Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Ekspansi Jepang ke Cina | Tuan Guru

Setelah Restorasi Meiji (1868), Jepang kemudian tumbuh dan berkembang pesat menjadi negara besar dan modern hingga ditakuti dunia, terutama negara-negara imperialis Barat. Namun di balik kemajuan itu Jepang menghadapi masalah-masalah dalam negeri yang cukup pelik. Kepadatan penduduk, pembatasan imigras bangsa Jepang yang dijalankan oleh negara-negara lain, industrialisasi dan sebagainya telah mendorong Jepang tumbuh menjadi negara imperialis di Asia.

Setelah berhasil mencaplok Manchuria (1932), rencana Tanaka untuk menguasai Cina terus dijalankan. Peluang untuk melancarkan serangan ke Cina cukup besar, karena Jepang telah menguasai wilayah Cina Utara dan mendirikan pemerintahan otonomi di wilayah tersebut.

Seperti pada peristiwa Mukden di Manchuria, maka Jepang juga menciptakan insiden sebagai alasan untuk memasuki Cina, dikenal dengan “insiden jembatan Marco Polo”. Insiden ini ditandai dengan suatu pertempuran kecil antara tentara Jepang dengan Cina di Lukouchio, sekitar jembatan Marco Polo pada tanggal 7 Juli 1937. Peristiwa ini disebabkan pada tanggal 6 Juli malam tentara Jepang mengadakan patroli di Wanping, sebelah selatan Peking. Mereka menuduh bahwa pasukannya telah ditembak oleh pasukan Cina di Wanping.1) Insiden ini merupakan peristiwa yang sudah dipersiapkan jauh sebelumnya oleh militeris Jepang yang menganut politik ekspansionis.

Insiden ini kemudian berkembang menjadi perang antara Cina dan Jepang. Dalam pertempuran tersebut kekuatan militer Jepang kembali membuktikan keunggulannya. Bekas ibukota Peking direbut, demikian pula kota pelabuhan Shanghai, selanjutnya berhasil menduduki ibukota Nanking, sehingga ibukota Cina dipindahkan ke Chungking. Selanjutnya kota-kota besar lainnya, seperti Hankow dan Kanton berhasil direbut pula.

Perang Cina-Jepang pada garis besarnya dapat dibagi atas tiga fase, yakni:

  1. Pada tahap I, yakni antara bulan Juli sampai Desember 1937, tentara Jepang bergerak cepat menduduki posisi utama Cina Utara dan merebut ibukota Nanking. Jatuhnya Nanking diharapkan melumpuhkan pertahanan Cina dan segera mengakhiri perang. Akan tetapi Chiang Kai-shek segera memindahkan ibukota ke Hankow dan bertahan di sana.
  2. Tahap II, operasi Jepang diarahkan untuk merebut Hankow dan Kanton. Kota tersebut jatuh dalam bulan Oktober 1938. Tetapi kembali Chiang memindahkan ibukota ke Chungking.
  3. Fase III, pihak Jepang menemui jalan buntu. Tentara Jepang tidak dapat menundukkan pasukan Cina yang mengadakan perlawanan secara gerilya. Sesudah tahun 1938, Jepang menduduki kota-kota besar serta jalur kereta api di Cina, akan tetapi secara sporadis pertempuran kecil dengan gerilyawan Cina yang menguasai daerah pedalaman tetap terjadi.2)

Sementara itu Amerika Serikat mengalami dilema, di satu sisi Amerika akan sangat rugi kalau Jepang sampai menguasai seluruh Tiongkok, namun tentu saja mereka tidak ingin terjun ke kancah perang semata-mata untuk menolong Cina. Tindakan yang dapat diambil hanya melalui jalur diplomatik. Tetapi ketika Jepang dipanaggil untuk bersidang pada Konferensi Brussel guna mengakhiri perang di Cina, Jepang tidak mau hadir dengan alasan bahwa insiden Cina itu semata-mata urusan Jepang dan tak boleh dicampuri oleh negara-negara Barat.

Walaupun Amerika Serikat tidak terjun langsung dalam peperangan di Cina, namun bantuannya (juga Inggris) melalui “Jalan Birma” (Burma Road) menjadi salah satu faktor penyebab kegagalan Jepang menguasai Cina. Mengenai bantuan Amerika di Cina, Munadjat Danusaputro mencatat sebagai berikut:

Kekuatan perang Cina telah hijrah ke arah Barat dengan pusat pemerintahan di chungking. Untuk menghubungkan Chungking dengan daerah pantai di selatan, dibuatlah “Jalan Birma” dari Kunming di Barat-daya Cina, melintasi Himalaya menuju Lashio di Birma Utara. Untuk membantu Cina Amerika telah membentuk kekuatan pengebom di wilayah Barat-daya Cina di bawah pimpinan Jenderal Stilwell, yang selalu mendaptkan logistiknya melalui udara melintasi Himalaya atau melalui “Jalan Birma” tersebut.3)

Akhirnya Jepang hanya mampu dan berhasil menduduki daerah-daerah pantai (Cina Lautan), beberapa lapangan udara dan jalur kereta api, akan tetapi gagal menguasai Cina daratan yang sangat luas itu. Jepang terjebak dalam perang lama yang mengikat kekuatan militernya di Cina hingga Perang Dunia II berlangsung. Daftar Referensi:
1)   C.P. Fitzgerald, 1973. Intisari Sejarah Asia Timor. Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian       Pelajaran Malaysia, hal. 250

2)   John Whitney Hall, 1968. Japan From Prehistory to Modern Times. Tokyo: Charles F. Tuttle

      Company, hal. 333-334

3)   Munadjat Danusaputro, 1984. Astra-Jaya (Asia Tenggara dalam Jalan Silang Dunia). Jakarta:

      Binacipta, hal. 51 Artikel Terkait dengan Sejarah
•  Pengertian Humanisme
•  Pengertian Sejarah
•  Awal Perkembangan Islam di Cina
•  Asas dan Bentuk Perjuangan Organisasi Perhimpunan Indonesia
•  Pengaruh Sumpah Pemuda terhadap Pergerakan Nasional Indonesia
•  Sejarah Singkat Sumpah Pemuda
•  Praktek Kolonial Daendels dan Raffles
•  Als ik eens Nederlander was (Andaikata Aku Seorang Belanda)
•  Dampak Positif dan Negatif Pendudukan Jepang di Indonesia
•  Peranan KTN dalam Penyelesaian Sengketa Indonesia Belanda
•  Alasan RI Menerima Persetujuan Linggarjati
•  Sejarah Singkat Perguruan Taman Siswa
•  Perkembangan Pers di Indonesia Hingga Terbentuknya Pers Nasional
•  Perjuangan Melalui Volksraad
•  Sifat dan Strategi Perjuangan Organisasi Pergerakan Nasional pada Periode Bertahan
•  Tindakan Pemerintah Hindia Belanda Terhadap Organisasi Pergerakan Radikal
•  Kegagalan Jepang Menguasai Cina
•  Memori Baron Tanaka
•  Serangan Jepang terhadap Pearl Harbour
•  Sikap Kaum Pergerakan Menghadapi Kedatangan Jepang