Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Majas + Bisa = Majas Berbisa | Tuan Guru

Majas atau gaya bahasa adalah cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis. Menurut Tarigan, majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis.

Bisa adalah semua jenis toksin yang digunakan oleh beberapa kelompok spesies hewan, untuk keperluan pertahanan dan berburu mangsa. Hewan-hewan yang memiliki bisa antara lain adalah ular, laba-laba, kalajengking, dan lebah.

Majas dan bisa, apa hubungannya? Tidak ada hubungan sebab akibat, lebih-lebih hubungan kekerabatan. Majas berbisa yang dimaksud adalah suatu gaya bahasa seseorang yang setiapkali bicara selalu menjatuhkan lawan bicara, layaknya hewan berbisa menerkam mangsa, dalam sekejap korbannya mati karena terkena bisa. Orang-orang sering sakit hati dan menghindari pembicaraan dengannya. Penyebab munculnya gaya bahasa seperti ini, antara:

  1. Egoisme si pembicara, ingin menunjukkan bahwa pendapatnyalah paling benar;
  2. Sikap sok tahu;
  3. Terlalu jujur mengungkapkan pendapatnya, tanpa menimbang bahwa kata-katanya bisa melukai perasaan orang lain;
  4. Penyakit sirik, tidak suka melihat orang lain senang.

Tuan Guru sering mendapati jenis gaya bahasa ini pada anak-anak sekolah (sebenarnya juga pada orang dewasa). Yang jelas pengguna majas berbisa ini menunjukkan ketidakcerdasan emosionalnya. Bagaimana bentuk majas berbisa ini, dapat kita lihat pada beberapa perbincangan di bawah ini:

  1. Fifi baru saja membeli handphone cantik merk X. Dia cerita ke teman-temannya bahwa hp tersebut hadiah ultahnya yang ke-15. Teman-temannya pun memberi komentar, “wow, cantiknya!” Tiba-tiba datang Dedi langsung nyelutuk, “hp macam itu cepat rusak, punyanya tanteku baru dua minggu dibeli sudah error.” Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Fifi saat itu.
  2. Resky mendapat hadiah laptop karena nilainya meningkat dan masuk 5 besar. Dia membawa laptop barunya ke sekolah, dan disambut dengan komentar teman-temannya. “Pinjam dulu, Ky. Saya mau lihat spesifikasinya”, kata Putri. “Wow, warnanya keren” komentar Aris. Reza yang sedari tadi diam memperhatikan, menimpali, “Aih, kenapa laptop macam itu yang dibeli, tidak tahan panas, sering hang. Punya omku baru tiga bulan sudah 2 kali dibawa servis ke Makassar.” Resky hanya bisa diam membisu, kebanggaannya sirna seketika.
  3. Pada suatu acara LDK, Dewi, Novi, Amel sedang memperbincangkan Badrul, salah seorang pemateri dari alumni yang menurut mereka sangat pintar, cerdas, dan cara penyampaian materinya mudah diterima. Kata Dewi, “Pengennya aku pintar kayak dia”. “Yuk, kita kenalan sama dia”, ajak Novi. Mungkin karena sirik, Harun teman Badrul mengklarifikasi, “Hah, siapa bilang dia pintar. Saya dan dia selalu sama-sama sejak SD, Badrul selalu nyontek sama saya”. Penjelasan singkat itu cukup untuk membungkam Dewi, Novi dan Amel, serta menghilangkan rasa kagum mereka terhadap Badrul.

Potret perbincangan seperti diceriterakan di atas sering dijumpai dalam keseharian, bahkan mungkin kita termasuk salah seorang pengguna majas berbisa tersebut. Pesan moral yang ingin Tuan Guru sampaikan adalah bahwa kita hendaknya mengendalikan lisan dalam pembicaraan, pikir dulu sebelum diucapkan agar tidak melukai lawan bicara. Apa sih salahnya membuat orang senang? Saya kira semua agama mengajarkan bahwa menyenangkan hati orang lain termasuk perbuatan baik. Renungkan, semoga kalian mendapat petunjuk.

——- Tuan Guru ——-