Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu
ikan

Karena Terlalu Dekat Sehingga Tak Terlihat | Tuan Guru

ikan

Pada suatu hari ikan-ikan di samudera berkumpul di hadapan pemimpin mereka. Mereka berkata, “Wahai pemimpin, kami bermaksud menghadap lautan. Sudah lama kami mendengar tentang keberadaan dan kekuasaannya, bukankah karena ia kami ada dan tanpa dia kami tiada? Tunjukkan kepada kami arahnya dan ajari kami jalan untuk mencapainya, karena kami tidak tahu dimana tempatnya dan kemana arahnya.”

Pemimpinnya berkata, “Saudara-saudaraku, pembicaraan ini tidak layak bagi kalian dan orang-orang seperti kalian. Lautan terlalu luas untuk kalian capai. Ini bukan urusanmu dan juga di luar kemampuanmu. Diamlah, jangan berbicara dengan pembicaraan seperti ini. Cukuplah kalian yakini bahwa kalian berada karena adanya dan tidak akan ada tanpa keberadaannya.”

Mereka berkata, “Jawaban ini tidak akan ada gunanya bagi kami. Larangan tidak akan menyurutkan niat kami, kami harus berjumpa dengannya. Engkau harus menunjuki kami untuk mengenalnya dan membimbing kami ke dalam wujudnya.”

Ketika sang pemimpin melihat gelagat ini dan larangannya tidak digubris, ia mulai menjelaskan, “Saudara-saudaraku, lautan yang kalian cari, yang kalian ingin temui, ada bersamamu dan kalian bersamanya. Ia meliputi kamu dan kalian meliputinya. Yang meliputi tidak terpisah dari yang diliputi. Lautan itu adalah yang disitu kalian berada. Kemana pun kalian menghadap, di situ ada Lautan. Lautan bersama kalian dan kalian bersama lautan. Ia tidak gaib darimu, kalian juga tidak gaib darinya. Ia lebih dekat darimu daripada urat lehermu.”

Ketika mendengar ucapan itu, mereka semua bangkit untuk membunuh sang pemimpin. Sang pemimpin berkata kepada mereka, “Apa salahku sehingga kalian mau membunuhku?”

Mereka menjawab, “Kamu hanya ingin menyesatkan kami dari jalannya, kamu hanya memperdayakan kami. Menurutmu lautan yang kami cari adalah lautan dimana kami berada, bukankah kami berada dalam air? Apa hubungannya air dengan lautan?”

Sang pemimpin berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku mengatakan yang sebenarnya. Sesungguhnya lautan dan air itu satu dalam hakikat. Di antara keduanya tidak ada perbedaan. Air adalah nama lautan dari segi hakikat dan wujud. Lautan adalah nama baginya dari segi kesempurnaan, kekhususan, keluasan, dan kebesaran di atas semua fenomena.”

Sayyid Haydar Amuli, sufi besar abad ke-14 menukil cerita di atas untuk menggambarkan hubungan makhluk dengan Tuhan seolah-olah hubungan antara penghuni lautan dengan lautan. Perbandingan ini tentu saja tidak tepat. Itu hanyalah upaya untuk menyederhanakan hakikat yang sangat jauh dari ruang lingkup pengalaman kita. Walaupun begitu kebanyakan orang tidak juga memahaminya. Jangankan berterima kasih, malah mengkafirkan orang yang menjelaskan dan bahkan membunuhnya, seperti kisah ikan-ikan tersebut.

Para Nabi dan kekasih-kekasih Tuhan adalah orang-orang yang telah mencapai tahap yang sangat tinggi dalam hubungannya dengan Tuhan. Kedekatan dengan Tuhan telah memberikan mereka pengetahuan langsung, bukan pengetahuan yang berdasarkan pembuktian rasional. Olehnya itu ketika ingin menyampaikan apa yang mereka saksikan kepada orang awam, mereka tidak mampu menemukan kata-kata yang tepat dan mudah dimengerti. Betapa sulitnya seorang ayah yang ingin membuat anaknya yang buta dapat memahami matahari, bagaimana cara menyampaikannya sehingga dapat menjelaskan arti dari cahaya.

Membicarakan tentang kedekatan dengan Tuhan, kita seperti orang pikun yang mencari kacamata padahal sementara memakainya. Bagaimana tidak pikun, karena yang mencari itulah yang dicari; yang dicari itulah yang mencari; yang mencari sama dengan yang dicari; yang mencari dan dicari adalah satu. Ah, penjelasan ini pun tidak lebih baik dan semakin membingungkan. Sebaiknya kita diam saja, karena dalam diam (tafakur) kita akan mendapatkan kebenaran yang hakiki.