Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Introspeksi di Hari Pertama Sekolah (Upaya Meningkatkan Kecakapan Emosional Siswa Melalui Self Correction) | Tuan Guru

Home » Edukasi » Introspeksi di Hari Pertama Sekolah (Upaya Meningkatkan Kecakapan Emosional Siswa Melalui Self Correction)

Introspeksi adalah peninjauan atau koreksi terhadap perbuatan, sikap, kelemahan, atau kesalahan diri sendiri. Introspeksi diri sangat penting untuk melihat kembali apa yang pernah dilakukan seseorang pada masa lalu. Dengan introspeksi, kita mengevaluasi diri, baik dalam hal positif atau negatif. Seseorang yang pernah berbuat kesalahan atau pernah berhubungan dengan hal-hal yang negatif di masa lalu dan orang tersebut tidak berintrospeksi diri, maka kemungkinan besar pada suatu saat orang tersebut akan terjebak pada permasalahan yang sama dan melakukan kesalahan yang sama. Nasehat orang bijak jangan jatuh dua kali pada lubang yang sama.

Memasuki tahun pelajaran baru adalah saat-saat yang tepat bagi siswa untuk melakukan introspeksi diri. Ada beberapa cara untuk instropeksi diri :

  1. Merenungkan perbuatan yang pernah kita lakukan di masa lampau
  2. Mendengar saran dan kritik dari orang lain
  3. Dengan menggunakan alat ukur, misalnya kuesioner.

Minggu pertama sekolah dimanfaatkan oleh Tuan Guru untuk melakukan introspeksi diri secara klasikal. Kelas VIII dan IX secara bergantian diajak memasuki mushallah sekolah untuk melakukan introspeksi. Model yang digunakan adalah koreksi diri (self correction), yaitu bentuk introspeksi dengan mendengar kritik dan saran dari sahabat atau teman sekelas. Jika self introspection dilakukan melalui perenungan diri, yang terkadang hanya menuai persepsi diri, maka melalui self correction ini lebih mudah mendapatkan konsep menyeluruh tentang diri, yang penting terbuka menerima koreksi dari orang lain.

Sebelumnya siswa diberi pemahaman bahwa apa yang dilakukan ini bukan untuk membuka aib, akan tetapi merupakan upaya memperbaiki diri. Karena seringkali kita tidak tahu kekurangan-kekurangan diri sendiri, biasanya nanti disadari ketika mendengar atau ada orang lain yang menyampaikannya. Untuk itulah dibutuhkan seorang sahabat yang mengenal dan memahami kita dengan baik, dan sahabat yang baik adalah sahabat yang mampu menunjukkan kesalahan-kesalahan kita.

Kegiatan dimulai dengan tafakur untuk menenangkan diri, mempersiapkan aspek emosional. Dengan jiwa yang tenang, saran atau kritik dapat diterima dengan baik. Tafakur ini juga dimaksudkan meluruskan niat siswa, bahwa kegiatan ini semata-mata untuk kebaikan bersama.

Siswa yang sudah siap mental dipersilakan untuk maju ke depan. Setelah duduk, mengatur nafas, dan siap, lalu dimulailah proses self correction. Kritik dimulai dari sahabat terdekat kemudian diikuti yang lainnya dengan tetap memperhatikan nilai-nilai etika dan kesopanan. Demikian seterusnya secara bergantian siswa maju untuk mendengar kritik dan saran dari teman-temannya. Bentuk kritikan berupa pemaparan tentang sikap atau kelakuan bersangkutan yang tidak disukai atau dinilai negatif. Terkadang ada siswa yang menyampaikan dengan kalimat yang agak pedas, tapi dengan kesiapan mental yang baik, kegiatan tetap berlangsung dengan penuh keakraban. Acara diakhiri dengan istighfar dan memberi tugas pada siswa agar mengamalkan surah An Naas sebanyak-banyak di rumah.

Manfaat positif yang dapat diperoleh dari kegiatan ini :

  1. Membiasakan siswa agar selalu introspeksi diri
  2. Mendorong siswa agar mau membuka diri dan share dengan teman-temannya
  3. Membina mental siswa agar terbiasa menerima kritik dari orang lain
  4. Meningkatkan keakraban antarsiswa
  5. Mencegah terjadinya clash dan kesalahpahaman.