Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Nasakom dan Nasakomisasi | Tuan Guru

Perlunya persatuan Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme demi tercapainya tujuan perjuangan kemerdekaan telah dirintis oleh Bung Karno dalam tahun 1926. Bung Karno yang semasa demokrasi terpimpin memerlukan dukungan PKI, menghidupkan kembali gagasan persatuan tersebut dengan menciptakan persatuan golongan Nasionalis, Agama, dan Komunis yang terkenal dengan singkatan Nasakom.

Karena kepandaian PKI, Nasakom diidentikkan dengan Pancasila. “Siapa yang menerima Pancasila berarti menerima Nasakom”. PKI demi keselamatannya juga menerima, meski dengan tujuan dan pengertian sendiri.

Prinsip Nasakom jelas sangat menguntungkan PKI. Partai ini mendapat dalih untuk menasakomkan segala bidang kelembagaan yang belum ada orang PKI-nya, seperti kabinet, pimpinan universitas dan ABRI. Usaha memasukkan tokoh partai ke kabinet telah berhasil, terbukti dalam kabinet Soekarno, buktinya terdapat menteri PKI yaitu Nyono yang duduk dalam Kabinet Dwikora I. Sebelumnya terdapat beberapa menteri simpatisan PKI, misalnya Oei Tjoe Tat (Baperki) dalam Kabinet Kerja IV, serta Armunanto (Kabinet Dwikora). Presiden Soekarno sendiri memang menghendaki ada orang-orang PKI dalam kabinet agar partai ini ikut bertanggung jawab atas kegagalan atau kesalahan pemerintah.

Nasakomisasi pimpinan universitas dan ABRI belum berhasil, terutama ABRI sangat menentang politisasi ABRI karena dapat berakibat terpecahnya ABRI. Lebih buruk lagi bisa menimbulkan perang antara sesama ABRI. Pada bulan Mei 1965 Jenderal Akhmad Yani membicarakan perihal nasakomisasi Angkatan Darat dengan Presiden Soekarno. Pada kesempatan tersebut dia menerima tafsiran pihak AD bahwa gagasan tersebut sama dengan semangat persatuan yang menghubungkan nasionalisme, agama, dan komunisme, bukan suatu struktur formal yang akan dapat memberi PKI peranan dalam urusan-urusan AD.

Kegagalan Nasakomisasi ABRI menyebabkan PKI menempuh jalan lain pada tahun 1965 dengan usul pembentukan Angkatan ke-5 (sesudah AD, AL, AU, dan Kepolisian) yang terdiri dari buruh dan tani yang dipersenjatai dengan alasan untuk menghadapi konfrontasi Malaysia. Namun usaha tersebutbelum berhasil berhasil berkat kegigihan pimpinan ABRI, terutama Men.Pangad, Jenderal Akhmad Yani.

Sumber:
Moedjanto, G. 1991. Indonesia Abad ke-20, Jilid 2. Yogyakarta: Kanisius
Ricklefs, M.C. 1991. Sejarah Indonesia Modern. Diterjemahkan oleh Drs. Dharmono Hardjowidjono. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press