Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Faktor Lingkungan Sekolah yang Menyebabkan Anak Tidak Bersekolah | Tuan Guru

Home » Edukasi » Faktor Lingkungan Sekolah yang Menyebabkan Anak Tidak Bersekolah

Misi sekolah adalah mendidik semua anak secara efektif dengan memberikan keterampilan yang mereka butuhkan untuk kehidupan dan pembelajaran sepanjang hayat. Sekolah sebenarnya telah dilengkapi dengan sarana untuk mendidik peserta didik yang kemampuan dan kondisinya berbeda-beda. Kemampuan keluarga dan masyarakat untuk menghilangkan tersisihnya anak dari sekolah saja belum dapat menjadikan sekolah itu inklusif. Faktor-faktor di dalam sekolah itu sendiri sering menghambat anak untuk datang ke sekolah, yaitu:

1. Biaya (resmi dan tidak resmi)
Bagi keluarga kurang mampu, sumbangan dana komite, dana pembangunan, bahkan biaya buku, alat tulis, seragam sekolah atau transportasi bisa membuat anak tidak dapat bersekolah.

2. Lokasi
Di beberapa desa, bila sekolah jauh dari perkampungan, anak mungkin lebih baik tinggal di rumah supaya aman. Bagi anak perempuan, jarak dari rumah ke sekolah bisa membuat orang tua tidak memperbolehkan anaknya bersekolah karena takut akan keselamatannya. Penyandang cacat juga demikian, karena tidak ada transportasi yang tepat bagi mereka untuk ke sekolah.

3. Jadwal
Bagi pekerja anak mungkin mau belajar tapi tidak selama jam sekolah umum. Jadwal sekolah bentrok dengan jadwal kerja, sehingga mereka tidak dapat belajar sambil bekerja. Anak perempuan bisa putus sekolah bila waktu pergi ke sekolah berbenturan dengan waktu untuk mengerjakan tugas-tugas di rumah.

4. Fasilitas
Sekolah yang tidak memiliki fasilitas yang aksesibel dapat menyebabkan anak enggan bersekolah. Misalnya, kurangnya fasilitas buang air. Fasilitas yang tidak aksesibel dapat mempengaruhi penyandang cacat tidak bersekolah.

5. Kesiapan
Salah satu alasan yang paling umum bagi anak dengan berbagai latar belakang dan kemampuan yang berbeda tersisihkan dari sekolah adalah karena guru tidak siap untuk mengajar mereka. Guru tidak tahu bagaimana mengajar anak itu karena belum pernah memperoleh pelatihan, ide-ide atau informasi yang diperlukan untuk membantu anak ini belajar. Konsekuensinya, mereka mungkin kurang mendapatkan perhatian dan pendidikan yang mereka terima kualitasnya rendah.

6. Ukuran kelas, sumber dan beban kerja
Daya tampung kelas yang terbatas di beberapa negara dapat menjadi hambatan bagi anak dari berbagai latar belakang dan kemampuan untuk sekolah. Di negara maju, ukuran kelas 30 peserta didik dianggap tidak terlalu besar, sedangkan di negara miskin kelas dengan 60-100 peserta didik itu lazim. Oleh karenanya guru mempunyai beban kerja yang berat dan sering mengeluh. Tentu saja, kelas yang lebih kecil dan dikelola dengan baik lebih diinginkan daripada kelas dengan sumber yang tidak memadai termasuk materi dan waktu guru. Namun, ukuran kelas bukan berarti faktor keberhasilan inklusi, tapi yang penting adalah sikap positif dan terbuka. Ada banyak contoh anak dengan berbagai latar belakang dan kemampuan berbeda berhasil diinklusikan di kelas yang jumlah anaknya besar.

Sumber:
Dirjen Mendikdasmen Departeman Pendidikan Nasional, Braillo Norway, IDP Norway, Helen Keller International. 2007. Perangkat untuk MengembangkanLingkungan Inklusif, Ramah terhadap Pembelajaran. Diterjemahkan oleh Susi Rakhmawati Septaviana, Braillo Norway. Dirjen Mendikdasmen Departeman Pendidikan Nasional

Artikel Terkait
•  Faktor Lingkungan Keluarga dan Masyarakat yang Menyebabkan Anak Tidak Bersekolah
•  Faktor Individu yang Menyebabkan Anak Tidak Bersekolah
•  Tips Mudah Menghafal Pelajaran
•  Kategori Sekolah
•  Tes Psikomotor
•  Pengertian Pendidikan Karakter
•  Bentuk-bentuk Motivasi di Sekolah
•  Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik
•  Analisis Kualitatif Soal Pilihan Ganda
•  Teori Pembelajaran Sosial Bandura