Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Merubah Paradigma Anak tentang Makna Belajar | Tuan Guru

Menurut Slameto belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya. Sementara R. Gagne berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku. (Djamarah, Syaiful Bahri, 199 : 22).

Thorndike mendefinisikan belajar adalah asosiasi antara kesan panca indra dengan impuls untuk bertindak. Sedangkan menurut Herbart belajar adalah suatu proses pengisian jiwa dengan pengetahuan dan pengalaman yang sebanyak-banyaknya melalui hafalan.

Ngalim Purwanto (1992 : 84) mengemukakan bahwa belajar adalah setiap perubahn yang relatif menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagi hasil dari suatu latihan atau pengalaman.

Anak-anak tidak mengenal Slameto, Gagne, Thorndike, atau Herbart, atau Ngalim Purwanto. Juga tidak memahami definisi belajar yang dikemukakan mereka. Ketika anak-anak sedang baca buku ditanya, “Lagi ngapain?” Dia akan menjawab, “Sedang belajar, Pak.” Kalau pertanyaannya dilanjutkan, “untuk apa belajar?” Mereka akan jawab, “Supaya jadi pintar”. Sebagian menjawab, “Supaya dapat rangking”. Sebagian lainnya mengatakan “Supaya bisa lulus ujian.” Jadi menurut anak, belajar adalah upaya untuk menjadi pintar agar mendapat nilai baik dan lulus ujian.

Kita dapat membantu anak memahami makna belajar secara lebih baik dengan melanjutkan pertanyaan. “Setelah pintar untuk apa?” “Agar dapat sekolah tinggi-tinggi” “Setelah itu untuk apa?” “Agar dapat mencari pekerjaan?” “Setelah mendapatkan pekerjaan selanjutnya apa?” “Agar dapat membantu orang tua dan orang-orang tidak mampu.”

Sampai disini kita sudah berhasil mengantarkan anak memahami makna belajar yang lebih lebih tinggi dan luhur.

Jika setiap saat kita membantu anak-anak menemukan makna yang lebih tinggi terhadap apa yang dilakukannya, mungkin suatu saat kita akan terperangah ketika bertanya pada seorang anak yang sedang baca buku, “Lagi ngapain, nak?” Dia segera menjawab dengan penuh semangat, “Saya sedang berusaha membantu anak-anak miskin yang kelaparan, Pak.” Anak yang mendapatkan motivasi belajar lebih baik, akan belajar lebih bersungguh-sungguh.

——- Tuan Guru ——-

Kepustakaan:
Djamarah, Syaiful Bahri. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Rakhmat, Jalaluddin. 2007. SQ For Kids Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Sejak Dini. Bandung: Mizan Pustaka.