Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Faktor Lingkungan Keluarga dan Masyarakat yang Menyebabkan Anak Tidak Bersekolah | Tuan Guru

Home » Edukasi » Faktor Lingkungan Keluarga dan Masyarakat yang Menyebabkan Anak Tidak Bersekolah

Lingkungan keluarga Keluarga dan masyarakat sebaiknya menjadi pelindung dan memiliki kepedulian kepada anak. Di beberapa negara yang telah menangani anak putus sekolah, cara paling efektif untuk mencegah anak putus sekolah adalah melalui keluarga dan masyarakat yang utuh, peduli, dan produktif. Di bawah ini beberapa alasan anak tidak bersekolah karena faktor lingkungan keluarga.

1. Kemiskinan dan nilai praktis pendidikan
Kemisikinan sering mempengaruhi anak besekolah. Karena masalah ekonomi, orang tua sering terpaksa memenuhi kebutuhan primer hidup keluarga saja. Dengan demikian anak harus menolong keluarga untuk mencari nafkah dengan mengorbankan pendidikan dan masa depannya. Hal ini terjadi bila keluarga tidak memikirkan pentingnya pendidikan bagi mereka. Kemungkinan juga orang tua merasa pendidikan yang diperoleh anak kurang memadai. Oleh karenanya orang tua menganggap memanfaatkan kecakapan anak untuk bekerja lebih bernilai daripada belajar di sekolah.

2. Konflik
Banyak orang tua bertengkar mengenai keuangan dan malasah lainnya yang mungkin terlihat oleh anak, sehingga mengakibatkan kekerasan dan penyimpangan perilaku anak. Kondisi ini menjadi salah satu alasan anak meninggalkan rumah dan sekolah.

3. Pengasuhan yang tidak cocok
Karena kebutuhan ekonomi, orang tua terpaksa pergi mencari nafkah dan menitipkan anak kepada orang lain. Kemungkinan yang dititipi tidak memiliki pengetahuan, pengalaman, atau perhatian yang memadai dan kemungkinan tidak menyadari pentingnya pendidikan.

4. Korban penyalahgunaan Narkoba
Anak korban penyalahgunaan narkoba sering mengalami stigma atau perlakuan diskriminasi yang berdampak terhadap putus sekolah.

5. Diskriminasi dan stigmatisasi karena HIV dan AIDS
Anak yang orang tuanya meninggal karena HIV dan AIDS cenderng tidak masuk sekolah. Di beberapa negara tertentu seperti di Afrika, kasus seperti ini menjadi masalah besar. Di beberapa wilayah di Indonesia, kasus seperti ini juga terjadi dan hampir mencapai tahap yang menkhawatirkan.

Lingkungan Masyarakat
1. Bias jender
Bias jender terhadap wanita dapat menghambat akses anak perempuan ke sekolah. Di masyarakat tertentu, status wanita diyakini lebih rendah dibanding pria. Anak perempuan sering diminta tinggal di rumah, jauh dari sekolah, dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Selain itu banyak anak perempuan usia muda sudah harus menikah dan meninggalkan rumah. Orang tua menganggap pendidikan bagi anak perempuan tidak penting.

2. Perbedaan budaya dan tradisi lokal
Anak sering enggan bersekolah karena merasa berbeda dengan masyarakat pada umumnya, misalnya dalam hal bahasa, agama, kasta, suku, atau budaya. Anak seperti ini umumnya memperoleh fasilitas pendidikan yang lebih rendah, kualitas pengajaran yang kurang baik, bahan pengajaran yang minimal, dan kurang mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya.

3. Sikap negatif
Sikap negatif terhadap anak dengan berbagai latar belakang dan kemampuan merupakan terbesar untuk mengikutsertakan anak-anak ini di sekolah. Sikap negatif ini dapat ditemukan pada berbagai lapisan masyarakat, orang tua, anggota masyarakat, sekolah dan guru, pejabat pemerintah, dan di antara anak yang termarjinal dengan sendirinya. Ketakutan, tabu, malu, kebodohan dan informasi yang salah dapat mendorong sikap negatif anak. Bahkan keluarga mereka mungkin menyebabkan harga diri anak rendah, terisolasi, menghidari interaksi sosial, dan menjadi anggota yang tersembunyi.

Sumber:
Dirjen Mendikdasmen Departeman Pendidikan Nasional, Braillo Norway, IDP Norway, Helen Keller International. 2007. Perangkat untuk MengembangkanLingkungan Inklusif, Ramah terhadap Pembelajaran. Diterjemahkan oleh Susi Rakhmawati Septaviana, Braillo Norway. Dirjen Mendikdasmen Departeman Pendidikan Nasional

Artikel Terkait
•  Peran Guru; Belajar dari Kepahlawanan Ki Hadjar Dewantara
•  Langkah-langkah Pokok dalam Evaluasi Hasil Belajar
•  Tes Psikomotor
•  Tingkatan Soal untuk Domain Kognitif
•  Tingkatan Ranah Afektif
•  Tingkatan Ranah Psikomotorik
•  Tujuan Evaluasi
•  Pengertian Evaluasi
•  Prinsip-prinsip Penilaian
•  Trik dan Tips Menghadapi Ujian Nasional 2013
•  Pengertian Penilaian Acuan Norma (PAN)
•  Prinsip-prinsip Pembelajaran Remedial
•  Mengenal Cara Berpikir Siswa
•  Bentuk-bentuk Motivasi di Sekolah
•  Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik