Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Gaji Guru di Ambang Kredit | Tuan Guru

Lemas dia terduduk, senin tanggal satu. Setelah denting lonceng memekak telinga, satu satu. Bersandar menatap langit-langit ruang tata usaha, lupa disapu hari itu. Hanya seorang bujang berlari ke arah meja bendahara, bersemangat, menjemput pengganti keringat 30 hari berlalu.

Tanggal satu, dua, tiga, lima, dua sembilan, sama saja. Kegembiraan hanya hadir ketika libur menjemput. Karena disitulah terbuka ruang untuk mendesain hal lain, sekedar mengisi barang baru di kantong yang selalu terbuka.

Teringat 12 tahun lalu, ketika almarhum neneknya, memaksa dirinya untuk bekerja berseragam, bersepatu, rutin setiap pagi. “Swasta tidak bagus nduk, carilah kerja yang menjamin meski ajal menjemput”, demikian titahnya, tidak tanpa batuk.

Guru kemudian menjadi pilahan pas-pasan. Menyesuaikan ijazah hasil jerih payah 4 tahun plus ngeles dikit. Lulus, dengan sedikit melanggar perintah paduka raja, raja diraja. Tak apa kata ustad abal-abal, itu juga bagian dari usaha, kata ayat ini ayat itu.

Hari pertama mengajar dengan semangat penuh. Riang menatap para generasi penggantinya kelak. Bersemangat bulan depan tanggal satu hidup bakal terjamin, pasti.. mereka yang tak tahu, tak dibiarkan berlalu. Model, strategi, pendekatan, media, ludes berlaku. Toh, bulan depan, kita bakal bergembira tanggal satu.

Dua tahun, gaji itu mulai terasa selalu tidak mencukupi. Kredit dengan gadai SK menjadi pilihan utama, belajar dari guru lain yang katanya menjamin. 100 juta harga yang pantas, meski yang masuk kantong untuk sekedar modal, katanya hanya 90 juta. Biar saja..

Pelaminan membuat semua lupa… istri kredit pendamping hidupnya, menjadi guyon, yang kini mulai tak lucu. Dua tahun lagi, sebelum yang 100 juta itu berimbang dan SK kembali. Yang tercinta, makhluk halus itu menuntut minta rumah, dan perhiasan. Malu katanya sama istri guru itu, yang lain.

Gampang, kata guru TIK itu, honor tak tahu menahu. “Poto kopi aja kemudian pindah bank”, menarik. Kini tak tanggung, 200 juta selama 20 tahun, mempertaruhkan selembar kertas target para penganggur. Rumah kecil kini telah berdiri. Hasil pertaruhan selama 20 tahun mendatang.

Kini, senin tak seperti senin dulu. Generasi itu kini tak membuatnya riang. Kini dia ogah-ogahan melaksanakan kewajiban. Tak ada lagi yang bisa membuatnya gembira di awal bulan. Kini, tak seperti siang dulu, bisa istirahat, setelah bergelut untuk membentuk karakter baik mereka. Kini, siang tak perlu istirahat, kalau tak ingin makan angin atau sekedar puasa terpaksa.

Kini dia cemburu dengan guru baru itu, yang masih bersemangat setiap hari. Setiap tanggal satu pulang dengan senyum, dan sesekali memegang kantong tebal, seakan takut kehilangan. Dia terkadang sedih sendiri tanpa tahu penyebabnya. Pura-pura tak bisa belajar sekedar mengembangkan kompetensi. Untuk apa?

Kini, motivasi bekerja dengan benar itu muncul di tempat dan waktu berbeda. Saat pulang sekolah, pada usaha lain. Motivasi yang dia bahkan tak tahu bahwa itu sudah berpindah. Motivasi bekerja mencerdaskan mereka sebagai amanat Undang-undang. Dipaksa pun kini tak sudi. Saya harus bisa hidup lagi, karena yang bisa menghidupiku kini buka di tempat itu lagi, bukan sekolah itu… tekadnya.

Guru profesional secara kompetensi dan administrasi, kini tinggal ceremony, yang diperhatikan hanya ketika atasan itu mengawasi. Setelah itu, pindah ke lain hati. Guru tak seperti abdi negara lain, yang punya lahan berbeda entah haram atau halal. Mereka, siswa itu bukan lahan. Sekali gajimu tergadai, semangat itu akan hilang…

Hentikan menggadai SK wahai saudaraku, karena anda adalah pahlawan.