Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Kecurangan UN Menyelamatkan Guru | Tuan Guru

Berbagai upaya meningkatkan mutu pendidikan telah dilaksanakan oleh pemerintah, mulai dari perbaikan sarana prasarana, kurikulum, hingga mutu guru. Profesionalisme guru sebagai tenaga pendidik kian menjadi sorotan berbagai kalangan. Guru memikul tugas mulia mencapai tujuan pendidikan nasional yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Penganggaran 20% dana APBN untuk pendidikan menuntut hasil nyata di lapangan. Benarkah dengan digelontorkannya dana pendidikan sebesar itu mampu mendongkrak mutu pendidikan? Berbagai spekulasi muncul dan bermuara pada lingkaran setan tentang faktor penyebab rendahnya kualitas pendidikan di tanah air. Salah satu tolak ukur keberhasilan pendidikan adalah melalui Ujian Nasional menuai pro kontra. Hampir semua guru menolak UN sebagai faktor penentu kelulusan siswa. Namun pemerintah tetap bersikukuh menetapkan UN sebagai salah satu penentu kelulusan akhirnya melahirkan praktek kecurangan di lapangan.

Kondisi ril yang dialami sekolah adalah UN masih dianggap momok yang amat meresahkan. Meski telah dilakukan upaya persiapan melalui bimbingan dan try out, namun hasilnya tetap tidak memuaskan. Setiap tahun muncul kekhawatiran yang sangat besar bahwa siswa tidak akan lulus jika tidak dibantu dalam UN.

Situasi dilematis antara UN jujur dan tidak jujur terselamatkan dengan ketidaktegasan pemerintah daerah melaksanakan UN dengan jujur. Ketika prosentasi kelulusan siswa memasuki ranah politik, maka berlomba-lombalah pemerintah kabupaten/kota menetapkan target prosentasi kelulusan yang cukup tinggi. Keberhasilan siswa dijadikan kampanye politik untuk mempertahankan posisi atau meraih jabatan lebih tinggi. Ini menjadi sinyal bagi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota untuk melakukan koordinasi sistemik dengan para kepala sekolah demi mewujudkan cita-cita atasan mereka. Banyak guru mengaku korban akibat kebijakan tersebut. Tapi, benarkan guru korban? atau malah diuntungkan?

Digulirkannya dana cukup besar untuk meningkatkan profesionalisme guru, termasuk pemberian tunjangan profesi, maka sebetulnya tidak ada lagi alasan bagi guru mengatakan murid-muridnya tidak mampu memahami materi yang diajarkan. Bukankah sertifikasi guru menunjukkan guru telah profesional di bidangnya? Jika kompetensi siswa masih rendah, justru perlu dipertanyakan kualitas guru. Jika siswa tidak lulus UN artinya guru telah gagal membimbing dan membelajarkan murid-muridnya. Jadi sekiranya benar bahwa praktek kecurangan UN adalah pesan dari “atas”, maka seharusnya guru perlu bersyukur dan berterima kasih karena kebijakan tersebut telah menyelamatkan dirinya dari tanggung jawab akademis mencerdaskan anak bangsa. Maaf !

——- Tuan Guru ——-

Artikel Terkait
  Nak, Belajarlah dari TNI, bukan pada Politisi !
  Guru Profesional adalah Guru yang Pintar Sulap
  Mendidik Anak Mengenal Ilmu Gaib
  Sulitnya Guru Punya Rumah Idaman
  Banyak Guru Menderita Penyakit Amnesia
  Guru Harus Menjadi Sutradara yang Baik
  Pilih Tunjangan Sertifikasi atau Sehat?
  Merubah Paradigma Anak tentang Makna Belajar
  Sandy, Korban Praktek Mafia Pendidikan
  Evaluasi Bukan untuk Menghakimi Siswa
  Masih Perlukah Diadakan Rapat Kenaikan Kelas?