Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Menerapkan Teori Vygotsky untuk Pendidikan Anak | Tuan Guru

  1. Gunakan zone proximal development (ZPD). Mengajar harus dimulai pada batas atas zona, di mana murid mampu mencapai tujuan dengan kerja sama erat dengan pengajar. Dengan petunjuk dan latihan terus-menerus, murid akan mengorganisasikan dan menguasai urutan tindakan yang dibutuhkan untuk melakukan keahlian yang diharapkan. Guru secara perlahan mengurangi penjelasan, petunjuk, dan demonstrasi sampai murid mampu melakukan keahlian itu sendirian. Setelah tujuan tercapai, ia bisa menjadi dasar untuk perkembangan ZPD baru.
  2. Gunakan teknik scaffolding. Cari kesempatan untuk menggunakan teknik ini ketika murid membutuhkan bantuan untuk aktivitas yang merupakan inisiatifnya sendiri. Gunakan juga scaffolding untuk membantu murid naik ke level keahlian dan pengetahuan yang lebih tinggi. Cukup berikan bantuan yang dibutuhkan saja. Amati kemauan dan usaha murid, beri bantuan ringan jika diperlukan. Jika murid tampak ragu, beri dorongan.
  3. Gunakan kawan sesama murid yang lebih ahli sebagai guru. Ingat bahwa menurut Vygotsky bukan hanya orang dewasa yang penting dalam membantu murid mempelajari keahlian. Murid juga bisa mendapat manfaat dari bantuan dan petunjuk dari temannya yang lebih ahli.
  4. Dorong pembelajaran kolaboratif dan sadari bahwa pembelajaran melibatkan suatu komunitas orang yang belajar. Baik itu anak maupun orang dewasa melakkan aktivitas belajar secara kolaboratif. Teman, guru, orang tua, dan orang dewasa lainnya bekerja sama dalam komunitas pelajar. Anak tidak belajar sendiri dalam tempat terisolasi.
  5. Pertimbangkan konteks kultural dalam pembelajaran. Fungsi penting dari pendidikan adalah membimbing murid dalam mempelajari keahlian yang penting bagi kultur tempat mereka berada.
  6. Pantau dan dorong anak-anak dalam menggunakan private speech. Perhatikan perubahan perkembangan dari berbicara dengan diri sendiri pada masa awal seolah dasar. Pada masa sekolah dasar, dorong murid untuk menginternalisasikann dan mengatur sendiri pembicaraan mereka dengan dirinya sendiri.
  7. Nilai ZPD-nya, bukan IQ. Seperti Piaget, Vygotsky tidak percaya bahwa tes formal standar adalah cara terbaik untuk menilai kemampuan belajar atau kesiapan anak untuk belajar. Vygotsky mengatakan bahwa penilaian harus difokuskan untuk mengetahui ZPD murid. Pembimbing memberi murid tugas dengan tingkat kesulitan bervariasi untuk menentukan level terbaik memulai pelajaran. ZPD adalah pengukur potensi belajar. IQ, yang juga mengukur potensi belajar, menekankan bahwa intelegensi adalah properti si anak. Sebaliknya,ZPD menekankan bahwa pembelajaran bersifat interpersonal. Adalah tidak tepat untuk mengatakan bahwa anak “punya”ZPD dalam pengertian yang sama seperti mengatakan anak “punya” IQ. 

Sumber:
Santrock, John W. 2008. Psikologi Pendidikan. Diterjemahkan oleh Tri Wibowo B.S. Jakarta: Kencana