Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Kesejahteraan Guru dalam Pandangan Islam | Tuan Guru

Mencermati tugas dan tanggung jawab guru, serta multiperan yang diembannya, maka dapat dipahami bahwa kedudukan guru sangat mulia, ia sangat berjasa memanusiakan manusia. Guru sebagai pemberi pengetahuan yang benar kepada muridnya, dan pengetahuan tersebut merupakan modal utama mencapai derajat yang tinggi. Guru juga sebagai pembina akhlak yang mulia, dan akhlak yang mulia merupakan tiang utama untuk menopang kelangsungan hidup yang sejahtera. Menurut Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali bahwa salah satu hal yang amat menarik pada ajaran Islam ialah penghargaan yang sangat tinggi terhadap guru. Begitu tingginya penghargaan tersebut, sehingga menempatkan kedudukan guru setingkat di bawah nabi dan rasul. Dengan melihat kedudukan guru yang begitu siginifikan, maka untuk kelangsungan profesi dan karir hidupnya, berimplikasi pada pentingnya untuk menyejahterakan kehidupannya, dan masalah kesejahteraan tersebut terkait dengan upah atau gaji guru itu sendiri.

Upah atau gaji guru adalah salah satu faktor keberhasilan pendidikan. Secara asumtif, memang dapat dikatakan dikatakan bahwa upah atau gaji guru tidak terkait langsung dengan pendidikan dalam arti bahwa tinggi rendahnya gaji guru dapat mempengaruhi mutu pendidikan. Namun, secara subtanstif bahwa bahwa gaji yang diperoleh oleh guru akan mempengaruhi dinamika perilaku dan kehidupan guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Menurut Mohammad Surya, terdapat keterkaitan yang erat antara kualitas guru beserta kesejehterannya dengan mutu hasil pendidikan. Kualitas profesional guru merupakan prediktor yang paling kuat terhadap prestasi belajar siswa sebagai indikator hasil pendidikan. Berdasar pada pernyataan ini, maka dapat dipahami bahwa kesejahteraan guru memiliki keterkaitan yang kuat dengan peningkatan kinerja proses pembelajaran. Dengan demikian meningkatkan gaji guru dalam pandangan adalah sesuatu yang prioritas dalam upaya mereformasi dunia pendidikan.

Keberhasilan beberapa negara maju, terbukti diperoleh melalui mutu pendidikan yang baik dan ternyata bersumber dari komitmennya terhadap pendidikan termasuk masalah guru dan gajinya. Pada umumnya, guru-guru di negara maju memperoleh gaji yang cukup signifikan dan ternyata mampu meningkatkan mutu pendidikan di negara tersebut.

Seperti yang telah dikemukakan bahwa tidak secara otomatis gaji guru memberikan dampak terhadap peningkatan mutu pendidikan, karena masih banyak faktor-faktor lain yang ikut terkait. Gaji guru hanya merupakan salah satu faktor saja dan pada hakekatnya merupakan variabel antara dalam keterkaitannya dengan mutu pendidikan. Dalam hubungan ini, gaji guru merupakan salah satu faktor yang terkait dengan perwujudan kinerja “perilaku mengajar” dari guru di samping berbagai faktor-faktor lainnya. Hal ini mengandung makna bahwa apabila gaji guru terwujud dalam batas-batas yang signifikan, maka akan terwujud kinerja perilaku mengajar yang efektif, yang memberikan dampak pada terwujudnya interaksi pembelajaran yang efektif. Interaksi pembelajaran ini pada gilirannya akan menghasilkan perilaku belajar siswa, untuk kemudian mewujdukan hasil belajar sebagai indikator mutu pendidikan. Tentunya, dengan asumsi bahwa faktor-faktor lainnya baik internal maupun eksternal memberikan konstribusi secara signifikan pula.

Walaupun telah disinggung pada uraian terdahulu bahwa guru harus memiliki sifat zuhud dan ikhlas untuk mendapatkan ridha Allah semata, sebagaimana dalam QS. Yasin (36):

“Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Namun dengan ayat ini tidak berarti guru harus hidup miskin, melarat dan sengsara, melainkan ia boleh memiliki kekayaan sebagaimana lazimnya orang lain. Karena demikian halnya, maka tidak berarti pula bahwa guru tidak boleh menerima pemberian atau upah karena jasanya dalam mengajar, melainkan ia boleh saja menerima pemberian atau upah/gaji tersebut, karena jasanya dalam mengajar.

Apabila ditinjau dari aspek fikih, upah atau gaji atas profesi guru adalah terkait dengan penyampaian ilmu. Ilmu dalam pandangan syariat adalah wajib disampaikan kepada orang lain. Bila dikaitkan dengan lagi dengan masalah fikih klasik maka gaji guru termasuk ujrah dan ijārah (sewa) atas barang maupun sewa atas jasa profesi orang yang diperbolehkan. Jadi, dapat dirumuskan bahwa guru-guru boleh saja, bahkan merupakan suatu keharusan bagi mereka untuk menerima gaji karena guru termasuk pekerjaan profesi.

Kedudukan guru sangat mulia, dan untuk kelangsungan profesi dan karir hidupnya, berimplikasi pada pentingnya untuk mensejahterakan kehidupannya, dan masalah kesejahteraan tersebut terkait dengan upah atau gaji guru itu sendiri. Dalam hubungan ini, gaji guru merupakan salah satu faktor dalam meningkatkan mutu pendidikan. Walaupun demikian, tentunya faktor-faktor lainnya baik internal maupun eksternal memberikan konstribusi cukup signifikan.