Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Orang Tua Sebagai Penanggung Jawab Pendidikan | Tuan Guru

Dalam undang-undang Sisdiknas pasal 7 ayat (2) ditegaskan bahwa orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya. Bila ditelaah secara mendalam, memang benar apabila orang tua sebagai penanggungjawab pendidikan. Dengan kata lain, tanggung jawab pendidikan terletak di tangan kedua orang tua dan tidak dapat dipikulkan kepada orang lain. Orang tua sebagai pendidik, sangat siginifikan kedudukan-nya di lingkungan keluarga, sebab di lingkungan inilah pertama kali anak dipelihara, dibesarkan, dan menerima sejumlah nilai serta norma yang ditanamkan kepadanya. Karena itu, pihak orang tua hendaknya melakukan upaya-upaya yang strategis dalam mendidik anak-anaknya sejak dini.

Orang tua utamanya ibu, memegang tanggung jawab penting untuk memberikan rasa aman kepada anak pada masa-masa awal. Sehingga kebutuhan anak untuk disayangi, perhatian, kehangatan, rasa aman, motivasi serta keberanian untuk melakukan berbagai aktivitas hidup terpenuhi. Anak memiliki kekuatan mental dan kepenuhan afeksi. Inilah fungsi ibu sebagai  amīrah sumber rasa aman. Sedangkan ayah diharapkan memiliki sifat Abdullah yang memberikan muatan pada lahan subur jiwa anak yang telah dipersiapkan atau terus dipupuk oleh ibu. Mendidik anak adalah tugas yang sangat mulia, bagi seorang ibu karena ia lebih dominan dalam mendidik anak dan belaian kasih sayang tanpa pamrih, dan belas kasihnya terhadap ketimbang belas kasih seorang ayah. Maka tidak heran jika ia lebih dekat terhadap anak.

Di samping ibu, bapak (ayah) turut berperan dalam mendidik anak-anaknya, bahkan anak memandang bapaknya sebagai orang tertinggi kedudukannya dalam keluarga. Meskipun demikian ada sebagian bapak yang beranggapan bahwa tanggung jawab pendidikan anak hanya ditumpahkan kepada ibu semata. Tidak ada yang dituntut darinya selain memenuhi segala kebutuhan material bagi anak dan istrinya. Sehingga terkadang bapak lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah, baik di tempat kerja maupun bersama teman-teman atau kerabatnya.

Tindakan seorang bapak seperti yang disebutkan di atas, merupakan kesalahan yang dilakukannya. Yang tidak dapat ditolerir secara kodrati bapak juga mempunyai andil yang diharapkan untuk mendidik anak-anaknya di dalam keluarga. Keluarga akan berjalan dengan harmonis, apabila akrab dengan anak dan bekerja sama dengan ibu dalam mendidik anak-anaknya.

Sekaitan dengan itu, maka tanggungjawab pendidikan yang perlu disadarkan dan dibina oleh kedua orangtua (ibu dan bapak) terhadap anak antara lain sebagai berikut :

  1. Memelihara dan membersarkannya. Tanggungjawab ini merupakan dorongan alami untuk dilaksanakan, karena anak memerlukan makan minum, dan perawatan, agar ia dapat hidup secara berkelanjutan.
  2. Melindungi dan menjamin kesehatannya, baik secara jasmaniyah maupun rohaniah dari berbagai gangguan penyakit atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan dirinya.
  3. Mendidiknya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi hidupnya, sehingga apabila ia telah dewasa ia mampu berdiri sendiri dan membantu orang lain (hablun minan nas), serta melaksanakan kekhalifahannya.
  4. Membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberinya pendidikan agama sesuai dengan ketentuan Allah. Tanggungjawab ini dikategorikan juga sebagai tanggungjawab kepada Allah.

Sejalan itu, Zakiah Dradjat mengemukakan bahwa tanggung jawab pendidikan Islam menjadi beban orang tua antara lain :

  1. Memelihara dan membesarkan anak ini bentuk yang sederhana bagi setiap orang dan merupakan bentuk yang alami untuk mempertahankan ke-langsungan hidup anak.
  2. Melindungi dan mengayomi, baik jasmani maupun rohani, dari berbagai gangguan penyakit dan menghindari pelecehan dari tujuan hidup.
  3. Memberikan pengajaran dalam arti yang luas sehingga anak memperoleh peluang untuk memeliki pengetahuan dan kecakapan.
  4. Membahagiakan anak, dunia maupun akhirat sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup.

Kerjasama untuk mendidik anak antara suami (bapak/ayah) dan isteri (ibu) sangat mutlak diperlukan. Bagi suami yang mempunyai kelebihan ilmu dan keterampilan, harus mengajarkan kepada isterinya dan begitu pula sebaliknya.

Kesadaran akan tanggungjawab mendidik anak secara terus menerus perlu dikembangkan kepada setiap orangtua, mereka juga perlu dibekali teori-teori pendidikan modern sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, tingkat dan kualitas  materi pendidikan yang diberikan dapat digunakan anak untuk menghadapi lingkungan yang selalu berubah. Bila hal ini dapat dilakukan oleh setiap orang tua, maka generasi mendatang telah mempunyai kekuatan mental menghadapi perubahan dalam masyarakat. Untuk dapat berbuat demikian, tentu saja orangtua perlu meningkatkan ilmu dan keterampilannya sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kualitas diri orang tua adalah dengan cara belajar seumur hidup.

Dalam konsep pendidikan modern, kedua orang tua harus sering berjumpa dan berdialog dengan anak-anaknya. Pergaulan dalam rumahtangga-nya harus terjalin secara mesra dan harmonis. Ketidakadaan tanggungjawab kedua orangtua dalam mendidik anak-anaknya dapat menimbulkan kerenggangan. Begitu pula, orangtua yang banyak menyerahkan urusan rumah tangga dan perawaratan anak kepada pembantu rumah tangga, berakibat kurang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan kejiwaannya. Jadi, dengan adanya tanggung jawab, maka orang tua lebih eksis memenej kehidupan dalam rumah tangganya dalam nuansa pendidikan, sehingga terwujud lingkungan keluarga yang penuh kedamaian dan kasih sayang.

Kepustakaan:
Adhim, 1998. Muhammad Fauzil. Mendidik Anak Menuju Taklif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Dradjat, Zakiah. 1996. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara
Ihsan, H. Fuad,  1995. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Muhaimin, et.al. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam; kajian Filosofis dan Ke-masyrakatan dan Kerangka Dasar Operasionalnya. Bandung: Triganda Karya
Tim Redaksi Fokusmedia, 2003. Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Fokusmedia