Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Mengenal Cara Berpikir Siswa | Tuan Guru

Untuk merangsang kegiatan berpikir peserta didik, maka perlu diketahui apa yang dia ketahui dan bagaimana cara mereka berpikir. Dengan cara demikian dapat dikembangkan kemampuan berpikir siswa dalam proses inkuiri. Sering guru mengharapkan siswanya mengikuti cara berpikirnya, sementara guru tidak mengikuti cara berpikir siswa. Untuk mengenal cara berpikir siswa, perlu diketahui beberapa cara berpikir pada umumnya.
1.  Berpikir urutan

Jika guru menghadapkan kepada siswa tiga bilangan berturut-turut: 2, 4, 6, maka siswa dapat menyebut bahwa bilangan pada urutan ke-4 adalah 8 dan ke-5 adalah 10. Tetapi jika yang diinformasikan adalah 2, 7, 3, maka siswa sulit atau tidak dapat menyebut urutan selanjutnya karena tidak ditemukan suatu aturan tertentu yang bekerja dalam ketiga bilangan yang diamati.

2.  Berpikir bertentangan

Jika kepada siswa dihadapkan pasangan kata-kata: panas – dingin, kecil – besar, maka siswa dapat menyebut pasangan dari kata-kata: siang – … , berat – …, dan seterusnya dengan benar. Kalau ia mengatakan siang berpasangan dengan panas, berat berpasangan dengan ton, maka ia belum menemukan prinsip yang menghubungkan kata panas dengan dingin dan besar dengan kecil.

3.  Berpikir asosiasi

Jika dihadapkan pasangan kata-kata: besi – berat, kapas – ringan, maka ia dapat menemukan pasangan kata murid – … dengan benar. Kalau ia mengatakan bahwa pasangan kata murid adalah guru, berarti ia belum menemukan hubungan asosiasi yang menghubungkan kata besi dengan berat.

4.  Berpikir kausalitas

Kalau kepada siswa dihadapkan pasangan kata: rajin – pandai, mendung – hujan, maka ia dapat menyebut pasangan kata menganggur – … dengan benar. Ini berarti bahwa setelah mengamati kedua pasangan kata yang dihadapkan kepadanya, maka ia menemukan sifat sebab-akibat (kausalitas) yang bekerja dalam setiap pasang kata itu. Sifat tersebut ia terapkan pada kata menganggur, dan ia mencari apa akibatnya kalau orang menganggur.

5.  Berpikir konsentris

Berpikir konsentris menuntut kemampuan intelektual yang lebih tinggi dari keempat cara berpikir di atas. Berpikir konsentris terarah pada mencari hakikat dari sesuatu yang bersifat umum.

6.  Berpikir konvergen

Berpikir konvergen berpangkal dari unsur-unsur yang terpisah-pisah. Dengan mempelajari karakteristik dari kecenderungan masing-masing unsur, maka diketahui semua unsur mengarah pada satu titik tertentu. Misalnya ada tiga unsur yang diamati, yaitu kependudukan, investasi, dan pendidikan. Tampak bahwa pertambahan penduduk makin meningkat dari tahun ke tahun. Sementara itu pengeluaran untuk investasi makin merosot. Mutu pendidikan tampak makin menurun. Dengan kemampuan berpikir konvergen, maka diketahui pada waktu yang akan datang tingkat pengangguran makin tinggi.

7.  Berpikir divergen

Berpikir divergen bertolak dari suatu peristiwa menuju ke berbagai kemungkinan. Dari peristiwa pengangguran misalnya, pikiran berkembang kepada berbagai alternatif seperti: kriminalitas, kelaparan, dan kerusakan lingkungan hidup.

8.  Berpikir silogisme
Berpikir silogisme berdasar pada premis mayor yang tidak diragukan kebenarannya. Kemudian ada premis minor yang sifatnya lebih khusus. Dengan menghadapkan premis minor terhadap premis mayor, maka akan dapat diperoleh suatu kesimpulan. Contoh: Premis mayor  : semua manusia akan mati Premis minor   : Wulan adalah manusia

Kesimpulan     : Wulan akan mati

Kesimpulan yang diperoleh dari cara berpikir silogisme seperti ini hanya benar jika premis mayornya benar, yaitu bahwa semua manusia akan mati (tidak ada manusia yang tidak akan mati) adalah benar, dan bahwa Wulan adalah manusia (kalau Wulan bukan manusia, maka kesimpulan tidak benar).

Sumber:
Gulo, W. 2008. Strategi Belajar-Mengajar. Jakarta: PT Grasindo