Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Nasihat untuk Malik bin Dinar | Tuan Guru

Suatu hari Malik bin Dinar – semoga disayangi Allah – melewati seorang anak kecil yang bermain debu. Kadang-kadang dia tertawa dan kadang-kadang menangis. Malik berkata, “Aku ingin menyalaminya, tetapi jiwaku menahannya dengan takabur”. Aku berkata pada diriku, “Wahai nafsu, Rasulullah pun bersalam kepada orang tua dan anak-anak”. Maka aku bersalam kepada anak itu. Anak tersebut menjawab, “Keselamatan, rahmat, dan berkah dari Allah semoga tercurah bagimu, wahai Malik bin Dinar”. Aku bertanya, “Bagaimana engkau mengenalku, padahal engkau belum pernah melihatku?” Anak kecil itu menjawab, “Saat ruhku bertemu dengan ruhmu di alam malaikat, Allah Yang Mahahidup yang tidak pernah mati mengenalkanku kepadamu”.

Aku bertanya, “Apakah perbedaan antara akal dan nafsu?” Dia menjawab, “Nafsumu menahanmu untuk mengucapkan salam, sedangkan akalmu mendorongmu untuk bersalam”. Aku bertanya, “Apa yang kau lakukan dengan debu itu?” Dia menjawab, “Karena kami telah diciptakan dan akan kembali menjadi debu”. Aku bertanya, “Aku melihatmu kadang tertawa dan kadang menangis”. Dia berkata, “Betul, saat aku mengingat azab Tuhan aku menangis dan saat aku mengingat rahmat-Nya aku tertawa”.

Aku bertanya, “Wahai anakku, apa dosa yang engkau lakukan sehingga engkau menangis?” Anak kecil itu berkata, “Wahai Malik, jangan kau berkata seperti itu, karena sesungguhnya aku melihat bahwa ibuku tidak hanya membakar kayu yang besar, tetapi juga ada kayu yang kecil. Oleh karenanya, hendaklah kau mengambil pelajaran”.

(Dinukil dari: Muhammad Abu al-Yusr ‘Abidin. 2001. Hikayat-hikayat Sufi. Diterjemahkan oleh Rojaya. Bandung: Pustaka Hidayah)