Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu
educational-malpractice-1

Malpraktik di Dunia Pendidikan | Tuan Guru

Dalam beberapa dekade terakhir ini istilah malpraktik cukup terkenal dan banyak dibicarakan masyarakat umum, khususnya malpraktik bidang kedokteran dalam transaksi terapeutik antara dokter dan pasien. Jika ditelusuri beberapa dekade ke belakang, khususnya di Indonesia, anggapan banyak orang, dokter adalah profesional yang tidak dapat disentuh dengan hukum atas profesi yang dia lakukan. Namun saat sekarang banyak kasus tuntutan hukum baik perdata, pidana maupun administratif yang diajukan pasien atau keluarga pasien kepada dokter karena kurang puas atas hasil perawatan atau pengobatan.

Malpraktik atau malpractice berasal dari kata ”mal” yang berarti buruk dan ”practice” yang berarti suatu tindakan atau praktik, dengan demikian malpraktek adalah suatu tindakan medis buruk yang dilakukan dokter dalam hubungannya dengan pasien.

Selain pengertian di atas, definisi lain dari malparaktik adalah setiap kesalahan profesional yang diperbuat oleh dokter pada waktu melakukan pekerjaan profesionalnya, tidak memeriksa, tidak menilai, tidak berbuat atau meninggalkan hal-hal yang diperiksa, dinilai, diperbuat atau dilakukan oleh dokter pada umumnya di dalam situasi dan kondisi yang sama. Pengertian malpraktik di atas bukanlah monopoli bagi profesi medis, melainkan juga berlaku bagi profesi hukum (misalnya, mafia peradilan), akuntan, perbankan, dan lain-lain, termasuk malpraktik di dunia pendidikan.

educational-malpractice-1

Karena dunia pendidikan meliputi aspek yang luas dan kompleks, maka dalam tulisan ini hanya membahas malpraktik yang dilakukan guru sebagai profesional di bidang edukatif. Malpraktik di sini diartikan sebagai setiap kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi dan bimbingan yang dilakukan di bawah standar yang dipersyaratkan, sehingga siswa tidak dapat mencapai hasil belajar yang maksimal.

Berikut ini beberapa kasus malpraktik guru, antara lain :

  1. Masih banyak guru yang senang mengajar, bukan membelajarkan siswa, sehingga hanya terjadi komunikasi satu arah di kelas.
  2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat tidak dipedomani dalam kegiatan belajar mengajar, guru langsung mengajar apa adanya. Seringkali RPP yang digunakan adalah hasil copy paste dari sekolah lain, sehingga tidak sesuai dengan kondisi dan karakteristik sekolah yang bersangkutan.
  3. Melakukan kegiatan pembelajaran dengan metode dan strategi yang sama antara satu kelas ke kelas lainnya, tanpa memperhatikan karakteristik siswa/kelas yang berbeda-beda.
  4. Memeriksa tugas, PR, Ulangan Harian dan Ulangan Semester, tidak mengadakan koreksi/perbaikan, sehingga tidak memberikan kesan umpan balik bagi siswa.
  5. Memvonis siswa yang tidak tuntas adalah karena kesalahan/kebodohan siswa sendiri, tanpa mencoba mengoreksi metode dan strategi belajar mengajar yang digunakan, termasuk pemanfaatan media.
  6. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) umumnya hanya digunakan untuk kenaikan pangkat, bukan benar-benar diterapkan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Bahkan tidak dapat dipungkiri masih banyak PTK hasil transaksi/beli dari pihak ketiga.
  7. Memangkas jam pembelajaran 2 x 40 menit menjadi 2 x 30 menit (15 menit terlambat masuk, dan meninggalkan kelas 5 menit sebelum bel pergantian jam).

Sebenarnya masih banyak kasus malpraktik lainnya, namun dalam tulisan ini hanya mengetengahkan 7 kasus yang paling sering dijumpai. Tentunya masih naif untuk dijadikan dasar justifikasi ketidakprofesionalan guru. Bagaimana pun juga, hal ini lahir sebagai akibat banyaknya kelemahan dalam dunia pendidikan itu sendiri.

Artikel Terkait
•  Multiperan Guru Sebagai Pendidik
•  Sosok Guru Ideal dalam Pandangan Siswa
•  Eksistensi “Guru Sufi” di Dunia Pendidikan
•  Merumuskan Aspek EQ dan SQ dalam Tujuan Pembelajaran
•  Potret Gaya Mengajar Guru
•  Kelebihan dan Kekurangan Metode Drill
•  Penilaian Acuan Kriteria
•  Langkah-langkah Pembelajaran Kreatif dan Produktif
•  Pembelajaran Kreatif dan Produktif
•  Pendekatan Monodisiplin dan Interdisipliner dalam Pengorganisasian Materi IPS
•  Fase-fase Belajar Menurut Gagne
•  Tujuan Evaluasi
•  Pengertian Evaluasi
•  Tingkatan Soal untuk Domain Kognitif
•  Prinsip-prinsip Penilaian