Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Fakir adalah Orang Paling Kaya | Tuan Guru

Di perempatan lampu merah, seorang pengemis buta sedang mengais rezeki di siang hari. Matahari yang terik membuat sekujur tubuhnya dipenuhi keringat, namun bapak tua itu tak bergeming, tetap menengadahkan tangan berharap uluran tangan sang dermawan. Bulan Ramadhan penuh berkah, pengendara yang lewat pun merogoh saku, menyodorkan lembaran seribuan dengan harapan mendapat pahala atas apa yang dikerjakannya. Dalam bulan Ramadhan semua amal kebajikan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda.

Potret kehidupan yang menggambarkan betapa Allah Yang Maha Pemurah senantiasa memberikan rezeki kepada seluruh makhluk dalam memenuhi kebutuhannya. Betapa Allah dekat dengan orang-orang fakir. Tapi mungkinkah semua orang fakir itu dekat dengan Allah, siapakah sebenarnya orang yang disebut fakir?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, fakir didefinisikan sebagai 1)orang yang sangat berkekurangan; orang yang terlalu miskin; 2)orang yang dengan sengaja membuat dirinya menderita kekurangan untuk mencapai kesempurnaan batin. Pengertian pertama melihat sebagai suatu keadaan atau kondisi, sedang pengertian kedua melihatnya sebagai suatu pilihan.

Sabda Rasulullah, “kefakiran adalah kebanggaanku.” Tentu yang dibanggakan Rasulullah bukanlah orang-orang miskin yang hidupnya serba kekurangan karena beliau tidak memerintahkan umatnya untuk menjadi miskin. Maka fakir itu lebih tepat bila diartikan sebagai suatu pilihan atau jalan menuju Tuhan melalui pengosongan hati dari harta dunia. Saya bertanya kepada Sahabat tentang hakikat kefakiran. Sahabat menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan fakir adalah orang-orang yang sudah mengosongkan hatinya dari kecintaan terhadap dunia dan meyakini bahwa semua yang ada padanya hanyalah titipan Allah semata. Adapun orang-orang miskin, apabila mereka ridha dengan pemberian Allah, maka itu menjadi keutamaan baginya. Sesungguhnya orang miskin diutus untuk menguji orang fakir.

Saya lalu teringat Pak Haji yang tinggal di Bogor. Dalam lawatan saya ke kota hujan tersebut tahun lalu, sempat berjumpa dengan beliau yang saat itu mewaqafkan rumah berikut tanahnya yang luas di bilangan Jembatan Merah untuk kegiatan sosial dan keagamaan, padahal tanah berikut bangunannya ditawar oleh sebuah yayasan dengan harga Rp. 5 milyar. Tapi Pak Haji tidak tertarik, nampaknya tidak lagi berfikir untuk menambah kekayaannya. Bahkan menurut pengakuan Pak Uztad yang mengurusi rumah waqaf itu, Pak Haji selalu membantu orang-orang susah atau yang sedang tertimpa bencana. Pesan Pak Haji, “Harta itu hanyalah titipan, jangan sering menghitungnya, karena itu akan menahanmu untuk memberi.” Suatu ketika Pak Uztad ditelepon oleh Pak Haji, “Sudah satu bulan ini tidak ada warga yang minta bantuan, apa Pak Uztad tidak butuh lagi sama saya?”

Subhanallah, saya kira Pak Haji ini adalah contoh orang fakir yang dibanggakan Rasulullah saw. Seorang fakir bukanlah orang miskin atau peminta-minta, tapi justru orang yang sangat kaya, karena Allah meluaskan rezeki atas mereka yang pandai mensyukuri nikmat. Seorang fakir boleh jadi punya rumah besar, kendaraan, maupun pangkat dan jabatan, namun kesemuanya itu tidak menyebabkan mereka sombong dan lalai dari mengingat Allah. Mereka merasa tidak memiliki apa-apa karena telah melepaskan diri dari keterpautan dengan dunia.

Seseorang disebut fakir sejati apabila telah mampu mengosongkan diri sepenuhnya. Seorang fakir sejati adalah orang terkaya di antara seluruh manusia, karena dia sudah tidak lagi memiliki dirinya sendiri dan abadi (baqa) dalam Diri. Bagi fakir, harta terbaik adalah saat-saat kebersamaan dengan Sang Pemilik Langit dan Bumi. Inilah makna sabda Nabi, “Kefakiran adalah kebanggaanku.” Semoga kita semua dapat menjadi orang-orang fakir yang dibanggakan Rasulullah Saw.

——- Tuan Guru ——-