Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Faktor Individu yang Menyebabkan Anak Tidak Bersekolah | Tuan Guru

Bisa tidaknya atau mau tidaknya anak bersekolah dipengaruhi oleh karakteristik anak dan situasi yang mempengaruhi mereka. Misalnya tinginya bujukan untuk mendapatkan uang, dapat menyebabkan anak meninggalkan rumah dan pindah ke kota besar daripada harus bersekolah. Berikut ini contoh-contoh lain yang dapat ditemui dalam kehidupan kita sehari-hari.

1. Tuna wisma dan kebutuhan untuk bekerja
Ada sekitar 100 juta anak jalanan di seluruh dunia. Mereka putus sekolah karena bekerja. Anak ini beresiko dieksploitasi karena terpisah dari keluarga, masyarakat, dan sekolah. Di antara mereka. Terdapat anak jalanan yang mencari uang seharian dan pulan malam hari. Anak ini tidak melihat pentingnya nilai pendidikan, tidak tertarik dengan sekolah, merasa terlalu tua untuk masuk sekolah, atau terpengaruh konflik politik sehingga menyelamatkan diri leboh penting daripada bersekolah.

2. Penyakit dan kelaparan
Anak tidak dapat belajar dengan baik jika menderita infeksi kronis, kelaparan, atau kurang gizi. Akibatnya mereka sering bolos dan tertinggal pelajaran. Jika mereka tidak memperoleh perhatian, mereka akan merasa terssisihkan dari kelas/kelompok belajarnya dan akhirnya putus sekolah. Selain itu penyakit atau kurang gizi yang berdampak pada kecacatan fisik atau intelektual.mental merupakan penderitaan sepanjang hayat.

3. Akte kelahiran
Di beberapa negara, bila seorang anak tidak mempunyai akte kelahiran, maka ia tidak dapat bersekolah, tidak diizinkan belajar atau diberi kesempatan bersekolah tetapi hanya beberapa tahun. Mereka tidak dapat mendaftar ke sekolah atau tidak boleh mengikuti ujian. Hal tersebut terjadi juga pada anak dari orang tua nomadik, orang dari kelompok budaya minoritas, dan pengungsi. Namun di beberapa wilayah Indonesia hal ini tidak menjadi persoalan yang serius.

4. Takut kekerasan/korban kekerasan
Apabila terjadi kekerasan terhadap anak selama di sekolah, perjalanan pergi dan pulang dari sekolah akan menyebabkan anak ketakutan. Bentuk kekerasan tersebut misalnya, anak laki-laki atau perempuan dipukul, disiksa, dan menjadi korban pelecehan seksual dan sebagainya.

5. Berkebutuhan khusus
Banyak anak berkebutuhan khusus tidak bersekolah, terutama bila sekolah dan sistem pendidikan tidak memiliki kebijakan atau program untuk menyerahkan anak cacat fisik, mengalami gangguan emosi, atau lamban belajar. Anak-anak ini kemungkinan akan memperoleh perhatian ketika kita berbicara dan merumuskan program pelaksanaan pendidikan inklusif. Mereka tidak bersekolah karena adanya keyakinan bahwa mereka berprilaku negatif atau tidak dapat belajar. Orang tua dan masyarakat mungkin tidak menyadari hak anak atas pendidikan. Fasilitas sekolah (seperti tangga) menghalangi sebagian anak untuk bersekolah. Anak dapat putus sekolah karena jumlah anak dalam kelas terlalu besar, kurikulum, metode, bahasa atau guru tidak sesuai dengan kebutuhan anak berkebutuhan khusus.

6. Kehamilan (yang tidak diinginkan)
Di beberapa negara dan masyarakat, peserta didik yang hamil dikeluarkan dari sekolah. Hal ini dianggap memalukan dan memperburuk citra keluarga, masyarakat dan sekolah. Demikian halnya dengan kasus pernikahan dini.

7. Pekerja Anak
Di beberapa wilayah kota besar di Indonesia banyak anak yang terpaksa harus bekerja dari pagi hingga petang untuk membantu keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk belajar dan pergi ke sekolah. Kondisi ini sudah menjadi hal umum di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, dan lain-lain. Hal tersebut disadari atau tidak disadari telah merebut hak anak untuk bersekolah.

Sumber:
Dirjen Mendikdasmen Departeman Pendidikan Nasional, Braillo Norway, IDP Norway, Helen Keller International. 2007. Perangkat untuk MengembangkanLingkungan Inklusif, Ramah terhadap Pembelajaran. Diterjemahkan oleh Susi Rakhmawati Septaviana, Braillo Norway. Dirjen Mendikdasmen Departeman Pendidikan Nasional