Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu
vanmook

Garis Demarkasi van Mook | Tuan Guru

Sementara Komisi Jasa-jasa Baik, yang kemudian lebih dikenal sebagai KTN (Komisi Tiga Negara) belum datang, Belanda terus mengambil keuntungan-keuntungan. Pada 29 Agustus 1947 secara sepihak Belanda memproklamasikan garis demarkasi van Mook. Garis van Mook menjadi garis batas antara daerah kedudukan masing-masing pihak pada saat gencatan senjata dilaksanakan. Pada umumnya garis ini menghubungkan titik-titik terdepan dari kedudukan tentara Belanda dalam penyerbuan atas wilayah RI sehingga menutup daerah-daerah yang secara efektif dikuasai oleh pihak RI. Dan untuk mencapai penyelesaian politik, pihak RI harus menerima garis van Mook.

vanmook
Van Mook (www.nedindie.nl)

Penetapan garis demarkasi van Mook itu, maka pasukan RI yang berada di daerah kantong (demiliterized zone) harus ditarik ke daerah RI. Daerah kantong adalah daerah yang berada di belakang Garis van Mook, yakni garis yang menghubungkan dua daerah terdepan yang diduduki Belanda. Dengan demikian Belanda yakin kematian RI tinggal soal waktu saja. Alasan yang dikemukakan oleh van Mook dalam gerakan-gerakannya sesudah penghentian tembak-menembak ialah operasi pengamanan (gerilya dianggap perampok).

Menanggapi tindakan van Mook tersebut, wakil PM. A. K. Gani mengirim telegram ke Dewan Keamanan PBB pada tanggal 29 September membeberkan pelanggaaran-pelanggaran Belanda dan mendesak agar DK memerintahkan Belanda menarik mundur pasukannya ke tempat kedudukan sebelum penyerangan. Usul ini hanya mendapat dukungan dari Rusia dan Australia (anggota DK) dan India.

Dalam perkembangan selanjutnya garis demarkasi van Mook ini tetap dipertahankan oleh Belanda. Dalam perundingan Renville, garis van Mook diterima sebagai batas kedudukan militer kedua pihak, sehingga garis van Mook disebut juga “garis status quo Renville”.

Sumber:
Moedjanto, G. 1991. Indonesia Abad ke-20, Jilid 2. Yogyakarta: Kanisius