Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Karakteristik Perjuangan Islam Melawan Imperialisme Barat | Tuan Guru

Snouck Hurgronje, dalam penelitiannya terhadap Islam di Indonesia mengakui adanya nilai-nilai luhur Islam yang dapat mempengaruhi perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme Belanda. Snouck meyakini bahwa:

“Dalam hal ini faktor religius akan memperkuat keyakinan serta mempertegas sikap dan tindakan. Identitas yang diberikan oleh ideologi religius mengenai Belanda sangat jelas. Belanda adalah kafir yang mengancam kedudukan dar-al-islam. Wajarlah kalau mereka dilawan dengan perang sabil.”1)

Kepemimpinan perlawanan juga mempengaruhi perlawanan masa itu. Sejak abad ke-17, pimpinan perlawanan dipegang oleh kaum bangsawan dan kaum ulama. Pengaruh pemimpin akan lebih kuat apabila di samping dia berasal dari golongan bangsawan, juga tergolong orang yang saleh dan mahir dalam soal keagamaan. Dengan demikian loyalitas pengikut pada pemimpin juga bertambah kuat.2)

Unsur lain yang tidak kalah pentingnya dalam perlawanan adalah semboyan. Sejak abad ke-17, penggunaan semboyan banyak diwarnai nafas Islam, seperti perang sabil, perang jihad, perang melawan kafir, dan sebagainya. Masing-masing negara mengenal kalimat-kalimat atau semboyan-semboyan yang dramatis yang dapat mencambuk suatu bangsa ke dalam semangat perang tinggi.3)

Selain itu simbolisme dalam perang juga memegang peranan penting. Membangun kembali kekuasaan tradisionil yang kokoh, mencapai masyarakat yang lebih baik di bawah pimpinan seorang Ratu Adil (messianisme) adalah contoh-contoh simbolisme dalam perang. Dalam hubungan ini pemimpin perlawanan oleh pengikutnya dianggap sebagai orang yang dapat mengantarkannya ke arah tujuan perang.

Berdasarkan keyakinan tersebut, para pengikut menaruh kepercayaan dan loyalitas yang tinggi pada pemimpin serta patuh pada perintahnya. Tentu saja status pemimpin dalam struktur masyarakat, kecakapan, keberanian, kesalehan, kekeramatan, berpengaruh besar pada derajat loyalitas pengikut terhadapnya.4)

Jadi nilai-nilai luhur Islam, kepemimpinan yang islamiyah, semboyan-semboyan serta simbolisme menjadi semangat perjuangan dan merupakan ciri perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan imperialisme Belanda. Dengan peranan nilai religius islamiyah yang kuat, motivasi inilah yang memberi semangat perlawanan di tengah usaha dominasi politik dan pengrusakan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Ajaran Islam dapat menimbulkan watak iman yang berorientasi ke arah persatuan seluruh kepulauan Nusantara yang juga akhirnya menjadi landasan kokoh bagi bangkitnya kesadaran nasional pada awal abad ke-20.

Nusantara sebelum kedatangan bangsa Eropa telah berkembang kerajaan yang bercorak Islam. Kehidupan sosial, ekonomi, dan politik dihiasi oleh nilai-nilai religius Islami. Periode ini dapat dikatakan sebagai suatu proses transformasi nilai-nilai Hindu-Budha ke kehidupan yang berpola Islami. Hal ini terlihat dengan adanya pergeseran kekuatan dari kerajaan Hindu-Budha ke kerajaan yang bercorak Islam.

Daftar Referensi:
1)   Sartono Kartodirdjo, 2987. Pengantar Sejarah Indonesia Baru, Jilid 1. Jakarta: Gramedia, hal.       372

2)   William H. Frederick & Soeri Soeroto, 1984. Pemahaman Sejarah Indonesia. Jakarta: LP3ES,

      hal. 218

3)   Drs. Suwardi Wiriatmadja, 1967. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Surabaya: Pustaka

      Tinta Emas, hal. 151

4)   William H. Frederick & Soeri Soeroto, Op.cit, hal. 219