Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu
wanitasufi

Orang yang Berbicara dengan Al Quran | Tuan Guru

wanitasufi Di antara kisah-kisah yang menakjubkan (amazing stories) adalah kisah orang yang berbicara dengan Al Quran. Tuan Guru menukil salah satu kisah dari Kitab Hikaya ash Shufiyyah (Hikayat-hikayat Sufi) yang ditulis oleh Muhammad Abu al-Yusr ‘Abidin: Abdullah bin al-Mubarak ra. mengisahkan, “Aku keluar untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah dan berziarah ke makam Nabi saw. Ketika aku berada di suatu jalan, aku melihat titik hitam di jalan. Dan kulihat seorang nenek mengenakan baju dan jilbab dari wol. Aku menyapa, “Assalamu ‘alaiki warahmatullahi wabarakatuh.”. Dia menjawab, “(Kepada mereka dikatakan): ‘Salam’, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang” (QS. 36 : 58). Kemudian aku bertanya kepadanya, “Semoga Allah mengasihimu, apa yang engkau lakukan di tempat ini?” Dia menjawab, “Barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka tidak ada orang yang memberikan petunjuk kepadanya” (QS. 7 : 186).

Aku berkata dalam hati, “Sesungguhnya dia tersesat dari jalan.” Aku bertanya, “Akan kemanakah engkau?” Dia menjawab, “Mahasuci Allah, yang yang telah memperjalankan hamba-Nya di malam hari dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa” (QS 17 : 1). Dalam hati aku berkata, “Sesungguhnya dia telah menunaikan ibadah haji dan ingin ke Baitul Maqdis.” Aku lalu bertanya kepadanya, “Sejak kapan engkau berada di sini?” Ia menjawab, “Selama tiga malam dalam keadaan sehat” (QS 19 : 10). Aku bertanya, “Aku tidak melihat engkau membawa makanan yang dapat kau makan.” Dia menjawab, “Dia memberikan makan dan minum kepadaku” (QS 26 : 79). Aku bertanya, “Dengan apakah engkau berwudhu?” Dia menjawab, “Bila kamu tidak menemukan air, maka bertayamumlah dengan debu yang bersih” (QS 4 : 43).

Aku berkata kepadanya, “Aku membawa makanan, apakah engkau mau makan?” Dia menjawab, “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam” (QS 2 : 187). Aku berkata, “Ini bukan bulan Ramadhan.” Dia menjawab, “Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui” (QS. 2 : 158). Aku berkata, “Dalam perjalanan, kita dibolehkan untuk berbuka.” Dia menjawab, “Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. 2 : 184).

Aku bertanya, “Mengapa engkau tidak berbicara kepadaku sebagaimana aku berbicara kepadamu?” Dia menjawab, “Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. 50 : 18). Aku bartanya, “Dari golongan apakah engkau?” Dia menjawab, “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya” (QS. 17 : 36). Aku berkata, “Aku telah berbuat salah, maafkanlah aku.” Dia berkata, “Pada hari ini tiada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampunimu” (QS. 12 : 92). Aku berkata, “Apakah engkau berkenan menaiki untaku, sehingga engkau dapat bertemu dengan kafilah?” Dia berkata, “Dan apa yang kau kerjakan berupa kebaikan niscaya Allah mengetahui” (QS. 2 : 197).

Abdullah bin al-Mubarak melanjutkan, “Kemudian kurendahkan untaku.” Dia berkata, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya (QS. 24 : 30). Aku tundukkan pandanganku darinya dan kukatakan kepadanya, “Naiklah.” Saat dia akan naik, unta itu meloncat sehingga pakaiannya sobek. Dia berkata, “Dan apa musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatanmu sendiri” (QS. 42 : 30). Aku berkata kepadanya, “Sabarlah, sehingga unta ini kuikat.” Dia berkata, “Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat)” (QS. 21 : 79). Aku mengikat unta itu dan berkata, “Naiklah!” Tatkala dia menaiki unta, dia berkata, “Mahasuci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami” (QS. 43 : 13-14).

