Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu
h-ismailwajeng

Mengenal H. Ismail Wajeng, Guru Sufi Abad Akhir | Tuan Guru

h-ismailwajeng

H. Ismail Wajeng (wafat awal ramadhan 1432 H/2011) adalah guru sufi abad akhir. Beliau menekankan ajarannya pada praktik dzikir atau mengingat Allah. Beliau lebih banyak mengajarkan ilmunya melalui praktek, karena ajarannya yang bersifat praktis, murid-muridnya lebih cepat memahami dan “mengalami”. Berbeda dengan guru tasawuf lainnya yang memakai fase atau tahapan dalam pengajarannya, Pak H. Ismail langsung mengajarkan inti ajaran tasawuf.

Meski telah mencapai maqam yang tinggi, namun Pak H. Ismail hampir tidak pernah memperlihatkan karamahnya. Beliau meyakini bahwa karamah itu hanya menjadi hijab dalam perjalanan menuju Tuhan. Satu-satunya karamah yang tampak pada diri beliau (di mata murid-muridnya) adalah kemampuannya mengontrol dan mengarahkan wilayah batiniah para bimbingannya. Banyak guru spiritual yang mampu memberikan pemahaman tentang Sang Khalik, namun tidak dapat mengantarkan muridnya pada tingkat “merasakan” kehadiran-Nya. Inilah keutamaan beliau sekaligus menjadi tugas utama yang diembannya.

Di tempat tinggal beliau (Makassar), ramai dikunjungi oleh para penempuh jalan spiritual dari berbagai kota di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Sehari-hari beliau adalah sosok Pak Haji yang nampak biasa-biasa saja, ketinggian perjalanan ruhaninya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Beliau adalah mistikus sufi yang menyeimbangkan antara amalan syariat dan batiniah.

Pada kesempatan ceramahnya, beliau berpesan, “Jadikanlah waktumu seluruhnya lailatul  qadar, dan jadikanlah setiap harimu seluruhnya ramadhan.” Tentu pesan ini tidak dapat dimaknai dalam pengertian zahir, tapi lebih pada pemahaman batiniah. Berikut ini rekaman beberapa ceramahnya yang khas, jelas, dan lugas dengan dialek Bugis-Makassarnya yang kental, beliau menjelaskan hakikat mengingat Allah (dzikrullah).

Download ceramah lengkap H. Ismail Wajeng di bawah ini: