Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Masih Perlukah Diadakan Rapat Kenaikan Kelas? | Tuan Guru

Pertanyaan ini terasa mengganjal pada sebagian besar guru yang telah mengikuti rapat kenaikan kelas. Pasalnya, ada rasa jenuh dan malas mengingat bahwa rapat tersebut sering hanya menjadi ajang perang argumentasi antara guru mata pelajaran dengan wali kelas. Ketika guru mata pelajaran yang memberi nilai tidak tuntas tidak dapat menunjukkan bukti-bukti tertulis tentang proses penilaian termasuk segala upaya kuratifnya, maka kemenangan pun berada di pihak wali kelas. Dan ujung-ujungnya berakhir dengan keputusan semua siswa naik kelas setelah Kepala Sekolah menengahi dan memberikan petuah bijak bahwa kita semua pernah berbuat salah, siswa, demikian pula guru tidak luput dari kesalahan, sehingga amat bijak apabila guru yang lebih dewasa pemikirannya memaafkan anak dengan memberikan nilai tuntas agar siswa tersebut mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.

Apakah esensi rapat kenaikan kelas? Rapat ini merupakan laporan perkembangan hasil belajar siswa selama semester genap yang disampaikan oleh wali kelas dilengkapi data nilai dari guru mata pelajaran, prosentasi kehadiran, serta akhlak dan kepribadian siswa. Data yang disampaikan ini selanjutnya menjadi dasar apakah siswa yang bersangkutan naik ke jenjang selanjutnya atau tidak.

Rapat kenaikan kelas menjadi aneh ketika wali kelas didukung simpatisannya mulai mengusik kriteria kenaikan kelas. Padahal ketentuan mengenai kenaikan kelas telah diatur dalam kurikulum sekolah (KTSP). Berapa jumlah minimal mata pelajaran tidak tuntas, prosentase minimal ketidakhadiran siswa, serta nilai akhlak kepribadian yang tidak boleh mendapat nilai C (cukup), semua sudah tercantum dengan jelas dalam kurikulum sekolah, disahkan Kepala Dinas Pendidikan Kab/Kota. Lalu kenapa persoalan naik tidaknya siswa masih sangat alot diperdebatkan? Kadang memakan waktu seharian penuh. Memang ada penjelasan bahwa sekolah dapat merevisi KTSPnya setelah dua tahun, tapi tentu revisi bukan pada saat rapat kenaikan kelas.

Suasana yang mewarnai rapat kenaikan kelas mencerminkan bahwa sebahagian sekolah belum memiliki komitmen yang tegas terhadap aturan yang disusun bersama. Ada kesan bahwa semua siswa naik kelas berarti aman, tidak ada pertanyaan dari orang tua siswa. Dan wali kelas meninggalkan rapat bagai pahlawan penyelamat generasi bangsa.

Persoalan ini sebenarnya tidak perlu terjadi, apalagi berulang dan berulang. Solusinya adalah sekolah perlu meningkatkan kinerja, meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran, melaksanakan remedi, mencegah sejak dini jika terdapat siswa yang kehadirannya berpotensi menimbulkan masalah, membina komunikasi yang baik dengan siswa dan orang tua siswa. Dan tentunya, semua upaya tersebut didokumentasikan untuk keperluan pertanggungjawaban apabila dibutuhkan. Jika hal ini dilaksanakan, tidak perlu rapat kenaikan kelas yang menyita waktu, dan tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Mungkin istilah yang tepat bukan rapat kenaikan kelas, melainkan laporan hasil belajar siswa.

——- Tuan Guru ——-