Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Lingkungan Belajar | Tuan Guru

Lingkungan belajar mencakup lingkungan fisik dan psikologis di sekolah dan kelas. Terkait dengan lingkungan belajar, ada beberapa dimensi lingkungan fisik dalam belajar yang perlu diperhatikan, seperti preferensi terhadap suara, cahaya, dan warna. Selain itu, juga perlu diperhatikan preferensi terkait dengan gaya belajar, seperti lingkungan berikut ini:
a.  Berpusat pada guru

Lingkungan belajar bagi siswa hendaknya lebih berfokus pada gagasan dan minat siswa. Proses pembelajaran lebih banyak diskusi daripada guru berceramah. Pusat interaksi adalah siswa, bukan guru. Hanya sesekali guru menjadi pusat interaksi.

b.  Mandiri

Toleransi terhadap inisiatif siswa menjadi bagian utama dalam belajar. Belajar ditekankan pada pemecahan masalah yang dilakukan siswa, termasuk berbagai hal terkait pengelolaan kelas. Siswa didorong membuat putusan sendiri daripada menunggu guru memutuskannya.

c.  Terbuka

Lingkungan fisik hendaknya memungkinkan penerimaan terhadap orang baru, materi baru, dan berbagai hal baru. Berbagai gagasan baru, beragam nilai, diskusi, dan menghadapi situasi baru distimulasi oleh guru. Misalnya, siswa dapat saja belajar dari tukang becak atau tukang kebun ketika sedang membahas topik polusi (pencemaran udara atau pencemaran tanah).

d.  Penerimaan

Guru hendaknya menerima dan memahami gagasan siswa sebelum melakukan penilaian (benar atau salah). Oleh sebab itu, guru harus memerhatikan atau mendengarkan secara aktif, menerima gagasan, dan meminta penjelasan, perincian, dan pengembangan gagasan sebelum menerima atau menolaknya. Sebaiknya penilaian tidak diberikan pada saat siswa sedang menghasilkan gagasan. Setelah menemukan gagasan, siswa dapat diminta untuk menjelaskannya sehingga guru dapat memahami ide tersebut. Evaluasi (menemukan kelebihan dan kelemahan) hendaknya lebih diutamakan daripada penilaian.

e.  Kompleks

Lingkungan fisik yang kompleks mencakup adanya beragam bahan, peralatan, buku, dan sumber belajar lain yang canggih yang merupakan cerminan beragam budaya dan kecerdasan, serta beragam data dan sumber belajar elektronik.

f.  Kelompok yang bervariasi

Pengelompokan siswa hendaknya dibuat bervariasi. Jenis tugas dan tujuan belajar bervariasi, sehingga pengelompokan siswa juga akan bervariasi. Pengelompokan diupayakan menyerupai situasi kehidupan nyata dan siswa perlu dilibatkan menentukan pembentukan kelompoknya.

g.  Fleksibel

Fleksibel diperlukan saat membuat jadwal, menyusun berbagai persyaratan, kriteria evaluasi, dan menentukan nilai-nilai. Terkadang siswa membutuhkan waktu lebih lama untuk mengerjakan proyek yang rumit atau yang diminati secara mendalam. Mereka perlu bekerja lebih lama untuk mencapai kepuasan pribadi dalam mengerjakannya. Beberapa peristiwa di luar pelajaran, seperti ketika ada teman menderita penyakit tertentu atau adanya prestasi luar biasa, dapat dijadikan bahan diskusi yang juga menyita waktu, tetapi cukup berharga untuk dilakukan. Jadwal yang terlalu kaku dan selalu ditentukan guru dapat menghambat perkembangan motivasi internal dan otonomi siswa.

h.  Mobilitas tinggi

Jumlah perpindahan yang diizinkan juga penting diperhatikan. Lingkungan yang memungkinkan untuk bergerak leluasa (di dalam dan di luar kelas atau ada akses ke lingkungan lain, berbagai bahan, dan peralatan) akan memungkinkan siswa mengembangkan produk profesional, memiliki kebebasan memilih, dan mengembangkan otonominya.

Sumber: Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, 2010. Panduan Guru dan Orang Tua Pendidikan Cerdas Istimewa. Jakarta: Direktorat PSLB, Dirjen Mendikdasmen, Kemdiknas.