Abdullah berkata, “Kemudian kuambil tali unta itu dan aku bergerak dan berteriak. Dia berkata, “Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu” (QS. 31 : 19). Kemudian aku berjalan pelan-pelan dan menyenandungkan syair. Dia berkata, “Maka bacalah apa yang mudah dari Al Quran” (QS. 73 :20). Aku berkata, “Sungguh engkau telah diberi kebaikan yang banyak.” Dia berkata, “Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya), kecuali orang-orang yang berakal” (QS. 3 : 7). Saat aku berjalan sedikit, aku berkata, “Apakah engkau punya suami?” Dia menjawab, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan sesuatu yang jika diterangkan kepadamu niscaya menyusahkanmu” (QS. 5 : 101). Aku terdiam dan tidak berkata lagi hingga kami menjumpai kafilah. Aku berkata, “Kita telah sampai di kafilah. Dimanakah rombonganmu?” Dia menjawab, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia” (QS. 18 : 46). Dari sana aku tahu bahwa dia mempunyai anak. Aku bertanya, “Bagaimana keadaan mereka dalam haji?” Ia menjawab, “Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk” (QS. 16 : 16). Sehingga aku mengetahui bahwa mereka adalah para penunjuk jalan. Aku menuju kubah dan keramaian. Kemudian aku bertanya, “Kita telah sampai di kubah-kubah. Dari golongan manakah engkau?” Dia menjawab, “Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih” (QS 4 : 125). Dan Allah telah berfirman kepada Musa dengan firman yang sebenarnya (QS. 4 : 164). Hai Yahya, ambillah kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh” (QS 19 : 12). Maka aku memanggil, “Hai Ibrahim, Musa, dan Yahya.”

Tiba-tiba muncullah para pemuda menghadap dengan wajah bersinar bagai rembulan. Ketika mereka telah duduk, perempuan itu berkata, “Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut” (QS 18 : 19). Salah seorang di antara mereka pergi membeli makanan kemudian dihidangkan untukku. Perempuan itu berkata, “(Kepada mereka dikatakan): Makan dan minumlah dengan sedap karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu” (QS. 69 : 24).

Aku berkata, “Makananmu tidak akan kumakan, sampai kalian ceritakan tentang perempuan ini.” Mereka berkata, “Dia adalah ibu kami yang sejak 40 tahun yang lalu tidak berbicara, kecuali dengan ayat Al Quran karena takut tergelincir dan mendapat murka Allah.” Aku berkata, “Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS 57 : 21).

Dari kisah di atas, kita melihat bagaimana seorang wara’ yang sangat berhati-hati dalam berbicara karena meyakini bahwa semua perkataan akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak. Sangat berbeda dengan keseharian kita yang justru mengabaikan dan menganggapnya hal sepele. Inilah perlunya melatih puasa bicara sehari-hari.

Sekarang ini, jika seseorang berbicara dengan orang lain menggunakan ayat-ayat suci Al Quran akan menimbulkan kesan aneh dan bahkan mungkin dianggap kurang waras, dalam istilah Bugis disebut nabettu sarafe (kena penyakit syaraf). Karena Al Quran lebih banyak dipahami sebagai firman Tuhan atau kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.

Tuan Guru ingin menyampaikan bahwa berbicara dengan Al Quran, tidak berarti harus berbicara menggunakan teks Al Quran. Karena Al Quran adalah firman Tuhan yang diturunkan kedalam hati manusia, maka Al Quran adalah bahasa hati, Al Quran adalah cahaya kebenaran. Al Quran juga dikenal sebagai Al Furqan, pembeda, yang membedakan antara yang haq dan yang batil. Dengan demikian, bila seseorang menasehati orang lain untuk bersabar, tawakkal, jujur, dan rendah hati, maka sesungguhnya ia telah berbicara dengan Al Quran. Jika seseorang menyampaikan kebenaran, mengajak berbuat kebajikan, mencegah kemungkaran, dan tidak berbicara kecuali hal yang bermanfaat, maka ia telah berbicara dengan Al Quran. Walhasil, kita semua dapat berbicara dengan Al Quran dalam konteks kekinian, yang penting apa yang diucapkan adalah kebenaran dan jujur pada hati. Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu (QS. 2 : 147).

Pengertian hakikat Al-Quran dapat anda baca di http://pewarisamanah.blogspot.com

(Tulisan ini didedikasikan buat Asrul Jaya alias Pak Uztad. Semoga senantiasa menyebarkan kebaikan kepada orang lain)