Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Evaluasi Bukan untuk Menghakimi Siswa | Tuan Guru

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Pasal 58) menjelaskan bahwa evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Evaluasi atau penilaian hasil belajar dilakukan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik pada semua mata pelajaran (Permendiknas RI Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan).

Di bawah payung Undang-Undang dan Permendiknas tersebut, para pendidik melaksanakan evaluasi proses pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya. Evaluasi dilaksanakan dalam berbagai bentuk dan sasaran sesuai pemahaman guru. Dari sinilah timbul praktik evaluasi yang mengorbankan anak-anak. Evaluasi umumnya bertujuan menilai sejauh mana siswa menguasai materi yang diajarkan guru. Karena hasil evaluasi dijabarkan dalam bentuk nilai, maka anak yang mendapat nilai tinggi disebut pintar atau cerdas, sedangkan anak yang nilainya rendah disebut lambat belajar (bahasa halus dari istilah bodoh). Dengan demikian makna evaluasi berubah menjadi tindakan menghakimi, memvonis, dan menyalahkan siswa. Hasilnya, bisa disimpulkan dalam satu kalimat: membuat anak menilai dirinya lebih rendah.
Jutaan anak menjadi korban akibat sistem pendidikan kita. Pembelajaran ditegakkan di atas dasar evaluasi. Anak yang lambat belajar diberi nilai rendah dan di buku rapornya ditulis catatan yang kurang lebih berbunyi: “Tidak tuntas, meski telah diremedi 2 kali”. Setiap akhir semester, anak-anak pulang ke rumah membawa buku laporan. Sebagian besar tiba dengan muka sedih dan pucat. Sudah pasti telinga-telinga mereka segera mendengar kata-kata mutiara:
“Dasar beleng! (bodoh)”. “Kamu memang malas!”. “Bikin malu, bawa rapor jelekmu ini ke mamamu. Biar dia yang tanda tangan!”

“Sini kunci motormu, tidak ada gunanya!”

Mungkin sudah saatnya kita mereview makna dan tujuan evaluasi. Tujuan utama evaluasi sebaiknya tidak berorientasi pada pemberian nilai atau angka-angka, tapi bagaimana evaluasi itu menjadi alat bantu bagi guru untuk mengantarkan anak mencapai proses pendewasaan dengan baik. Sehingga kemajuan dalam sikap, tingkah laku, dan pola pikir yang ditunjukkan anak, perlu diperhatikan dalam proses penilaian. Lebih jauh lagi, superioritas pendidik yang merasa tidak pernah salah perlu ditinjau ulang. Bahwa evaluasi pada dasarnya adalah suatu kegiatan untuk menilai sejauh mana kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Dengan demikian kegunaan evaluasi tidak sekedar menjadi acuan untuk melakukan remedi dan pengayaan, tapi seyogyanya menjadi bahan analisis bagi guru untuk menemukan kekurangan-kekurangan dalam proses pembelajaran dan memperbaikinya ke depan.

——- Tuan Guru ——-

Artikel Terkait
•  Eksistensi “Guru Sufi” di Dunia Pendidikan
•  Potret Gaya Mengajar Guru
•  Malpraktik di Dunia Pendidikan
  Masih Perlukah Diadakan Rapat Kenaikan Kelas?
  Kapan Guru Menjadi “Guru Dewasa”?
  Guru Tidak Bermutu adalah Penikmat Kezaliman
  Sekolah “Palsu” Pembuat “Ijazah Palsu”
  Majas + Bisa = Majas Berbisa
•  Merumuskan Aspek EQ dan SQ dalam Tujuan Pembelajaran
  Renungan; Jika Ingin Sehat Harus Punya Banyak Uang
  Peran Guru Sebagai Pembangun Insan Cendekia
  Ucapan “Alhamdulillah” yang Menyakitkan Hati
  Fakir adalah Orang Paling Kaya
  Ramadhan = Ujian Kenaikan Kelas
  Aku Dipuji, Aku Tertipu !