Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Kepercayaan Animisme | Tuan Guru

Animisme menurut bahasa berasal dari bahasa latin anima yang berarti jiwa atau roh, dan isme adalah paham atau kepercayaan. Menurut istilah, animisme diartikan sebagai suatu kepercayaan bahwa semua benda di alam dunia ini memiliki jiwa atau roh. Berkaitan dengan kepercayaan animisme, Dhavamony menyebutkan berbagai macam roh, yaitu: (1) roh yang berhubungan dengan manusia, yakni jiwa-jiwa manusia sebagai daya vital, roh leluhur, roh jahat dari orang-orang yang meninggal dalam kodisi-kondisi tak wajar; (2) roh yang berhubungan dengan objek-objek alamiah, seperti air terjun, batu yang menonjol ke permukaan bumi, pohon-pohon berbentuk aneh, roh dari tempat-tempat yang berbahaya, roh binatang, roh dari benda-benda angkasa; (3) roh yang berhubungan dengan kekuatan alam, seperti angin, kilat, banjir; (4) roh yang berhubungan dengan kelompok-kelompok sosial, dewa-dewa, setan-setan dan para malaikat.

Apabila seseorang meninggal, maka roh meninggalkan badan untuk selamanya. Roh yang meninggalkan badan manusia untuk selama-lamanya itu disebut arwah. Dipercayai bahwa arwah tersebut hidup terus di alam arwah seperti kehidupan manusia di dunia. Arwah orang-orang terkemuka seperti kepala suku, dukun, pemuka masyarakat, dan sebagainya itu dianggap suci. Penghormatan dan pemujaan terhadap arwah nenek moyang tersebut melahirkan kepercayaan yang disebut animisme.

Pengertian animisme juga dikemukakan oleh Hamka dalam bukunya, Perkembangan Kebatinan di Indonesia sebagai berikut:

….Nenek moyang yang telah mati, hanya badannya yang hilang, adapun roh atau semangatnya masih tetap ada di sekeliling kita, dan tempat tinggalnya yang tertinggi dan mulia adalah kayangan.

Kepercayaan animisme seperti dijelaskan Hamka, menggambarkan bahwa roh mempunyai rupa, seperti berkaki dan bertangan yang panjang-panjang, mempunyai umur dan perlu pada makanan, juga roh kadang-kadang dapat dilihat meskipun ia tersusun dari materi yang sangat halus. Olehnya itu ia diberi sesajen dalam bentuk binatang, makanan dan kembang, serta upacara-upacara khusus untuk dia. Kepercayaan pada roh umumnya merupakan faktor kebutuhan akan suatu bentuk komunikasi dengan mereka untuk menangkal kejahatan, menghilangkan musibah atau menjamin kesejahteraan.

Pada jaman megalitikum, tempat pemujaan arwah dibangun di atas gunung atau bukit. Masyarakat mendirikan punden berundak, yaitu bangunan batu yang disusun bertingkat yang berfungsi sebagai tempat pemujaan roh leluhur. Mereka percaya arwah itu tinggal di tempat yang tinggi (kahyangan), sehingga tempat pemujaan arwah dibangun di atas gunung atau bukit. Demikian pula pada zaman Hindu/Buddha, candi sebagai tempat pemujaan arwah leluhur atau dewa dibangun di atas gunung/bukit. Sebab menurut kepercayaan Hindu, para dewa bersemayam di tempat yang tinggi.

Kepustakaan:
Dhavamony, Mariasusai. 2010. Fenomenologi Agama. Yogyakarta: Kanisius
Honig, A.G. 2005. Ilmu Agama. Diterjemahkan oleh M.D. Koesoemosoesastro & Soegiarto (cet. ke-11). Jakarta: Gunung Mulia http://www.referensimakalah.com/2012/09/pengertian-animisme-menurut-bahasa-dan-istilah.html

Shadily, Hassan.1973. Ensiklopedi Umum. Yogyakarta: Kanisius

Artikel Terkait dengan Sejarah
•  Pengertian Sejarah
•  Metodologi Penelitian Sejarah
•  Pengertian Renaissance
•  Latar Belakang Renaissance
•  Pengertian Nasionalisme
•  Pengertian Humanisme
•  Pertumbuhan dan Perkembangan Humanisme
•  Sejarah Munculnya Absolutisme
•  Latar Belakang Lahirnya Reformasi
•  Pertumbuhan dan Perkembangan Paham Demokrasi
•  Timbulnya Paham Liberalisme
•  Pertumbuhan dan Perkembangan Paham Sosialisme
•  Imperialisme Kuno dan Imperialisme Modern
•  Continental Stelsel
•  Italia Irredenta
•  Italia La Prima
•  Politik “Air Hangat” Rusia
•  White Australia Policy
•  Doktrin Monroe (Monroe Doctrine)
•  Wilson’s Fourteen Points