Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Kesetiaan Kepada Allah | Tuan Guru

Pada suatu hari Musa bin Ja’far melewati sebuah pasar di Baghdad. Ia mendengar alunan musik dan semarak suara pesta gembira. Seorang pelayan wanita keluar dari rumah itu. Musa bertanya apakah pemilik rumah itu orang merdeka atau budak. “Tentu saja ia orang merdeka,” kata si pelayan itu. “Mana mungkin budak dapat berpesta ria”. Ketika wanita itu kembali ke rumah, ia menceriterakan percakapannya dengan Musa bin Ja’far. Tuan rumah segera tersadar. Selama ini ia tidak lagi setia kepada Allah, ia tidak menganggap dirinya budak dan tidak memandang Allah sebagai Tuannya. Ia merasa merdeka dari aturan Allah. Ia telah mengkhianati-Nya. Segera ia keluar rumah, bahkan tanpa sempat memakai alas kaki terlebih dahulu. Ia berlari menemui Musa bin Ja’far. Ia bersimpuh di hadapannya dengan air mata berlinang, sambil berkata, “Anda benar. Saya ini budak, tetapi tidak pernah merasakannya. Mulai hari ini saya akan menjadi budak Allah dan mulai kembali kepada-Nya”.

Dengan doa Musa bin Ja’far, ia kembali ke rumahnya. Ia buang semua peralatan pesta. Selanjutnya ia mulai mengubah kehidupan penuh kemaksiatan menjadi kehidupan yang penuh ketaatan. Ia memberikan lagi kesetiaannya kepada Allah. Ia bergabung dengan nashahah. Seringkali ia berjalan di kota Bahgdad dengan kaki telanjang, sehingga orang menjulukinya Basyar al-Hafiy, Si Basyar yang Bertelanjang Kaki. Ketika ditanya mengapa membiarkan kakinya telanjang, Basyar menjawab, “Karena saya mendapat kehormatan bertemu dengan Musa bin Ja’far dalam keadaan seperti ini. Saya ingin menjaga kenangan itu dengan selalu bertelanjang kaki”.

Kisah di atas dinukil dari buku Jalaluddin Rakhmat, Membuka Tirai Kegaiban, Renungan-renungan Sufistik. Penerbit Mizan, Bandung, 2008.

Anak-anakku, saya melihat kalian seperti Basyar “lama” si tukang pesta. Kalian merasa tidak menjadi budak Allah. Kalian menempatkan kesetiaan kepada dunia, kepada kesenangan yang merupakan berhala-berhala di hadapan Allah. Kalian tidak memikirkan lagi kewajiban-kewjiban sebagai hamba Allah karena larut dalam aktivitas yang lebih banyak mudharat dibanding manfaatnya. Kalian telah melalaikan shalat, meninggalkan ibadah-ibadah yang lain, dan menjadi orang merdeka yang menikmati hidup layaknya orang yang akan hidup selama-lamanya.

Anak-anakku, kalian harus menjadi Basyar “baru” yang meninggalkan pesta ria, meninggalkan kesenangan yang menipu dan memulai kehidupan yang memberi manfaat kepada diri sendiri, kepada keluarga, dan orang lain. Mulailah memikirkan cita-cita kalian dan berusaha untuk mencapainya. Cita-cita yang saya maksud adalah cita-cita di dunia dan cita-cita kalian di akhirat nanti.

Rabbana atina fi dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar.
(Pesan spiritual Tuan Guru kepada murid dalam memaknai perayaan Tahun Baru 2012)