Tugas Guru
Secara profesional, guru mempunyai tugas-tugas tertentu. Di antara tugas-tugas guru yang dimaksudkan di sini, yaitu mendidik, mengajar dan melatih peserta didik. Ketiga tugas guru yang disebutkan ini, ada pihak yang memandangnya sebagai tugas pokok. Selanjutnya, mendidik sebagai tugas guru menurut Ahmad Tafsir, telah disepakati oleh kalangan para ahli pendidikan, baik Islam maupun Barat. Ia mengakui, bahwa mendidik merupakan tugas guru yang amat luas dan sebagian dilakukan dalam bentuk mengajar, memberi dorongan, memuji, menghukum, memberi contoh, membiasakan dan sebagainya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, ia berusaha merujuk pada kegiatan pembinaan dan pengembangan apeksi peserta didik.

Tugas guru sebagai pendidik tidak hanya terbatas pada usaha mencerdaskan otak peserta didiknya saja, melainkan juga berupaya membentuk seluruh kepribadiannya, sehingga dapat menjadi manusia dewasa yang memiliki kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan mengembangkannya untuk kesejahteraan hidup umat manusia. Tugas guru dalam kegiatan mendidik ini kelihatannya berkonotasi sebagai suatu proses memanusiakan manusia agar mampu hidup secara mandiri dan dapat bertanggung jawab dalam seluruh lini kehidupan, sehingga tugas yang diembannya itu juga dapat dipahami berdimensi kemanusiaan dan kemasyarakatan.

Selain mendidik, tugas guru termasuk pula mengajar dan melatih peserta didik. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedang melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa. Dalam kaitannya dengan mengajar, S. Nasution memahaminya dalam arti menanamkan pengetahuan pada anak, menyampaikan kebudayaan kepadanya, dan sebagai suatu aktivitas dalam mengatur lingkungan dengan sebaik-baiknya, sehingga terjadi proses belajar. Melalui aktivitas yang disebut terakhir ini, mengajar mengandung arti membimbing aktivitas dan pengalaman anak serta membantu perkembangannya sehingga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Selain tugas mengajar, guru juga bertugas untuk membuat persiapan mengajar, tugas mengevaluasi hasil belajar, dan selainnya yang selalu bertalian dengan pencapaian tujuan pengajaran.

Tugas guru dalam melatih peserta didik yang dalam hal ini guru bertindak sebagai pelatih (coaches) adalah merujuk pada pembinaan dan pengembangan keterampilan peserta didik. Guru sebagai pelatih, kelihatannya memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi peserta didik untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri.

Kepustakaan:
Damin, Sudarwan, 2002. Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Daradjat, Zakiah. et.al., 2004. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Isa, Kamal H. Mohamad, 1994. Khashaish Madrasatin Nubuwwa diterjemahkan oleh Chairul Halim dengan judul Manajemen Pendidikan Islam. Jakarta: Fikahati Aneska.
Nasution, S, 1995. Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Nata, H. Abuddin, 1997. Filsafat Pendidikan Islam 1. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Surya, H. Mohamad, 2003. Percikan Perjuangan Guru. Semarang: CV. Aneka Ilmu.
Tafsir, Ahmad, 1994. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Usman, Moh. Uzer, 2004. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.