Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Mobil Kecil Perusak Jalan Raya | Tuan Guru

Dalam perjalanan menuju Makassar mobil yang saya tumpangi melewati jalan berbelok dan berlubang sejauh ±10 km. Mobil pun bak terkena badai, beberapa penumpang mulai mabuk.

Seorang ibu nyelutuk: “Padahal baru tahun kemarin diperbaiki, kok rusak lagi?”. Bapak di sebelahnya yang sedari tadi merokok menjawab: “Bagaimana tidak cepat rusak, ini kan jalan poros propinsi tiap hari dilalui mobil truk”. Si ibu terdiam, jawaban bapak tadi sangat logis dan tak terbantahkan. Meskipun tidak berkomentar lagi, namun dalam hati si ibu tetap mendongkol karena anak gadisnya, termasuk dirinya, cukup mabuk selama perjalanan.

Sambil tetap konsen memainkan stir dan persneling, pak Sopir mengemukakan pendapatnya, “Sebenarnya, bukan mobil besar yang merusak jalanan, tapi justru mobil kecil. Kenapa bisa begitu? Karena anggaran perbaikan jalan sebagian disunat masuk ke kantong si pemilik mobil kecil, akhirnya kualitas jalan raya tidak memenuhi syarat.”

Dalam hati saya berfikir, kalau penjelasan pak Sopr ini benar, maka setiap penumpang yang mabuk, marah, dan merasa terdzalimi, maka yang bertanggung jawab adalah si pemilik mobil kecil.